World Silent Day, Medokaran Keliling Kota – Cara Mudah Sejukkan Bumi

Sebelum lanjut tentang perjalanan di Toraja, pengen share sedikit tentang World Silent Day yak πŸ™‚

Kalau Bali punya hari raya Nyepi, yang berlangsung pada 23 Maret 2012, kolaborasi Bali untuk perubahan iklim juga memiliki konsep Nyepi mini yang sudah berlangsung kemarin, 21 Maret 2012.

World Silent Day

Sudah tau kelengkapan ikut WSD kan? Wah belum? hemm… (sok prihatin, eh). Aturannya cukup mudah, hanya mematikan semua alat elektronik, tidak berkendara dan tidak melakukan kegiatan lain yang merusak lingkungan. Dan semua itu dilakukan 4 jam saja, dari pukul 10 pagi hingga 2 siang. Bila jam itu tidak pas dengan jadwal, maka bisa atur jadwal sendiri, yang penting dilakukan selama 4 jam.Β  Namun tak seperti Nyepi, WSD bisa diisi dengan kreasi masing-masing untuk menjaga lingkungan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, WSD kali ini juga ‘dirayakan’ dengan kegiatan yang cukup unik yaitu medokaran (dokar : kendaraan khas Bali ditarik kuda) berkeliling kota.

WSD medokaran, pic by linapw

 

Medokaran ini dimulai pukul 10 bertempat di pasar Badung, start langsung ke jalan Melati, melewati Puputan hingga akhirnya kembali lagi ke tempat awal. uniknya di setiap tempat yang kami datangi, kami mencatat beberapa hal atau tempat yang unik untuk dicantumkan dalam peta hijau. Karena cukup pelan dan sangat menyenangkan untuk melayangkan pandang ke sekeliling jalan raya, saya yang sedokar dengan mbak Siska dan mbak Lisa bisa leluasa berkomentar dan bercanda tentang tempat yang kami lewati selama perjalanan.

obrolan awal dulu dong yah, biasa πŸ˜€

 

Tidak heran dalam perjalanan kami menemukan penginapan yang menurut mbak Lisa dari FFTI, disinggahi kawan bule kami untuk menginap meskipun tempatnya jauh dan nyempil di sebuah pasar (Depan pasar Satriya, di pasar yang nyempil di gang itu), penginapan itu cukup laris, ternyata ianya masuk dalam Lonely Planet, kitab perjalanan backpaker dunia. Timbul banyak pertanyaan sih seperti mengapa bisa ada di sana, mengapa beken, dll, namun karena kami berdokar, dan tempat tak memungkinkan berhenti maka kami simpan dulu pertanyaannya πŸ˜‰ .

medokaran di tengah kota πŸ˜€

 

Di jalan Melati saat berkeliling dengan kaki, kami melihat beberapa rumah tak berpenghuni dan yang mengejutkan adanya suara ngengat mau nikah (eh ngga ding), suara ngengat yang sangat ramai dari salah satu rumah tak berpenghuni itu. Wajar ya, rumahnya sudah ditutupi semak belukar juga. Di puputan pun tak kalah uniknya, kami masuk ke dalam Museum Bali (cukup lengkap sayang sepi) dan di sana sang ibu penjaga malah curhat mengenai sepinya pengunjung dan bagaimana mahasiswa seharusnya nongkrong di museum (eng ing eng…). Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata si ibu adalah kakak kelas jauh saya di kampus (abaikan). Selain itu di sana juga kami bertemu dagang lumpia, internet keliling, orang preweding hingga orang pacaran (eh udah lumrah yah? maaf :P).

 

Akhirnya kami lanjut ke pasar Badung mengakhiri perjalanan dengan dokar hari itu. Dilanjut dengan makan nasi campur bersambal dahsyat di warung pojok Kartini (yumm). Dan bersiap menyumbangkan pohon pada adek-adek yang lahir di tanggal 21 Maret dalam tajuk One Tree, One Child.

 

 

mbak Lisa menunggui seorang bapak mengisi biodata untuk kelengkapan peta hijau

 

Ini aksi kami, mana aksimu? *kompor* πŸ˜€

7 Comments

  1. Sepertinya memang sulit deh kalau mau membuat satu kota berhenti beraktivitas jika hanya melalui kampanye WSD. Namun mungkin efektif untuk individu :).

  2. Wah… hebat nih aksinya… World Silent Day memang gerakan yang mulia… Semoga suatu hari nanti bisa benar-benar seluruh dunia Nyepi ya…

    Selamat Nyepi! πŸ™‚

  3. *menjejak secara digital* tulisan dan ide yang menarik sekaligus… saat kita diam sejenak dan berpikir, ada banyak sekali yang bisa kita lakukan… di waktu luang yang semakin berkurang ini (kok malah curhat haha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *