Gunungkidul, Potensi di Balik Keterhimpitan

Memasuki Gunungkidul serasa memasuki ‘keterbatasan yang kaya’.

Rasa ingin tahu membuncah begitu besar ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali di Yogyakarta, kota istimewa yang dari lama sudah mimpi untuk kudatangi. Tak kusangka kesempatan datang dengan latar belakang menarik yaitu menjadi salah seorang pen #JelajahGizi dari Nutrisi Bangsa. Tujuan kami satu : Gunungkidul.

Sepuluh orang blogger yang terpilih untuk ikut menjelajah didapatkan dari mereka yang mengirimkan artikel tentang makanan khas unik dari tempat asal. Aku terpilih dengan membahas sebuah makanan yang sangat penting bagi masyarakat Nusa Lembongan kala masih kekurangan bahan, yaitu bubur Komak. Selain blogger juga ada peserta dari media lokal dan nasional. Merasa sangat senang karena mendapatkan kesempatan ini, akupun menyimak dengan seksama mengapa Gunungkidul menjadi tujuan kami menjelajah.

Gunungkidul dulunya sempat kekurangan makanan, banyak penyakit yang akhirnya berkembang seperti busung lapar,” tutur Arif Mujaidin dari Sari Husada selaku Head of Corporate Affairs. Arif – sapaan akrabnya juga menuturkan kekagumannya pada masyarakat Gunungkidul karena kekurangan makanan tidak malah membuat mereka putus asa namun mencari jalan keluar dengan menemukan bahan makanan lain, yang malah sangat unik dan kreatif.

satu paket lengkap di Pari Gogo. foto : linapw

Bahan makanan yang dikembangkan masyarakat Gunungkidul ternyata tidak hanya mengenyangkan perut, namun juga sarat gizi. Itu juga menjadi salah satu alasan utama mengapa Gunungkidul menjadi daerah jelajahan kami dalam #JelajahGizi. Di Pari Gogo misalnya, kami disuguhkan makanan lokal Gunungkidul yang dulu menjadi makanan utama dan sangat penting bagi masyarakat. Disini kami mencoba nasi beras merah, sayur lombok ijo, daun singkong olahan, urab, ayam kampung dan belalang.

Beras Merah kaya serat dan vitamin bagus untuk metabolisme tubuh. Sedangkan Belalang kaya protein,” jelas Prof. Ahmad Sulaeman, ahli gizi yang sengaja menemani perjalanan kami. Beliau menjabarkan segala manfaat yang terkandung dalam berbagai makanan yang kami cobai. Ketika sebagian peserta mulai menunjukkan tampang ngeri dan geli melihat Belalang goreng, Prof. Ahmad malah tertawa sambil langsung melahap Belalang-belalang tersebut. Membuat peserta lain dengan sigap mencobanya juga, sebagian tentu memang sangat penasaran dengan rasa Belalang goreng itu.

Selain Pari Gogo yang kami cobai dengan rasa lapar tingkat tinggi, kami juga mendatangi beberapa spot lokal yang sangat penting dalam perkembangan Gunungkidul. Desa Sambirejo, dimana Bidan Liestyani Ritawati berinisiatif membuat sumur bor demi mempermudah pasokan air bersih, juga menjadi tujuan kami. Selain menyerap inspirasi dari Bidan Lies, sapaan akrabnya, kami juga dikagetkan dengan aktifnya gerakan PKK di sini, dimana kami disuguhkan berbagai olahan dari ubi ungu dari kripik, es krim hingga mini pao buatan ibu-ibu desa.

Kami ingin memperlihatkan berbagai potensi yang dimiliki Gunungkidul, yang memang sangat beragam,” ujar Arif lagi menerangkan dengan bersemangat betapa Gunungkidul memiliki banyak hal yang menarik dengan segala keterbatasannya. Selain desa Sambirejo, para peserta juga diajak menjelajah desa kreatif bertajuk Bobung dimana kita dapat menemui para pengrajin topeng batik dan kerajinan-kerajinan lain khas daerah Gunungkidul dan Yogyakarta.

Games juga satu hal yang tidak lepas dari kegiatan ini. Blusukan di pasar Argosari sambil berkenalan dengan jajanan lokal dengan kedok berburu makanan berhadiah jadi salah satu kegiatan paling berkesan. Kami dibagi menjadi beberapa tim dan berburu jajanan, di akhir acara akan ditentukan siapa pemenangnya dan mendapatkan hadiah. Tak ayal semua peserta sangat bersemangat mengikuti permainan ini. Tak mau bermusuhan dengan teknologi, panitia juga menggelar kontes live tweet, dimana peserta melaporkan apa yang mereka lakukan via twitter untuk memberikan informasi lebih luas lagi mengenai Jelajah Gizi.

para peserta narsis di Pari Gogo. foto : panitia

Masih ada makanan khas Gunungkidul : Thiwul dan Ghatot, makanan olahan singkong ini juga menjadi makanan pokok saat kekurangan makanan terjadi di sini. Kini tak hanya sebagai makanan pokok saat kurang makanan, Thiwul dan Ghatot menjadi salah satu oleh-oleh incaran tiap pengunjung dari Gunungkidul. Tidak hanya belajar sambil menjelajah gizi makanan Gunungkidul, kami juga menikmati keindahan alam di pantai Indrayanti sambil menikmati matahari terbenam dengan seluruh peserta. Kebersamaan yang sederhana.

Asyik sekali acaranya, selain banyak makanan juga banyak informasinya,” kata Hanum, peserta termuda dari Semarang, yang juga kawan sekamarku sambil tersenyum. Jelas sekali terpancar kegembiraan di wajahnya. Mungkin wajahkupun menampilkan ekspresi serupa. Gunungkidul dulu memang serba terbatas, namun kini, ia bangkit dan dapat menjadi sangat ‘kaya’ di tengah keterhimpitan tersebut. Sebuah pelajaran berharga dari tempat yang sangat menginspirasi, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *