Review ‘Harry Potter and the Deathly Hallows’ : Pasang Nyawa Demi Dunia Sihir

Sutradara : David Yates, Ben Hibon (animasi) | Penulis novel : J.K. Rowling | Pemain : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Bonnie Wright, Helena Bonham, dll

Kembali serial Harry Potter mengguncang penikmat fiksi dunia dalam seri terakhir dan juga pamungkasnya. Jelas antrian panjang selalu terpampang saat berniat untuk menonton  film yang saat ini sudah menduduki jajaran box office dalam pekan pertama muncul.

Melanjutkan kisah ke-6nya, Harry Potter and the Deathly Hallows menceritakan bagaimana Harry menyelamatkan dunia sihir pasca kebangkitan Voldemort. Setelah berumur 17 tahun, Harry meninggalkan kediaman keluarga Dudley yang memang juga berniat mengunsi karena malapetaka terhadap muggle (non-penyihir) terjadi dimana-mana. Ternyata musuh memang sudah mengintai. Penyergapan terjadi saat misi penyelamatan dan pernikahan saudara Ron di the Burrow.

Akhirnya Harry, Ron dan Hermione meninggalkan the Burrow untuk mencari sisa 5 horcrux setelah buku harian dan cincin yang sudah dihancurkan sebelumnya. Mereka bahkan menyerbu kementerian sihir yang sudah dikuasai Voldemort karena salah satu horcrux ada disana. Penyerbuan yang menegangkan ini membuat mereka nomaden dan disinilah gejolak dimulai. Keretakan dan kecurigaan timbul dalam kelompok mereka dan menyebabkan Ron pergi. Saat putus asa untuk menghancurkan kalung, secara tidak sengaja Harry dituntun untuk menemukan pedang Griffindor dan Ron kembali bergabung. Mereka memutuskan bertarung hingga akhir dan dunia sihir damai kembali

Malang, mereka akhirnya tertangkap setelah mengunjungi rumah Luna dan dibawa ke tempat pelahap maut. Di saat kritis, Dobby menyelamatkan mereka meski akhirnya sang peri meregang nyawa. Mereka sementara aman hingga menyadari Voldemort mengincar tongkat terhebat seperti yang dijabarkan dalam cerita anak-anak tentang 3 saudara Relikui kematian. Mirisnya, Voldemort sendiri ternyata telah menemukan tongkat tersebut dalam kubur Dumbledore.

Film ini bisa disimpulkan sebagai perpaduan yang sangat mematikan dan juga menegangkan antara cerita yang semakin seru dan kualitas film yang semakin apik. Dari film-film sebelumnya, bisa diakui Harry Potter 7a ini merupakan puncak dari kisah bocah penyihir dalam melawan musuhnya-sang pangeran kegelapan. Adegan adegan yang disuguhkan tak henti terus menerus membawa kita ke puncak ketegangan berliku. Belum lagi penghianatan dan ‘skenario dalam skenario’ di kisah ini.

Dapat dirasakan sang sutradara bekerja keras membangun setting dan plot hingga penonton tetap menajamkan mata saat menonton film. Beberapa adegan bahkan akan membuat kita menahan nafas seperti kemunculan Nagini sebagai Bathilda Bagshot di Godric’s Hollow dan penyergapan para pelahap maut. Efek-efek yang digunakan cukup menggambarkan dunia sihir dengan sangat nyata, misal dalam adegan terbang, polijus, apparate dan kemunculan musuh. Apalagi ditambah animasi cerita 3 saudara relikui kematian, membuat film ini layak diacungi jempol.

Di akhir cerita, saat Voldemort mengambil tongkat sakti dari makam Dumbledore dan film bagian satu berakhir yakin membuat efek dramatis. Bagi sebagian besar penonton, jelas ‘gregetan’ merupakan istilah yang tepat. Beberapa bahkan tidak sabar menunggu sambungannya. Dapat dipastikan bagian ke-2 juga tidak akan kalah sukses dari yang pertama.

Namun tentu saja terdapat perbedaan besar antara film dan novel. Dalam film, kisah ini dibuat sedemikian suram sehingga ketegangan benar-benar terbangun. Meski masih ada sedikit humor, dalam novel beberapa adegan malah cukup menghibur dan lucu yang sayangnya dilewatkan dalam film. Beberapa adegan bahkan dipotong dan dibuat berbeda sama sekali dari novelnya.  Tentu penonton yang berharap detil film paling tidak mengacu pada keseluruhan novel akan menghembuskan nafas kecewa.

Meskipun begitu, secara umum jelas bagian pertama dari seri terakhir Harry Potter ini dapat dikatakan memuaskan para pecinta fiksi, efek dan tentu dunia sihir. Semoga cahaya selalu menerangi Harry dalam upayanya menyelamatkan dunia sihir, Lumos!

Pssst! Yang sudah baca novelnya pasti tahu kalau bagian paling seru ialah mendekati akhir cerita. Termasuk: pembobolan Gringgots, pemberontakan Hogwarts, Naga, raksasa dan pertempuran paling seru dalam dunia sihir! (gamau menjabarkan banyak takut dilemparin tongkat ;P. cheers)

Ber’aksi’ di dunia maya, Menabur Kreatifitas-Menuai Dolar

Awalnya tidak terlintas di kepala Karen Ujihashi (17 tahun) dan Bagus Andryan(15 tahun) untuk mendapatkan uang dari hobby mereka menulis atau mengorat- oret gambar. Mereka hanya menjalani kegemaran mereka dipoles dengan sedikit pengetahuan terhadap dunia maya. Siapa sangka ternyata dua remaja SMA ini sekarang bisa berpenghasilan hingga 100 dollar bermodal kreatifitas dan laptop serta koneksi internet.

“Dulu saya hanya iseng, namun sekarang keterusan,” ujar Karen- sapaan akrab siswi kelas 2 SMA Tunas Daud ini malu- malu. Ia mengawali kiprahnya di dunia bisnis online sejak kelas 1 SMP. Kala itu, ia menuturkan ketertarikannya dengan beberapa online community yang membuat diri secara virtual di dunia maya. Mengingat hobi desain yang ia tekuni, tentu Karen merasa sangat senang dengan ‘penemuan’nya seputar dunia tersebut di internet. Di komunitas ini, ia mengaku biasa menjual gambar avatar yang ia buat. Gadis penyuka Rambutan ini bahkan sempat membuat sebuah toko jual beli gambar online. Namun saat itu gambar- gambarnya hanya dibayar dengan uang mainan. Karen yang aktif di klub jurnalistik sekolah ini tidak patah semangat, Ia mulai mencari- cari lagi situs- situs yang bisa membangun bakatnya dalam mendesain dan berwirausaha. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah situs yang bersedia membayar gambarnya dengan uang sungguhan.

Dengan menemukan situs jual beli gambar dengan uang sungguhan, gadis keturunan Jepang ini dapat menyalurkan hobinya dengan lebih menguntungkan. Karen mulai menjual gambar- gambarnya dan mendapatkan klien dari seluruh dunia. Range harga yang ditawarkan Karen cukup murah yaitu 50 ribu untuk gambar ukuran kecil dan 100-150 ribu untuk gambar yang lebih rumit dan ukuran besar. Untuk menentukan harga, biasanya putri tunggal dari Hiroaki dan Kaoru ini kerap bertanya pada teman- temannya di komunitas gambar online. Hal itu dilakukan agar ia bisa memperkirakan berapa harga yang pas untuk sebuah gambar buatannya. Pembayaran sendiri dilakukan melalui paypal atau rekening online. Kita bisa mendaftar asalkan memiliki kartu kredit. Nantinya uang- uang yang sudah didapatkan di paypal setelah dirupiahkan bisa diambil di bank seperti biasa.

Kalau Karen berbisnis online dengan menjual gambar- gambar buatannya, lain halnya dengan Andryan. Siswa kelas 1 SMA Santo Yoseph ini lebih tertarik dengan dunia menulis. Namun sama seperti Karen, Andryanpun memulai bisnis onlinenya dengan iseng belaka. Ia mulai tahu tentang bisnis online sejak kelas 2 SMP sejak memiliki blog pribadi. Berbekal sebuah blog yang awalnya berisi kegiatan harian dengan polesan humor, Andry mulai melanglang dunia maya. Pria yang bercita- cita menjadi novelis ini mendaftar di sebuah situs penyalur review online. Dengan mengikuti situs itu, Ia bisa dibayar asalkan mereview jasa atau barang dari perusahaan orang lain. Setelah ia mendapatkan hasil nyata, Andry mulai serius menekuni lahan dollarnya.

Pria penggemar pokemon ini bercerita bahwa proses mendapatkan uang dari internet itu tidak terlalu sulit. Dulunya ia hanya suka browsing dan memakai situs pertemanan saja. Begitu ia tahu bisa mendapatkan dollar dari internet, ia mulai rajin browsing tentang bisnis online tersebut. Di dunia maya bertebaran semacam ‘penyalur’ blogger yang ingin mencari pendapatan dari dunia maya. Di situs- situs penyalur tersebut, kita bisa mendaftarkan diri kita dan mulai menunggu klien yang datang untuk direview. Begitu klien- klien itu berdatangan, maka dollarpun dengan lancar akan mengalir ke rekening kita. Tentunya si penyalur sendiri mendapatkan persenan dari hasil kerja kita. Persenan itu berbeda- beda jumlahnya tergantung situs penyalur yang kita ikuti. Nanti uang- uang hasil kerja kita akan ditransfer ke paypal kita dan bisa kita nikmati setelah dirupiahkan. Karena gampangnya melakukan bisnis online, di dunia maya sudah banyak kita temui blogger- blogger yang juga berkecimpung dalam bisnis online. Andryan sendiri sudah mendapatkan hasil kerjanya bahkan dari usia yang sangat muda.

“Kelas 2 SMP saya udah dapet hasilnya, tapi belum punya paypal, hangus deh duitnya,” tutur Andyan sambil tersenyum kecil. Karena keterbatasan itulah ia akhirnya di kelas 3 SMP menghentikan aksinya di dunia maya. Namun tentu sekali mengecap keuntungan, akan ingin merasakan lagi, hal itu juga yang dialami oleh Andry. Ia kembali melancarkan aksinya berbisnis online saat kelas 1 SMA. Berbekal paypal barunya, Andry memasuki beberapa penyalur review online. Kini ia bahkan bisa meraup 100 dollar tiap bulan karena ketekunannya ‘beraksi’. Menurut anak pertama dari pasangan I Pt Tresna dan I Gst Ag Md Ayu Widya ini, banyak hal yang harus dijaga dalam berbisnis online. Salah satu yang paling penting ialah kepopuleran blog sendiri. Karena dengan blog yang populer maka job akan mengalir dengan deras.

Andryan sendiri mencari job- job ini bukan tanpa alasan. Ia percaya seharusnya remaja sekarang tidak menyusahkan bahkan membebani orangtua mereka dengan gaya hidup. Maka pria yang juga memiliki hobi menyanyi ini berusaha memenuhi sendiri kebutuhan lainnya seperti membeli barang yang ia perlukan. Hal serupa juga disampaikan Karen. Menurut Gadis yang lahir 17 tahun lalu ini, ia berusaha mandiri dan tidak bergantung pada orangtua sejak dini.

“Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada orangtua kelak, maka saya berusaha mencari uang sendiri dari sekarang. Itupun anjuran ayah saya kok,” ucap Karen sembari tersenyum simpul. Lagipula menurut gadis yang berangan- angan membuat komik yang akan mengubah dunia ini dengan berbisnis online ia sudah berinvestasi dengan baik juga sebagai pembuktian dirinya melalui kreatifitas yang dimiliki.

Hal serupa diutarakan oleh Andyan, ia percaya dengan berjejaring di dunia maya melalui blog, selain menambah kreatifitas, ia juga bisa sharing ilmu dengan penghuni dunia maya lainnya. Selain blog, Andryan dan Karen juga kerap menggunakan Facebook, Twitter dan situs jejaring sosial lainnya untuk mencari teman baru dan mempromosikan jasa- jasa mereka.

Air Bersih, Cuma Sepotong Dongeng?

Brrryoook… brrryoook… Seorang pria tua berkulit hitam nampak menuangkan berember-ember air berwarna abu ke sebuah wadah besar di bawah tanah. Peluh mengucur deras, membasahi setiap senti wajah keriputnya. Namun lengannya tiada henti bergerak. Tak dipedulikannya bau busuk yang menguar dari air itu.

Rasa lelah datang berkali-kali menggodanya. Namun ia tetap menuangkan air itu. Sesekali matanya mengerling sungai penuh sampah di sebelah rumah tempatnya tinggal bersama keluarga. Sungai itu tak kalah bau dari air abu yang dari tadi digarapnya.

Huda nama pria itu. Perantauan asal Banyuwangi itu memang sudah bertekad hidup tanpa jorok. Ia selalu mengolah limbah rumah tangganya sendiri. Entah dijual lagi, entah dipakai sendiri. Apalagi tempat tinggalnya di kawasan Pucuk Sari Ubung memang sangat tak terkendali kesehatannya.

“Dulu, sebanjar sini sakit diare dan muntaber ‘gak tau penyebabnya apa,” ujar Huda berdecak. Ia mengakui ketidaktahuan penduduk lingkungannya tentang lingkungan menjadi penyebab beberapa penyakit. Setelah diusut lebih lanjut, ternyata asal penyakitnya dari sumur resapan air yang sudah terkontaminasi.  Begitu sakit, barulah seluruh warga mulai sadar pentingnya menjaga lingkungan.

kondisi sungai di kawasan pucuk sari
kondisi sungai di kawasan pucuk sari

Asal kontaminasi itu di ketahui merupakan resapan dari septi tank warga yang tak pernah dikuras. Belum lagi warga-warganya yang asal saja membuang limbah-limbah mereka di sungai kecil yang melewati daerah itu. Di wilayah Pucuk Sari, warganya kebanyakan perantau yang memiliki usaha-usaha kecil. Contoh saja pengolahan tahu dan tempe, pembuatan nasi bungkus hingga goreng-gorengan. Banyak diantara mereka yang membuang limbahnya di sungai tersebut.  Terlebih lagi resapan air septic tank warga yang belum pernah dikuras.

“Kotoran dari Septic tank warga yang tak pernah dikuras akhirnya meresap dan mencemari air tanah. Itu sangat berbahaya,” ujar Dewa Alit Setiarsa, Program Manager BaliFokus.  Menurutnya, kandungan bakteri yang terdapat dalam kotoran manusia bisa menimbulkan berbagai penyakit, terutama bakteri E-coli. Lambat laun, bilamana mengendap dalam waktu lama, tentu air resapan seperti sumur dan sungai sekitar akan sangat tercemar.

Hal serupa juga disampaikan oleh A.A. GA Sastrawan, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali. Ia menuturkan keprihatinannya terkait isu pencemaran air. Dari banyaknya permasalahan air, isu kontaminasi cukup banyak menimbulkan kerugian. Mulai dari kesehatan hingga berkurangnya air bersih. Apalagi menurut laporan Dinas Lingkungan Hidup tahun 2009, rumah tangga di Bali dan NTB mengambil 33% dari jumlah total kebutuhan air, yang kalau dihitung bisa mencapai 5,3 juta meter kubik pertahun. Mirisnya, hasil survei tahun 2007, dinyatakan 23% penduduk tidak memiliki jamban sendiri dan sangat memungkinkan pencemaran air melalui resapan kotoran. Kalau dibiarkan seperti ini, menurutnya dalam waktu 10 tahun lagi, air resapan tak akan bisa dimanfaatkan kembali. Iapun menambahkan pentingnya peran seluruh masyarakat dalam hal ini, apabila kita masih ingin menikmati air bersih di kemudian hari. Diperlukan sosialisasi dengan pendekatan masyarakat untuk menyadarkan bahaya sanitasi air.

Demi menyadarkan bahaya sanitasi, BaliFokus bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup sejak 2002 lalu membuat sistem Sanitasi Masyarakat (SANIMAS) agar masyarakat dapat mengelola sendiri limbah mereka, terutama di perkampungan kumuh. Saat ini sudah 13 titik yang terjangkau di seluruh Bali, dengan 6 titik di kota Denpasar. Wilayah Pucuk Sari, kediaman keluarga Huda adalah salah satunya. Masyarakat diberikan sebuah pembelajaran mengelola sendiri limbah cairnya agar air resapan tetap terjaga kebersihannya.

Sejak saat itu, terlihat Huda dan istri menuangkan air abu- limbah cair mereka kedalam penampungan limbah untuk diolah kembali sebagai biogas atau kompos. Air bersih, tak hanya sepotong dongeng, bukan?

(tulisan & foto : linapw)

Dari Pecandu Jadi Pemandu

Hasil Studi Lapangan di Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA)

Data survei menyatakan 8 dari 12 orang pengguna narkotika, alcohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya sudah pasti terjangkit HIV/AIDS.

Dengan fakta di atas serta tingginya jumlah pengguna Narkotika, alcohol, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) khususnya di Bali tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Terutama karena kenyataan bahwa pengguna NAPZA sangat rentan terjangkit berbagai penyakit menular, salah satunya HIV/AIDS. Bayangkan saja, dalam survei yang dilaksanakan di lapas Krobokan, 60% pengguna NAPZA positif HIV. Diperlukan informasi yang tepat untuk mensosialisasikan hal- hal seperti ini pada generasi muda. Salah satu cara yang paling ampuh ialah dengan kunjungan ke panti- panti rehab ataupun pusat informasi mengenai NAPZA, seperti yang dilakukan mahasiswa fakultas sastra Universitas Udayana, Selasa (8/6) lalu dengan dipimpin oleh Dosen mata kuliah Metode Penelitian Ilmu Budaya (MPIB).

Menimbang pengetahuan tentang NAPZA dipandang sangat perlu diketahui oleh generasi muda, kunjungan kali ini malah sangat dekat dengan dunia NAPZA. Tempat tujuan penelitian lapangan ialah Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA) yang bertempat di daerah Sidakarya, Denpasar, Bali.  Didirikan tahun 1996 oleh seorang warga Negara Australia, YAKEBA bertujuan untuk memberikan bantuan kepada korban- korban NAPZA. Hal ini karena pada tahun itu, bantuan untuk para pecandu sangat minim terutama dalam hal informasi. Diperparah dengan adanya stigma dari masyarakat yang dalam pikirannya seolah- olah telah ditanamkan paradigma buruk mengenai para pecandu, bahwa mereka itu tidak berguna, selalu berperangai buruk dan merupakan sampah masyarakat.

YAKEBA memiliki beberapa program demi menebarkan kebenaran informasi pada masyarakat dan pertolongan serta motivasi pada para pecandu. Diantaranya penjangkauan, rehab, konseling, pembentukan kelompok pendidik sebaya sebagai upaya pemberian informasi pada generasi muda, dan sebagainya. Program- program di YAKEBA terbukti telah banyak membantu kalangan pecandu. Hingga tahun 2010, lebih dari 700 pecandu di daerah Denpasar dan Badung telah dijangkau untuk mengikuti rehab bahkan beberapa diantaranya ikut mengabdikan diri di YAKEBA sebagai pemandu kawan kawan pecandu lainnya agar bisa termotivasi untuk kembali ke jalan yang benar dengan lebih cepat.

Kadek Adi, direktur YAKEBA saat ini salah satunya. Mantan pecandu yang sudah lama bergabung di program penjangkauan dan rehab ini mengaku sangat menyesal saat akhirnya terjerumus ke dunia NAPZA. Berasal dari keluarga baik- baik yang cukup berada, sama sekali ia tidak terpikir untuk mencoba obat-obatan terlarang. Adi ngoyong-sapaan akrabnya, merupakan siswa sibuk saat SD,SMP, maupun SMA. Ia tergabung dalam klub bulu tangkis dan basket saat SMA. Ketika mengikuti salah satu kejuaraan, gugup karena akan bertanding ia bercerita pada temannya yang juga sesama atlit basket. Oleh si teman, ia diberikan dua buah pil, yang saat itu disuruh minum dengan salah satu minuman bersoda. Demi mengatasi gugup pra pertandingan, iapun mau meminumnya. Keesokan harinya badan menjadi segar dan bisa bermain dengan kondisi prima. Setelah itu ia terus melanjutkan konsumsi obat tersebut. Penasaran dengan obat apa yang diminumnya, ia bertanya ke apotek terdekat dan mendapati bahwa obat yang selama ini dikonsumsi ialah obat tulang untuk usia 40 tahun ke atas. Pemakaiannya tetap berlanjut bahkan dengan dosis yang semakin meningkat. Hingga di kelas 3 SMA ia ditawari Heroin oleh salah seorang temannya yang tidak bisa membayar sepatunya (saat itu Adi sambilan menjual sepatu-sepatu bekasnya). Dengan kecanduan yang semakin besar, tentu pengeluaranpun semakin membengkak, bahkan ia pernah menggotong 2 tabung gas dengan sepeda gayung demi mendapatkan uang untuk membeli obat, keluarga yang sudah pasrah hanya bisa mendoakan supaya ia kembali sadar. Rehab beberapa kali namun tidak didasari kemauan sendiri membuat pria berkulit hitam ini sering kabur dari tempat rehab. Pernah juga dibawa ke RSJ dan psikiater. Akhirnya benar- benar berkeinginan rehab sejak tahun 2000 dan sukses hingga sekarang. Mulai aktif di YAKEBA sejak tahun 2003.

Lain lagi kisah Chandra yang juga staff di YAKEBA. Pemuda yang menjadi pecandu sejak 1996 ini mengaku berawal dari coba- coba.  Awalnya mencoba extacy dan akhirnya candu pada heroin. Akhirnya ia sadar dan memulai terapi methadone. Meski awalnya agak susah putus zat dan menyebabkan sakaw, ia tetap menguatkan tekadnya sehingga iapun berhasil lepas dari jeratan narkoba.

Demikian pula dengan Lorenzo, mengkonsumsi alcohol sejak SD, ia tumbuh dengan obat- obatan, doping, rokok juga bergelimang alcohol hingga dewasa. Ia bahkan sering keluar masuk penjara dan divonis positif HIV. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya memberikan informasi yang benar bagi generasi muda.

Kisah lainnya dari Reza Yudha, juga mencoba obat- obatan sejak kelas 6 SD. Obat pertama yang dicobanya benar- benar membuat teler. Mual dan merasa aneh dengan obat tersebut, iapun memeriksakan dirinya ke puskesmas terdekat dan mendapati dirinya mengkonsumsi obat untuk anjing gila. Tidak kapok dengan pengalaman tersebut, ia lanjut mengkonsumsi obat-obatan hingga kecanduan heroin dan diusir dari rumahnya.

Mengkonsumsi obat-obatan terlarang memang sangat berbahaya serta berdampak besar yang buruk bagi kehidupan. Bahkan menurut cerita para staff YAKEBA, pemakai shabu-shabulah yang paling ‘gawat’. Pernah suatu ketika sedang ada kelas rehab untuk para pecandu termasuk pecandu shabu. Saat sedang asyik menerima materi tentang kepemimpinan, tiba- tiba si pecandu shabu lari dan bersembunyi di bawah karpet. Ditanya lebih lanjut ia mengaku merasakan gempa bumi ilusi dan hanya dia yang merasakannya. Atau saat menonton malam hari tiba- tiba ia membakar televisi karena berilusi televisi itu melawan bahkan menantangnya.

Menurut Kadek Adi, hal- hal seperti ilusi itu memang sering terjadi di dalam rehab. Hal itu juga bermuara pada perbedaan pola pikir orang normal, pecandu dan mantan pecandu. Kalau orang normal biasanya pola pikirnya berawal dari Thinking, diikuti Action dan diakhiri Feeling. Para pecandu memiliki pola pikir yang berawal dari Feeling, diikuti Action, baru diakhiri Thinking. Sedangkan mantan pecandu pola pikirnya diawali Thinking, diikuti Feeling dan diakhiri Action. Hingga sampai kapanpun pola pikir mantan pecandu akan selalu berbeda dengan orang normal.

Karena itu, kesadaran para pecandu disebut kesadarn normal +. Sampai saat ini, YAKEBA tetap berusaha menjangkau sebanyak mungkin pecandu demi memotivasi mereka bahwa ada ha lain yang lebih berguna untuk dilakukan serta menghilangkan stigma buruk tentang pecandu dari masyarakat.

Lomba Cerpen Lingkungan deGenk creative! deadline 20 Agustus 2010

Hey guys-para kawan degenk!!!! Masih inget kita kan ‘deGenk Magazine’ …dibawah komunitas deGenk Creative bakal ngadain gelaran seru di bulan agustus nanti bertajuk ‘EnvironMENTAL’, yang sudah barang tentu berbau lingkungan hidup. Nah, kami mengadakan beberapa event pendukung salah satunya lomba cerita pendek, bagi kamu yang memiliki bakat nulis atau setidaknya punya ide cerita yang pengen dituangin, ajang ini sangat cocok buat kamu. Sedikit tidaknya, ide cerita kamu bakal mendeskripsikan kepribadiamu yang peka dan peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar.saatnya tunjukkan bakat dan karya kalian….

• Tema Cerpen :Manusia dan Alam