Berburu Babi Guling Dengan Kawan Baru Dari Hawaii

Pengalaman ketiga dan terbaruku dengan Couchsurfing adalah menjadi host untuk kawan baru dari Hawaii. Seperti biasa, ia mengirimiku permintaan menjadi host. Uniknya, si Jason-nama kawan baruku itu memintaku untuk menunjukkan padanya tempat makan makan dan makan. Aku akhirnya ke banyak tempat makan dengan Jason. Namun yang paling mengesankan mungkin saat kami mencari babi guling – makanan khas Bali, pagi-pagi buta.

Pukul setengah 4 pagi, ayam bahkan belum mengeluarkan kokok malu-malunya saat kami berangkat ke sebuah desa untuk mencobai kuliner khas Bali yang sangat termashyur yaitu Babi Guling. Desa Cepaka namanya, letaknya di daerah Kuta Utara-Badung, sekitar 40 menit berkendara di dinginnya malam dari Denpasar, namun itu semua terbayar, kami dapat menyaksikan pembuatan Babi guling dan merasakannya langsung setelah matang! Wow!

Tempatnya sendiri bukan merupakan warung wah yang terlihat dari luar. Sebagaimana rumah khas Bali yang ada beberapa rumah dalam satu halaman, demikian juga tempat ini. Tidak ada tanda orang berjualan di depannya, yang bisa dilihat hanyalah ramainya motor dan mobil parkir di sebuah gang, dan itulah tempatnya. Babi Guling Slingsing orang menyebutnya. Kami memasuki gang gang cukup kecil di subuh hari itu. Ada beberapa rumah yang kami lewati sebelum akhirnya masuk ke ruang makan dan masak mereka.

Ada beberapa meja panjang dan sebuah bale bengong yang dijadikan tempat menikmati babi guling, lengkap dengan tempat duduk panjang, kerupuk dan air mineral gelas. Namun pemandangan yang tak kalah menarik adalah apa yang terjadi di depan meja makan itu. Terlihat beberapa orang yang sibuk memotongi daging-daging Babi yang baru matang. Dan jelas sangat menggoda selera karena kita bisa melihat dengan jelas guratan-guratan daging, lemak dan wanginya minyak yang dikeluarkan. Dua orang ibu sedang negteg daging dan jeroan babi, seorang ibu sedang menggoreng beberapa bagian Babi itu. Dan adalah seorang kakek yang sedang mengguling Babi lain di pojok sana, bagai orang suci saja.

Babi guling Slingsing buka pukul 4 pagi setiap harinya kecuali hari Minggu buka pukul 3, kalau datang lebih dari pukul 6 jangan harap akan merasakan babi guling ini karena biasanya sudah habis oleh pengunjung, dan kalaupun ada sisa akan dijual ke pasar terdekat. Babi guling itu tidak mahal. Untuk yang besar, disebut Bangkung atau induknya, kita cukup membayar 1,5 juta saja. Sedang untuk yang lebih kecil, Kucit, hanya 750 ribu. Tawaran yang cukup menggiurkan apalagi kalau sedang punya hajatan.

Untuk seporsi Babi Guling yang terdiri dari daging babi, lawar merah, urutan manis, usus goreng dan sedikit sayur singkong. Seluruhnya terasa sangat berempah, seperti kebanyakan makanan Bali. Namun jelas ada yang sangat khas dengan Babi Guling satu ini. Urutan manisnya berbeda dengan urutan kebanyakan karena rasanya manis dan teksturnya yang sangat lembut, juga bumbunya yang berempah terasa sangat unik. Lebih membahagiakan lidah dan mata lagi karena Babinya baru matang serta kita bisa melihat langsung bagaimana ia dibuat.

Jason, yang sangat suka babi guling dan memang suka makan sangat menyenangi tempat ini. Ia bahkan berfoto dengan sang pembuat babi guling.

Harga seporsi Babi guling tidaklah terlalu mahal. Untuk pemanjaan lidah dan mata seperti ini, kita hanya perlu merogoh kocek sebesar 18 ribu, dan kenyanglah seluruh panca indera kita. Karena biasanya matahari belumlah muncul saat pulang dari Babi Guling Slingsing, kita bisa lanjut memburu sunrise dan memulai hari dengan lebih bersemangat. Selamat berburu!

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *