Catatan Kuliner : Mengenali Kearifan Lokal Gunungkidul

Kearifan lokal bisa diresapi darimana saja. Termasuk kulinernya.

Bus yang kami tumpangin berbelok belok sigap di jalan raya yang kondisinya cukup menantang. Sesekali berdebum ringan saat melewati jalanan yang tidak datar. Hempasan-hempasan kecil saat berkelok beberapa kali kami lalui. Semua itu tak menyurutkan ketertarikan kami untuk mencoba berbagai kuliner khas Gunungkidul dalam Jelajah Gizi lalu.

“Kuliner-kuliner ini merupakan kearifan lokal Gunungkidul,” tutur Prof. Sulaeman sambil menunjukkan Belalang goreng pada peserta Jelajah Gizi. Kontan beberapa peserta mengerang dengan paras tak bisa digambarkan, campuran antara jijik dan geli. Tapi itu hanya awalnya. Begitu Prof. Sulaeman menjelaskan kandungan gizi yang dimiliki Belalang goreng, semua peserta sontak mencoba hidangan pengganti protein khas Gunungkidul ini.

Belalang Gunungkidul. foto : linapw

Belalang tercatat memiliki protein yang ternyata tidak kalah dengan protein daging Sapi. Kulitnya yang setelah diolah menjadi sangat renyah mirip dengan kulit udang yang memiliki laktosan dan baik untuk pencernaan. Memakannya juga tidak terlalu mengerikan bahkan rasanya enak. Olahan Belalang di Gunungkidul cukup sederhana, hanya diberi bumbu bawang putih dan digoreng, ada juga yang dibacem kalau mau lebih manis.

Selain Belalang, di desa Sambirejo dimana air cukup sulit didapat, kita bisa mencoba kuliner unik olahan Ubi Ungu. Mengapa unik? Ibu-ibu PKK desa ini dengan alasan menjaga kesehatan anak mereka membuat es krim dari Ubi Ungu. Es krim dengan warna menarik ini selain penuh serat, juga mengandung anti oksidan, protein dan prebiotik penting yang baik untuk pencernaan. Campuran santannya sendiri sangat berguna untuk mengubah beta karoten menjadi vitamin A tinggi yang nantinya dimanfaatkan tubuh sebagai energi. Bila kita berniat membuatnya sendiri di rumah, pastikan ubi benar-benar matang agar tidak timbul gas-gas tidak diinginkan.

Thiwul dan Ghatot. foto : linapw

Dua makanan itu saja sudah membuat kami, para peserta berdecak kagum dengan beragamnya makanan di Gunungkidul. Namun ternyata selain dua makanan itu, ada lagi makanan yang tak kalah lokal bila bicara kearifan di Gunungkidul : Thiwul dan Ghatot. Kedua makanan dari Singkong ini sangat populer di Gunungkidul. Tak perlu heran, karena memang keduanya merupakan makanan penyambung hidup masyarakat Gunungkidul saat kekurangan bahan makanan melanda.

dapur tradisional Yu Tum. foto : linapw

Karena bahannya dari Singkong yang telah difermentasi, kandungan karbohidrat dalam makanan ini selain membantu mengenyangkan, juga memenuhi kebutuhan karbohidrat tubuh. Tentu energi menjadi hasil akhir yang menyehatkan. Uniknya di dapur Yu Tum, tempat kami mencoba Thiwul dan Ghatot, penggunaan tungku diakui pemiliknya sangat berpengaruh dalam rasa makanan dan sudah dipraktekkan sejak tahun 1985. Karena itulah hasilnya tetap sama dan selalu enak. Penyajiannya di taburi kelapa parut saja. Thiwul memiliki rasa serupa kue Putu namun dengan adonan lebih kasar, sedangkan Ghatot terasa lebih manis karena gula yang digunakan lebih banyak. Kini Thiwul dan Ghatot menjadi oleh-oleh khas Gunungkidul.

Kearifan-kearifan lokal Gunungkidul dari segi kuliner ternyata sangatlah beragam. Semuanya dimulai dari mencari alternatif pengganjal perut lapar yang ternyata malah menarik dan bertahan hingga kini. nyam nyam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *