Musim Semi Penyair Alliance Français ke 14, Dari Baca Puisi Hingga Pameran Foto dan Lukisan

Alliance Français (AF) Denpasar, secara berkala mengadakan musim semi penyair. Kali ini dengan tema “Masa Kanak-kanak”, AF menggandeng Sanggar Anak Tangguh dan komunitas foto lubang jarum – Semut Ireng.

seorang anak sedang menikmati lukisan yang dipamerkan

“Musim semi penyair memang diadakan AF untuk memberi apresiasi kepada seniman-seniman Bali khususnya,” ujar Ivy salah satu staff AF. Menurutnya lagi konsep ini sudah dimodifikasi sehingga bisa berkolaborasi dengan Sanggar Anak Tangguh untuk memamerkan lukisan buatan anak-anaknya serta komunitas Semut Ireng yang memamerkan hasil karya anggotanya. 

Konsepnya adalah menuangkan karya sastra dan seni dalam media dan bentuk lain seperti lukisan serta foto, karena akan sulit bila hanya berupa karya sastra yang melulu Prancis, dimana belum banyak yang mengerti. Pembukaan pameran dilakukan dengan kolaborasi apik dari Cok Sawitri yang membacakan puisi tentang masa kanak-kanak diiringi alunan merdu gitar dari Dadang – Vokalis, Gitaris Dialog Dini Hari. Juga tak kalah dimeriahkan oleh pembacaan puisi dari siswa-siswi sekolah internasional Prancis – École Internationale Française de Bali (EIFB).

pameran foto lubang jarum

Pameran akan berlangsung hingga akhir Maret 2012 bertempat di AF Denpasar, Jl Puputan 1 no 13 A, Renon. Jadi kalau berniat kembali ke masa kanak-kanak atau ingin menikmati serta mengapreasiasi hasil karya anak-anak Sanggar Anak Tangguh dan komunitas Semut Ireng, sila langsung menuju ke AF Denpasar.

Uniknya, para pengunjung tak hanya sekedar menikmati hasil karya, namun juga dapat berpartisipasi dalam mural foto. Pengunjung diharapkan membawa foto masa kecilnya untuk dijadikan mural dan juga secara langsung menjadi bagian dari pameran tersebut.

mural foto-foto masa kecil pengunjung

World Silent Day, Medokaran Keliling Kota – Cara Mudah Sejukkan Bumi

Sebelum lanjut tentang perjalanan di Toraja, pengen share sedikit tentang World Silent Day yak 🙂

Kalau Bali punya hari raya Nyepi, yang berlangsung pada 23 Maret 2012, kolaborasi Bali untuk perubahan iklim juga memiliki konsep Nyepi mini yang sudah berlangsung kemarin, 21 Maret 2012.

World Silent Day

Sudah tau kelengkapan ikut WSD kan? Wah belum? hemm… (sok prihatin, eh). Aturannya cukup mudah, hanya mematikan semua alat elektronik, tidak berkendara dan tidak melakukan kegiatan lain yang merusak lingkungan. Dan semua itu dilakukan 4 jam saja, dari pukul 10 pagi hingga 2 siang. Bila jam itu tidak pas dengan jadwal, maka bisa atur jadwal sendiri, yang penting dilakukan selama 4 jam.  Namun tak seperti Nyepi, WSD bisa diisi dengan kreasi masing-masing untuk menjaga lingkungan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, WSD kali ini juga ‘dirayakan’ dengan kegiatan yang cukup unik yaitu medokaran (dokar : kendaraan khas Bali ditarik kuda) berkeliling kota.

WSD medokaran, pic by linapw

 

Medokaran ini dimulai pukul 10 bertempat di pasar Badung, start langsung ke jalan Melati, melewati Puputan hingga akhirnya kembali lagi ke tempat awal. uniknya di setiap tempat yang kami datangi, kami mencatat beberapa hal atau tempat yang unik untuk dicantumkan dalam peta hijau. Karena cukup pelan dan sangat menyenangkan untuk melayangkan pandang ke sekeliling jalan raya, saya yang sedokar dengan mbak Siska dan mbak Lisa bisa leluasa berkomentar dan bercanda tentang tempat yang kami lewati selama perjalanan.

obrolan awal dulu dong yah, biasa 😀

 

Tidak heran dalam perjalanan kami menemukan penginapan yang menurut mbak Lisa dari FFTI, disinggahi kawan bule kami untuk menginap meskipun tempatnya jauh dan nyempil di sebuah pasar (Depan pasar Satriya, di pasar yang nyempil di gang itu), penginapan itu cukup laris, ternyata ianya masuk dalam Lonely Planet, kitab perjalanan backpaker dunia. Timbul banyak pertanyaan sih seperti mengapa bisa ada di sana, mengapa beken, dll, namun karena kami berdokar, dan tempat tak memungkinkan berhenti maka kami simpan dulu pertanyaannya 😉 .

medokaran di tengah kota 😀

 

Di jalan Melati saat berkeliling dengan kaki, kami melihat beberapa rumah tak berpenghuni dan yang mengejutkan adanya suara ngengat mau nikah (eh ngga ding), suara ngengat yang sangat ramai dari salah satu rumah tak berpenghuni itu. Wajar ya, rumahnya sudah ditutupi semak belukar juga. Di puputan pun tak kalah uniknya, kami masuk ke dalam Museum Bali (cukup lengkap sayang sepi) dan di sana sang ibu penjaga malah curhat mengenai sepinya pengunjung dan bagaimana mahasiswa seharusnya nongkrong di museum (eng ing eng…). Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata si ibu adalah kakak kelas jauh saya di kampus (abaikan). Selain itu di sana juga kami bertemu dagang lumpia, internet keliling, orang preweding hingga orang pacaran (eh udah lumrah yah? maaf :P).

 

Akhirnya kami lanjut ke pasar Badung mengakhiri perjalanan dengan dokar hari itu. Dilanjut dengan makan nasi campur bersambal dahsyat di warung pojok Kartini (yumm). Dan bersiap menyumbangkan pohon pada adek-adek yang lahir di tanggal 21 Maret dalam tajuk One Tree, One Child.

 

 

mbak Lisa menunggui seorang bapak mengisi biodata untuk kelengkapan peta hijau

 

Ini aksi kami, mana aksimu? *kompor* 😀

Pemanasan Sebelum Toraja #2

Trans Studio Makassar, Dari Rumah Hantu Sampai Rumah Bolang

 

Sudah baca perjalanan ke Toraja #1? Yah ini lanjutannya saat kami mendarat dan menjejak Makassar (dalam hal ini saya) untuk pertama kalinya. Pendaratannya juga berjalan cukup lancar dan cepat. Akhirnya kami sampai di Makassar, yeay!

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tampak besar dibandingkan bandara di Bali. Dengan karpet di tiap lantainya dan kemegahan ruang yang besar bolehlah disandingkan dengan Changi di Singapura (lantainya doang ya tolong dicatet). Tapi memang dari segi tempat dan kenyamanan berbeda cukup jauhlah. Di bandara ternyata kami sudah ditunggu oleh tantenya Beatrice, dan hap, bermobillah kami menuju Makassar.

“Eh, mumpung disini, ke Trans Studio yuk,” celetuk Beatrice di perjalanan. Mengingat bus kami ke Toraja akan berangkat pukul 8 malam nanti, ide untuk menghabiskan siang di Trans Studio cukup membuat kaki bergelinjang saking semangatnya. Maka jadilah kami diantar ke Trans Studio. Perjalanan cukup panjang dan ternyata kami melewati pantai yang lumayan terkenal di Makassar, pantai Losari. Sayang pantainya sudah tidak indah lagi, airnya sudah coklat dan bangunan-bangunan malang melintang di pinggirnya. Malah pantai yang dekat dengan Trans Studio sudah tidak berbentuk lagi.

Kalau menyimak twitt saya dalam perjalanan ke Trans Studio lalu, pantai ini sudah dipermak habis hingga bangunan dapat berdiri di atasnya, tentu dengan biaya yang tak sedikit dan adanya ekosistem yang akhirnya harus dikorbankan. Meski miris, kami pun tetap menuju Trans studio dan siap menjelajahinya.

Ternyata yang turun di Trans hanya kami, sang bibi sudah pulang ke rumahnya begitu saja. Tak masalah, kami muda dan sedang panas untuk bersenang-senang, maka tancap sajalah. Dengan merogoh kocek 100 rebu rupiah perorang kami sudah bisa menikmati berbagai wahana dalam Trans Studio ini. Masuknya menggunakan kartu prabayar yang bisa diisi ulang kalau-kalau dibutuhkan. Total ada 21 permainan yang bisa dinikmati.

Yang terlihat cukup menantang adalah rumah hantu, bagaimana tidak? Dari awal mengantre di luar, kami sudah disuguhi teriakan-teriakan (yang katanya si Kunti lagi beranak #eh), cukup membuat Beatrice merinding dangdut. Begitu masuk rumah hantu, suasana kelam dan keegelapan menyelimuti, kami diberi sepatah dua patah kata untuk membangun ‘kekelaman’ rumah hantu dan dikagetkan dengan beberapa sosok berkerudung hitam yang berlagak menjadi dementor. Beatrice cukup takut hingga melompati pagar karena kaget dan akhirnya batal ikutan kereta untuk berkeliling rumah hantu. Sepertinya akan menarik kan? Saya tetap menaiki kereta itu dan bersiap dikagetkan dengan kejutan-kejutan lain. Namun kekecewaan meliputi wajah saya (sepertinya) karena dalam rumah hantu yang ada ya hanya display hantu-hantu Indonesia, tidak ada pocong yang tiba-tiba ngasi lollipop, atau kunti yang lagi nyabutin pakunya, atau suster ngesot deh yang lagi ngesot. Jadi yah, begitu saja ternyata.

Wahana lain cukup menarik seperti putar beliung, dimana kita akan diputar-putar, putaaarrr sampai tinggi dan turun lagi, tinggi dan turun lagi, juga ada roller coaster mini yang berakhir di air. Salah satu yang cukup asyik adalah Dragon Tower dimana kita diayun-ayunkan naik turun. Naiknya hingga kita bisa melihat penampakan Trans Studio dari atas dan hati dijamin mencelos saat kita turun dan kaki tak menapak tanah. Lalu ada juga rumah bolang, dimana kita bisa trekking dengan jeep dan main kereta api. Di luar wahana-wahana itu kita juga bisa melihat live music, tarian zombie lengkap dengan Michael Jackson sebagai pimpinan dan bioskop yang menayangkan film-film lokal

*bersambung 😛

 

Perjalanan Serba Kebetulan ke Tana Toraja #1

Tak banyak yang percaya kebetulan yah, saya sendiri sih masih setengah-setengah juga. Tapi perjalanan saya kali ini memang benar-benar bisa dikategorikan kebetulan. Dari awal mula hingga kondisi-kondisi di sekitarnya bisa dibilang serba kebetulan hingga akhirnya menginjakkan kaki di Tana Toraja.

Awalnya rencana perjalanan kali ini bukan ke Toraja, tapi ke Menado. Salah seorang kawan saya yang berasal dari Menado, sebut saja Nike (nama sebenarnya) akan pulang ke Menado demi menghadiri nikahan saudara. Pikir saya daripada tidak kemana-mana apa saya ikut saja, kan lumayan tuh mencoba coba makanan Menado yang katanya memasak apapun. Ide itu disambut baik. Singkat cerita kamipun sudah memegang tiket ke Menado dan dengan sumringah menunggu jadwal keberangkatan (agak lebay sih). Dengan tiket sudah di tangan dan jumlah hari yang cukup lama, rencana berkembang untuk pergi ke Toraja, masih sepulau sih tapi dengan bus bisa dua hari baru nyampe, he. Jadilah keinginan ke Toraja ditangguhkan dulu.

Saya ingin ke Toraja sejak saya tahu ada daerah bernama Toraja dengan sejuta isinya. Memang mulanya hanya penasaran, tapi lama-lama keinginannya memuncak, tapi yah pasrah juga karena jaraknya jauh dari Menado. Beberapa hari sebelum waktu keberangkatan tiba, berita tak enak muncul, keberangkatan kami ke Menado terpaksa batal namun duit tiket dibalikin, entahlah.

Perasaan gamang menggelora, keinginan jalan sudah memuncak. Tiba-tiba teringat seorang kawan yang berasal dari Toraja dan berencana pulang kampung juga. Beatrice (juga nama sebenarnya) yang saya kenal belum lama di sebuah gawean mengabarkan bahwa benar ia akan pulang ke Toraja, dan ia dengan senang hati menampung saya di rumahnya bila saya berencana pergi, ia juga mengiming-imingi saya pergi ke beberapa tempat di Toraja, liurpun menetes, tiket terbeli dan kami berangkat, uyeeeeeeaaahhh 🙂

Kurang lebih ada empat kebetulan dalam seperiode ini : keinginan jalan dan kesempatan yg udah ada tp ternyata batal, dapet kawan yang ternyata asalnya dari Toraja, benar-benar niat ke Toraja dan akhirnya kejadian, si kawan ternyata memang ada niat pulang kampung, ini Toraja – tanah yang dari dulu kuimpikan untuk dijejak, aaah….

 maaf, bukannya narsis tapi inilah penampakan kami saat baru tiba di Makassar 😀

*bersambung

Mengapa belum menulis?

lazziness = nowhere

‘Ck, menulis dong,’ ujar Gde Aryantha Soethama pada saya dalam peluncuran kumpulan essainya yang bertajuk ‘Jangan Mati di Bali’. Ujaran dengan nada bercanda tapi serius ini sudah ratusan kali saya dengar sebenarnya. Tiap bertemu, tiap diskusi bahkan tiap bersalaman. Dan tiap kali ujaran itu terucap, deg… hati saya ngilu seperti diiris pisau lalu ditetesi jeruk nipis, cesss….

Nah hebohnya tidak hanya pak Aryantha yang suka mengetok kepala saya dengan gada, kak Ananta pun sering melakukannya. Kalau ada kasta dalam jenis-jenis kompor dalam hidup, mereka berdua benar-benar berada di tingkat teratas dengan karakternya masing-masing.

Dengan hantaman-hantaman semacam sindiran dan letupan kompor yang sering saya alami, muncullah pertanyaan dalam kepala, Mengapa belum menulis?

Pertanyaan ini muncul setiap saat setiap waktu. Niat hati ingin menulis, eh kemalasan selalu menghampiri. Memang namanya niat kalo cuma disimpan simpan dalam kantong apalagi dalam hati ya cepet banget menguap. Ini saya alami hampir setiap saat. Masalahnya? Apa lagi kalo bukan menunda. Jadi inget lagunya Nosstress, tunda, tunda tunda hingga kau menuua dan tunggu-tunggu tunggu duluuuu. Sayangnya saya tidak mau menunda, tapi belum juga mulai menulis. Jadi maunya apa siiih???

Mari kita telaah lebih lanjut kawan-kawan yang berbahagia! Biasanya ide itu sudah ada, namun oh namun seperti yang disebutkan di atas, malas itu ada di setiap sela jari dan ujung jempol. Belum lagi yang bercokol dalam pikiran hingga ucapan ‘ah sudah sekalimat ini, bolehlah mengaso sebentar’ nah sebentarnya itu bisa seminggu sodara-sodari. Bayangin, jadi cuma sekalimat, eh mengasonya seminggu, apa gak ngesot tuh?

Ketidakproduktifan ini jelas harus dibasmi. Ketokan gada dan sindiran halus hingga bakaran kompor seperti yang saya alami sedikit banyak membakar ingatan akan hobi saya yang sempat terbengkalai, menghantam kemaluan saya, melangkahi kepala saya, menjentikkan kembali semangat saya dan membuat saya bertekad untuk menulis. Menulis lebih banyak lagi, menulis lebih sering lagi, menulis lebih getol lagi. Langkah awal tentu : menulis, langkah kedua dan seterusnya? Menulis lebih banyak lagi.

Karena dalam setiap tulisan seharusnya ada ajakan, maka saya mengajak kawan-kawan untuk mulailah menulis dan lepaskan semua penundaan serta kemalasan di bahu itu. Karena ternyata saya menyadari dengan agak deg-degan bahwa kemalasan itu tak akan membawamu kemanapun. Selamat menulis (#selfmention).