Perjalanan Numpang Sofa Mobil #2

Kisah keduaku nebeng di sofa orang berbekal akun Couch Surfing juga terjadi di Lawrence, Kansas. Saat itu aku berkesempatan untuk belajar bahasa Inggris selama dua bulan di University of Kansas dan jelas bagiku ini adalah saat jalan jalan dan membuka wawasan lebih jauh lagi. Kali ini aku tidak mengirimkan pesan dulu, tapi aku posting pertanyaan seputar apa saja kegiatan alam yang bisa dilakukan di grup Lawrence.

Beberapa orang membalas pertanyaanku dan beberapa lagi cukup informatif dengan memberiku tautan yang sangat berguna. Namun salah satu yang sangat aktif memberiku informasi adalah Myre. Jelaslah bagiku untuk menghubunginya, dan saat aku menghubunginya ia sangat –sangat sangat bersemangat mengajakku jalan, lalu kami mengatur waktu untuk bepergian bersama, uhuuuy.

Pagi 17 Juni lalu aku ada jadwal bersama Myre untuk jalan. Myre adalah seorang kawan yang kutemui di CS. Seperti Daniel, akupun baru pertama kali bertemu dengannya. Dari saran dan komentarnya di grup sepertinya ia tahu banyak dan cukup asyik diajak jalan. Well, kita cari tahu hari ini.

Ia menjemputku di Hash, dan kami berkendara ke Dog Park dekat Clinton Lake. Myre lulusan sekolah grafis dan sekarang bekerja sebagai freelance membuat video game dan kerjaan-kerjaan lainnya. Ia cukup asyik dan banyak punya cerita. Satu hal yang unik adalah ia belajar juggling. Katanya ia ingin bekerja di sirkus dan sedang benar-benar berusaha untuk itu.  Dan ia suka hiking juga tahu tempat-tempat menyenangkan di Lawrence yang gedungnya sedikit. Haha, sepertinya aku membutuhkan itu memang. Kami trekking cukup lama dan mencoba jalur baru, malah kami juga mencoba-coba jalur baru untuk tembus di jalan keluar lainnya.

Dog park cukup luas, dan banyak pohon memang, juga ada lapangan luas yang ada hibilnya (jerami yang diputar-putar sampai besar). Kami bermain-main di sekitar sungai kecil dan aku mengambil beberapa foto. Kami juga menyebrang melewati sungai yang dangkal (sangat) dan berbatu lumut. Sesampainya di seberang, Myre melihat keluarga besar ular sedang meringkuk di salah satu gua batu di bagian bawah sungai. Ada kali 4-7 ular di sana, dan mereka semua sadar. Aku kembali mengambil foto.

Saat makan siang kamipun kembali ke dormku. Sungguh seharian yang menyenangkan dengan Myre! Dan CS memang sungguh membantu proses berjejaring ini. Selamat mencoba 🙂

 

 

Perjalanan Menumpang Sofa Mobil #1

Sudah lama deh rasanya update tentang perjalanan ke Kansas. Catatan perjalanannya banyak, cuma banyakan curhat isinya, dan mungkin akan membosankan kalau dibagi di sini. Jadi dalam sesi pemilahan, adalah sebuah cerita tentang Couch Surfing yang akan aku bagi disini, terkait juga dengan gelaran CSI festival 2012 yak, kali aja dapet tas Eiger gituuu kaan (ngarep) ;).

 

Sebelum berangkat ke Kansas, jelas keinginan untuk tahu seluk beluk dunia yang lain itu sangat besar. Kapan lagi dapet kesempatan maen ke belahan dunia lain dan jalan jalan sore di sana. Hanya saja pasti akan ada kendala di transportasi atau pengetahuan lokal tentang daerah itu. Dan pikiran akhirnya jatuh pada Couch Surfing, yang demi kesehatan jari mari kita singkat dengan CS. Sebuah situs pertemanan orang-orang doyan jalan yang diperkenalkan oleh kawanku Amelia tahun lalu. Waktu itu aku buru-buru bikin akun dan tak terlalu sempat mengurusi, tapi saat akan berangkat ke Kansas, mulailah gerilya berteman dengan berbagai macam orang dimulai. Aku mencari-cari orang-orang yang sepertinya asyik untuk diajak jalan. Secara tempatku menghabiskan dua bulan belajar bahasa di Kansas adalah University of Kansas yang notabene terletak di daerah kecil berjudul Lawrence.

Aku sudah mengirimkan message ke beberapa orang yang sepertinya asyik diajak nongkrong. Dan jadilah akhirnya aku bertemu orang pertama, Daniel Steinmann, seorang pria yang berasal dari Swiss. Ia seorang peneliti dan bekerja di University of Kansas. Awalnya agak takut juga, akhirnya aku memberanikan diri untuk bepergian bersama, dan benar, baik-baik saja. Ia menjemputku di dorm dan mengajakku ke Clinton Lake, sebuah danau yang sangat besar di Lawrence, karena di Lawrence tidak ada laut, yah perjalanan kali ini sangat menghibur, setidaknya aku lihat air!

Clinton Lake terletak cukup jauh dari tempatku tinggal, dan parahnya tidak ada bus yang menuju kesana. Entah karena memang tidak ada atau karena summer banyak kegiatan yang ditiadakan, bukan tidak mungkin transportasi menuju Clinton Lake juga ‘diistirahatkan’. Jadilah kami berkendara sekitar 30 menit melewati jalanan yang kanan kirinya perkebunan gandum. Sampailah kami pada salah satu pemberhentian Clinton lake. Di sana kami harus memulai trekking sekitar 15 menit melewati hamparan kayu dan hutan mini yang aku yakin semuanya manmade. Kami ngobrol mengenai beberapa hal dan akhirnya sampai di pinggir danau. Meski keinginan berenang sangat tinggi, aku tidak membawa baju dan menumpang di sofa mobil orang, jadilah aku kalem kalem aja dan berusaha menikmati pemandangan senikmat mungkin. Clinton Lake ini sendiri merupakan bendungan dan dulunya bekas markas US Army di Lawrence. Tidak heran kalau kita bisa melihat pos-pos tak bertuan. Danau ini menjadi ruangan rekreasi vital masyarakat Lawrence, Kansas.

Daniel kerap memberikan beberapa masukan kalau semisal mau jalan-jalan di daerah Lawrence.  Ia sendiri mengakui kalau di Lawrence memang tidak terlalu banyak yang bisa dilihat. Tidak seperti di Switzerland, Negara asalnya atau di Indonesia, asalku. Dan memang benar adanya, karena aku juga sudah sempat browsing dan ngobrol-ngobrol dengan penduduk di Lawrence. Namun beberapa hal yang bisa dinikmati dari segi alam ataupun untuk trekking di sini yah sekitaran Clinton Lake saja. Di sana sini ada kawasan semak-semak mini dimana kita bisa menikmati pepohonan dan BBQ-an dengan kawan-kawan. Ia juga memberikan beberapa masukan khususnya untuk menikmati downtown Lawrence di saat summer seperti ini.

Sejauh ini menemukan kawan jalan di CS sangat berguna dalam menambah jejaring pertemanan baru bagi mereka yang suka jalan khususnya dan untuk menambah informasi (serta tebengan) saat kita berada di tempat yang sama sekali baru. Selain itu beberapa member yang aku temui memang sangat terbuka dan asyik diajak jalan. Jadi, sudahkan kalian mencobai CS sampai hari ini?

Rujak Bali, Cita Rasa Baru Olahan Buah

Banyak cara mengolah buah, seperti banyak juga cara ke menuju Roma. Semuanya jelas demi kenikmatan baru dalam menikmati buah. Buah biasa dijadikan jus, salad, ataupun dimakan langsung tanpa diolah lagi. Di Bali, buah biasa diolah menjadi rujak, sebuah makanan berbahan dasar buah dengan bumbu pedas atau manis.

Kalau kita berjalan-jalan di Bali, masih banyak bisa ditemui warung-warung pedagang rujak berjajar di pinggir jalan. Salah satu ciri khasnya adalah adanya ulekan di warung tersebut. Rujak diolah dengan menambahkan bumbu pada buah-buahan tersebut. Buahnya pun beragam, namun yang biasa ditemui Mangga muda, Pepaya muda, Nenas, Timun, Kedondong dan Bengkoang.

Buah-buahan itu akan dipotong kecil-kecil atau diiris sedemikian rupa agar mudah dimakan. Pilihan bumbunya ada beberapa juga, yaitu rujak kuah pindang, gula bali atau cuka. Bumbu dasarnya terasi, garam dan Lombok secukupnya, barulah bila ingin ditambahkan penikmat lain seperti kuah pindang untuk rasa gurih, gula bali untuk rasa manis atau cuka untuk rasa kecut.

Penikmat rujakpun beragam, dari tua hingga muda, anak sekolahan hingga ibu rumah tangga. Tak jarang terlihat wisatawan mencoba rujak karena memperhatikan nikmatnya warga Bali memakan olahan buah yang satu ini. Rasa gurih dari kuah pindang tentu menimbulkan pertanyaan di kepala demikian juga rasa unik yang ditimbulkan cuka.  Sedangkan rasa pedas itu sesuai dengan permintaan sendiri.

Mencari aman, para wisatawan baik lokal dan asing biasa memesan rujak dengan bumbu gula bali yang manis. Dengan bumbu ini mereka dapat mencoba rujak tanpa takut kaget dengan bumbu lain karena tidak biasa dengan rasanya. Bagaimana? Siap mencobai olahan buah khas Bali ini?

Perjalanan

Tanggal 28 pun tiba, setelah makan dengan sarapan yang rasanya kurang jelas, aku beberes dan bersiap check out dari hotel pertama menuju ke hotel transit di bandara. Kawan sekamarku, Laila asal Jember, ternyata pembagian kamar juga adalah pembagian back up buddy dimana kita harus masing-masing tahu apa yg sedang dan akan dilakukan kawan kita itu. Istilahnya pasangan begitu.

Di hotel transit kami mendapatkan briefing gambaran bagaimana kira-kira perjalanan kami akan berlangsung. Lanjut dengan pengecekan bagasi. Aku bersyukur tidak terlalu manja dengan makanan (istilah kerennya pemakan apa saja) karena tidak membawa makanan aneh-aneh yang mempunyai kans besar untuk disita. Kawan-kawan lain ada beberapa yang bekalnya tidak boleh ikut. Nisa misalnya karena kebiasaan meminum susu dengan merek tertentu ia membawa sampai 10 renteng sachet susu tersebut dan disita. Laila juga membawa sosis yg kerap menggaet bintang-bintang fenomel untuk jadi bintang iklannya, disita. Jadi aku dengan mie seadanya dan sambel yang sebenarnya kurang tapi mau apa lagi aman aman saja.

Perjalanan pertama kami adalah Jakarta-Singapura dengan Singapore Airlines, jarak tempuh sekitar dua jam. Di pesawat sebenarnya tidak terlalu terasa karena ada TV kecil tempat kami menonton berbagai hidangan, maksudku hiburan mulai dari tv show, news dan lain-lain.

Di Singapura kami transit hingga subuh. Dari jam 10 kami tiba hingga pukul 3 kami bisa bebas mengeksplor Changi, bandara yang memang keren banget itu menyediakan selain wifi gratis juga beberapa taman untuk disinggahi. Namun karena ada kerjaan yang belum kelar dan firasatku berkata di sana terakhir aku dapat berkoneksi maka aku menghabiskan waktu dengan menyelesaikan pekerjaan dan berinternet sampai puwas pake w!

Perjalanan berlanjut lagi. Kali ini 7 jam di pesawat untuk tiba di Narita, Jepang. Dalam pesawat dingin sekali. Gigi yang baru ditambal mulai sakit, untung sang dokter sangat pengertian membekaliku pain killer yang suskses membuat tidur beberapa saat. Setibanya di Narita kami memiliki waktu tak lama untuk jalan-jalan singkat. Karena kawan-kawan lain pada sholat, aku, Hans dan Zoel memutuskan mencari makan. Masalah pertama adalah uang. Jadilah kami menukarkan rupiah kami ke dalam yen. Seratus ribu mendapatkan 610 yen, lumayan, kami menukar 300 ribu dan menikmati fast food dengan saos tomat karena tak ada sambal di Narita.

Transitnya agak sebentar, setelah mencoba toilet nyanyi yang bersuara seperti orang kumuran saja kamipun harus segera naik pesawat lagi. Kali ini langsung ke Chikago, perjalanannya kurang lebih 11 jam. Huwaah, makanya aku menulis banyak, yah ini dalam pesawat yang cukup membuat tungkai dan bokong pegal.

 

Lina PW, 29 Mei 2012 dalam pesawat yang bergoyang kencang

Saatnya Tiba!

Maklum tulisan agak tersendat karena tugas dan jadwal jalan #eh, tapi ini lanjutan yang kemaren-kemaren kok, enjoy 🙂

Tanggal keberangkatan sudah di depan mata! Wow! Cepat sekali waktu berlalu, packingpun belum. Tapi memang ke excited-an mengalahkan segalanya. Tiba-tiba saja beberapa puluh jam lagi kami akan sampai di Kansas! Wow!

Tanggal 27 Mei aku berangkat ke Jakarta diantar oleh keluarga yang tidak terlalu besar besar dan kawan-kawan, yah kami bikin rusuh di bandaralah intinya. Sesampainya di Jakarta kami dipersilakan untuk mengaso, karena briefing lanjutan, pemeriksaan bagasi dan persiapan lain akan dilakukan keesokan harinya.

Memanfaatkan waktu yang tersisa di tanggal 27 Mei itu, aku berjanji ketemuan dan hang out singkat dengan mbak Eno dan mbak Ayu, kawan yang kutemui dari seorang kawan lain melalui couchsurfing. Mbak Eno dan mbak Ayu memang tinggal di Jakarta, beberapa waktu lalu mereka sempat ke Bali dan kami bertemu, kelanjutannya saat PDO kemarin juga kami bertemu lagi.

Mbak Eno dan mbak Ayu mengantar saya berkeliling mencari tripod, setelah cukup lama menawar, bertanya dan tersenyum penuh arti ke pedagang supaya diberi harga murah, maka kami mendapatkan sebuah tripod yang menurut saya dan mbak Eno cukup ‘ganteng’. Mbak Ayu membantu menawar 🙂

Oh ya, perjalanan ke pusat kota dari hotel dekat bandara relatif mudah. Karena si hotel punya shuttle ke bandara, jadilah aku ke bandara dulu dan melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan Damri, jelas lebih murah dan mudah. Awalnya beberapa kawan berencana ikut namun di akhir cerita dengan berbagai alasan mereka batal dan saya berangkat sendiri. seru juga berpusing di ibukota seorang diri sebelum bertemu dua tante faforitku itu.

Setelah membeli tripod kami mencari sambal terasi, saos dan mie instan. Awalnya sih saya pikir itu tidak terlalu penting. Tapi ternyata meski di sana ada saos dan sambal, jangan harap menemukan kepedasan dan kesegaran seperti sambal-sambal di Indonesia. Kata mbak Ayu dan mbak Eno yang sudah kerap keluar negeri, sambal-sambal merekapun rasanya hambar, karena sudah disesuaikan dengan lidah orang sana. Wah, pikir ku kalau begitu bahaya kesana tanpa senjata, jadilah sambal terasi dan saos serta kecap pedas kukantongi. Malam itu kami tutup dengan makan bersama dan berfoto-foto narsis, hehe, namanya juga anak muda 😛

 

Lina PW

29 Mei 2012, setelah 3,5 berada di atas pesawat menuju Chicago