Mencapai Maratua

Maratua. Sudah kudengar nama pulau ini sejak buku besutan Ahmad Yunus dan Farid Gaban berjudul Meraba Indonesia muncul. Dengan rakus aku membeli dan membacanya. Dengan rakus pula aku melahap gambar dan visual yang mereka sisipkan dalam buku itu. Aku mereguk mimpi-mimpi petualangan menyusuri Indonesia. Aku menyesap asinnya laut, putihnya pasir pantai, kenyal ikan tangkapan Nelayan,

Continue reading Mencapai Maratua

Wisata Makam Toraja, Dari Gua Romeo Juliet Sampai Pohon Besar Anak

Bosan dengan pantai? Mari sejenak lepas penat di pegunungan. Kabut yang turun di pagi hari, udara yang relatif sejuk, dan jalanan menanjak menantang adrenalin barulah sedikit dari bejibun pengalaman yang bisa kita rasakan. Seperti juga yang kudapatkan di Tana Toraja. Daerah yang letaknya di tengah perbukitan ini bisa ditempuh selama 8 jam perjalanan dengan bus

Continue reading Wisata Makam Toraja, Dari Gua Romeo Juliet Sampai Pohon Besar Anak

“Sholat di Pura Dulu, Ya!”

Petang temaram di dusun, semburat ungu muda dan tua mewarnai langit. Adzan magrib sudah memanggil, beberapa orang dengan songkok dan mukena berjalan pelahan menuju masjid. Letaknya tak jauh, hanya beberapa puluh langkah dari rumah. Beberapa orang baru menuruni tangga kayu rumahnya. Juga menuju masjid. Kakek memasang songkoknya dan mengancingkan batik halus yang membungkus tubuh atasnya,

Continue reading “Sholat di Pura Dulu, Ya!”

Cumi yang Nikmat, Berkuah Hitam Pekat

squid sketchSuatu sore aku dikejutkan dengan sebuah mangkok. Di meja makan. Mangkok dengan kuah hitam pekat dan bau yang menggugah air liur untuk berimajinasi.

Tumben. Pikirku. Beberapa bulan aku tinggal di Manyamba, sebuah desa di Majene, Sulawesi Barat untuk mengajar, baru sore ini aku melihat mangkok dengan kuah hitam pekat dan bau nikmat ini. Sambil menunggu kakek ‘baca’baca’ (istilah sini buat berdoa), aku mulai bisa memperjelas penglihatan perutku tentang isi mangkok tersebut. Isinya Cumi-cumi! Selesai kakek baca-baca, kami pun makan dengan lahap.

Ini terjadi di suatu sore, pada akhir bulan Mei. Dan terjadi lagi keesokan harinya, keesokan harinya dan keesokan harinya. Kurang lebih selama seminggu aku makan Cumi-cumi nikmat dengan kuah hitam pekat. Ternyata para Cumi ini memang sedang membanjiri perairan kami. Tak heran ibu angkatku memasak Cumi-cumi hampir tiap hari. Seperti di surga rasanya :p

Para penangkap Cumi biasa berasal dari nelayan yang tinggal di sekitar pesisir (yaiyalah!). Daerah Karema kerap menjadi tempat berkumpulnya Cumi-cumi hasil tangkapan nelayan. Karena salah satu tetangga ada yang asalnya dari Karema, maka kami pun pergi ke Karema di suatu hari yang penuh Cumi. Maksud dan tujuan kami jelas – memakan Cumi dan menambah kadar kolesterol dalam darah.

Puluhan Cumi-cumi dibakar dengan perapian alami dari bambu, memasaknya butuh waktu cukup lama sekitar 30 menit, tapi penantian itu sangat tidak masalah dengan kenikmatannya, Cumi-cumi bakar dengan bumbu pedas limau. Hap hap hap! Makan jangan bersuara!

Selain di Karema, kami biasa mendapatkan Cumi-cumi pada hari pasar (dua kali seminggu). Kadang-kadang bahkan ada anak nelayan yang keliling kampung jualan Cumi-cumi. Harganya? Cuma sepuluh rebu untuk tujuh ekor seukuran telapak tangan orang dewasa. Nyammm….

Banjir Cumi-cumi kurasakan di akhir bulan Mei dan selama bulan Juni. Tapi di bulan Juli pun kami masih sering mengunyah tentakel-tentakel kenyal Cumi-cumi. Ah… aku jatuh hati. Pada Cumi-cumi yang mengisi tiap hariku di Majene.