Saatnya Tiba!

Maklum tulisan agak tersendat karena tugas dan jadwal jalan #eh, tapi ini lanjutan yang kemaren-kemaren kok, enjoy ๐Ÿ™‚

Tanggal keberangkatan sudah di depan mata! Wow! Cepat sekali waktu berlalu, packingpun belum. Tapi memang ke excited-an mengalahkan segalanya. Tiba-tiba saja beberapa puluh jam lagi kami akan sampai di Kansas! Wow!

Tanggal 27 Mei aku berangkat ke Jakarta diantar oleh keluarga yang tidak terlalu besar besar dan kawan-kawan, yah kami bikin rusuh di bandaralah intinya. Sesampainya di Jakarta kami dipersilakan untuk mengaso, karena briefing lanjutan, pemeriksaan bagasi dan persiapan lain akan dilakukan keesokan harinya.

Memanfaatkan waktu yang tersisa di tanggal 27 Mei itu, aku berjanji ketemuan dan hang out singkat dengan mbak Eno dan mbak Ayu, kawan yang kutemui dari seorang kawan lain melalui couchsurfing. Mbak Eno dan mbak Ayu memang tinggal di Jakarta, beberapa waktu lalu mereka sempat ke Bali dan kami bertemu, kelanjutannya saat PDO kemarin juga kami bertemu lagi.

Mbak Eno dan mbak Ayu mengantar saya berkeliling mencari tripod, setelah cukup lama menawar, bertanya dan tersenyum penuh arti ke pedagang supaya diberi harga murah, maka kami mendapatkan sebuah tripod yang menurut saya dan mbak Eno cukup โ€˜gantengโ€™. Mbak Ayu membantu menawar ๐Ÿ™‚

Oh ya, perjalanan ke pusat kota dari hotel dekat bandara relatif mudah. Karena si hotel punya shuttle ke bandara, jadilah aku ke bandara dulu dan melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan Damri, jelas lebih murah dan mudah. Awalnya beberapa kawan berencana ikut namun di akhir cerita dengan berbagai alasan mereka batal dan saya berangkat sendiri. seru juga berpusing di ibukota seorang diri sebelum bertemu dua tante faforitku itu.

Setelah membeli tripod kami mencari sambal terasi, saos dan mie instan. Awalnya sih saya pikir itu tidak terlalu penting. Tapi ternyata meski di sana ada saos dan sambal, jangan harap menemukan kepedasan dan kesegaran seperti sambal-sambal di Indonesia. Kata mbak Ayu dan mbak Eno yang sudah kerap keluar negeri, sambal-sambal merekapun rasanya hambar, karena sudah disesuaikan dengan lidah orang sana. Wah, pikir ku kalau begitu bahaya kesana tanpa senjata, jadilah sambal terasi dan saos serta kecap pedas kukantongi. Malam itu kami tutup dengan makan bersama dan berfoto-foto narsis, hehe, namanya juga anak muda ๐Ÿ˜›

 

Lina PW

29 Mei 2012, setelah 3,5 berada di atas pesawat menuju Chicago

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *