Dirgahayu, Kawanku

Florestia Saulima Boru Munthe (nama sebenarnya) mengundang saya untuk makan bersama di minggu sempit ia pulang ke Bali.

Sebenarnya sudah dua hari yang lalu ia mengsms saya untuk temu kangen, tapi karena kesibukan masing-masing akhirnya kami pun baru bertemu pagi ini. Teman saya ini, Tia panggilannya. Ia adalah teman SD saya yang hingga kini masih berhubungan dan cukup dekat. Demi mengikuti jejak bundanya tercinta, Ia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Tidak lama ia pulang dan bersua dengan kerabatnya di Bali, hanya seminggu dan esok ia akan kembali ke Surabaya karena hari Senin akan memulai KKN (saya masih dua minggu lagi baru mulai, haleluyaaa!).

Sebelum saya kerumahnya, ada kejadian lucu yang cukup membuat niat menggaruk kepala demikian memikat saking kocaknya. Saya seperti biasa selalu menelepon untuk memastikan keberadaannya, karena sinyal hp tadi pagi bermasalah. Saat saya menelepon, Ibunyalah yang mengangkat. Bagini kurang lebih percakapan yang terjadi di telepon tadi :

“Halo tante, Tianya ada?” saya bersuara dengan semangat
“Ah, Tia (sependengaran saya), sudah berangkat ke Jakarta. Mendadak untuk tes masuk rumah sakit” jawab Ibunya kalem
“Hah, yang bener tante? katanya hari Jumat baru balik?” saya terkaget-kaget karena setahu saya Tia baru akan balik hari Jumat
“Iya mendadak pergi. Ini siapa ya?” tanya sang Tante
“Lina tante. Beneran ya Tianya udah pergi?” masih nggak percaya
“Lho, Lina mau cari Tia atau Dian?” Dian itu nama kakaknya Tia yang sekarang jadi apoteker
“Tia tante…..” bingung beneran
“OOOh Tia ada. Yang ke Jakarta itu Dian.” Lha? Eh, Lho? Jadi yang tante denger adalah Dian (yah huruf idupnya pas dengan nama adiknya), tapi saya dengernya Tia…. Jdeeer, jadilah saya dan tante tertawa sejadi-jadinya dan berakhir dengan saya bicara pada Tia. (pastikan artikulasi anda jelas saat menelepon)

Setelah bertemu beneran dengan Tia di rumahnya, kami langsung capcus makan ke Tipat Tahu Grenceng merayakan hari lahirnya :D. Sebenarnya kami juga berencana ke beberapa toko untuk mencari majalah/buku bekas murah, tapi apa daya, manis Galungan sebagian toko sedang menutup gerainya untuk mengusir pelanggan yang datang saat libur. Bahkan kami sempat berkeliling mencari dagang rujak saking ngebetnya. Kalau mau dianalogikan, mungkin seperti bola pimpong saking dari Gatsu balik ke Gunung Agung terus ke Hayam Wuruk demi sepiring rujak! Dan ternyataaaaa, satu-satunya dagang rujak yang buka tadi adalah yang tepat 3 rumah sebelum rumah Tia, eng ing eng……. 😛

Menghabiskan waktu bersama Tia hari ini membuat saya mengingat masa SD dulu, saat kami bahkan berjalan kaki menyusuri setiap mall, taman dan jalan dari rumah yang tak bisa dibilang dekat. Akhirnya, hari ini, tanggal 7 Juli 2011, selamat ulang tahun ke-22 kawanku, semoga semua apa yang diharapkan, diimpikan dan dicita-citakan bisa tercapai 🙂

Kawan-kawan saya….

Cuma iseng menggambar kawan-kawan yang hampir selalu bersua di tiap hari kala kesibukan kampus merayap…

dari kiri-
Eunike – yang doyan ngobrol dan bergosip
Saya sendiri – ehm… doyan mendengarkan orang karena saya rajin menabung dan gemar menolong (eh)
Dwi – doyan molor, kadang suka nerawang
Gundi- tiada hari tanpa berpuisi (secara harfiah atau mental dan tindakan)

Pembuatan gambar –
sejam doang, dengan tekad iseng yang membara disertai pensil, spidol, dan prisma color seadanya 😀

Gempita di Ujung Penantian

-Rumah mungil itu penting meski letaknya di dunia antah berantah

Tik..tik..tik… jarum jam pelahan namun pasti menujuk ke sebuah hari baru, semalam lagi sudah lewat demikian pula malam-malam lain. Sebuah gambarpun sudah rampung untuk mempercantik sebuah laman tempat tinggal yang baru nanti. Ah, kini dua buah gambar telah terlewati, demikian pula dengan gambar kedua dan ketiga. Meski tak semua gambar dapat dipajang, namun beberapa yang lulus seleksi sudah bisa kawan-kawan nikmati kini. Tulisan-tulisan, baik yang lama maupun yang baru juga mengalir dengan pasti. Gregetanpun tak tertahankan kala semenit, mungkin sedetik lagi, bila jari-jari putih dan lebar itu menekan sepetak tombol, maka rumah itu akan langsung mengudara. Dan ya, kini tiba waktunya untuk memperkenalkan rumah baru itu. Melalui kesederhanaannya, inilah tempat bernaung baru, tempat gundah dan gempita, tempat gelisah serta canda akan tertuang dengan berbagai bentuk. Tiba pula waktunya untuk berhenti mengambinghitamkan kelayakan rumah dalam berkreasi dan berkarya lebih lebar.

Oh, kembali pada jari-jari itu. Jari-jari itulah yang akan membuat rumah ini ada. Rumah mungil dengan berbagai isi yang akan dan semoga mengisi ruang-ruang lain dalam waktu dan tempat lain. Setengah cemas karena koneksi berjalan cukup meringkik. Dan akhirnya, setelah lama berdoa, berucap, berujar, berkoak dan tersedak (eh), akhirnya rumah baru untuk linapw rampung sudah! Rumah yang dinanti-nanti inipun muncul di tengah-tengah kita, Uhuuuuuuuuuuyyyy …. 🙂

Tepatnya akhir Juni lalu, linapw.com rampung setelah dipercantik oleh rahaji (kawan-kawan bisa temui si empunya jari di rahaji.com :P). Pada posting pertama ini juga saya ingin berterima kasih dengan tulus iklas tanpa tersedak pada orang-orang yang memiliki andil baik besar atau kecil, tebal atau tipis, dalam rampungnya web-blog ini. Maka silakan lemparkan bola-bola daging, eh salah, bola bola komentar kawan-kawan. cheers!

 

Multatuli, ‘Guru Rohani’ Sastra Indonesia

De pen is machtiger dan het zwaard

(The pen is mightier than the sword)

Sekilas pribahasa Belanda di atas terdengar tidak asing. Ya, pribahasa itu di Indonesia menjadi ‘pena lebih tajam dari pedang’ yang juga dapat disimpulkan tulisan bahkan bisa membuat perubahan lebih dalam daripada kekerasan. Pribahasa yang sangat pas menggambarkan kehidupan seorang Multatuli atau Eduard Douwes Dekker di masa Hindia-Belanda lalu.

Multatuli, tentu kita sudah sering mendengar namanya. Hanya namanya. Apa sepak terjangnya? Jarang di antara kita yang tahu ataupun mencari tahu. Dalam pendidikan sejarah di berbagai sekolah dasar – yang memang sudah diatur dalam kurikulum kepengajaran, nama Multatuli kerap disinggung. Namun hanya secuil, kadang hanya sepintas dan terkesan numpang lewat saja. Padahal pria berkebangsaan Belanda yang lahir 2 Maret 1820 lalu ini memiliki andil sangat besar terutama dalam perjalanan sejarah sastra di Indonesia.

Penulis Belanda kelahiran Amsterdam ini sempat tinggal di Indonesia dan beberapa kali bekerja pada pemerintahan masa itu. Menemukan kebuntuan dalam kehidupan politik masa penjajahan, Multatuli lalu memutuskan untuk fokus dalam dunia kepenulisan. Novel bergaya satirenya yang berjudul Max Havelaar (1860) menjadi perbincangan di berbagai kalangan baik Belanda maupun Indonesia bahkan dunia. Setelah buku ini terjual di Eropa, maka kehidupan Hindia-Belanda saat itu semakin terbuka dan memuluskan namanya sebagai pengarang yang diakui.

Meski kehidupan pribadinya tidak berjalan semulus karirnya sebagai penulis, ia tetap menuliskan kehidupan rakyat Hindia-Belanda. Nama Multatuli sendiri memiliki arti ‘Aku yang sudah banyak menderita’, mengacu pada kehidupannya.

Continue reading Multatuli, ‘Guru Rohani’ Sastra Indonesia

Dari ‘Bingung Kritis’ Hingga Nikah Multirasial

Seri Margarita’s Chat – EXCUSE-MOI

Judul Buku            : Excuse-Moi

Penulis                    : Margareta Astaman

Penerbit                  : Kompas

Tebal                       : 138 halaman

Harga                      : Rp. 35.000,-

ISBN                        : 978-979-709-545-1

Cetakan                  : pertama, Januari 2011

Bagaimana rasanya menjadi minoritas di tengah mayoritas? Bagaimana pula menghadapi aral melintang dalam kehidupan minoritas yang serba diper’kecil’? Nah Margarita Astaman berbagi pengalamannya dalam buku ini.

Suku-agama-ras dan antar golongan merupakan bahan obrolan tabu dan sensitif. Diperlukan tekad matang untuk bahkan hanya bercerita mengenai hal-hal tersebut. Namun dengan penuh kesadaran dan tak kalah penting-keberanian, Margarita Astaman atau yang kerap disapa Margie bercerita dengan piawai kehidupannya sebagai keturunan Tionghoa di Jakarta dan Singapura tempatnya berkuliah.

Buku ke-4 karangan wanita muda berdarah Cina-Betawi-Jawa dapat disimpulkan sebuah curahan hati seorang minoritas. Ia bercerita tentang asal muasalnya dan bagaimana menjadi keturunan Tionghoa di Indonesia dan dampaknya saat bersekolah di Singapura. Kumpulan tulisan pengarang muda lulusan Jurnalisme Nanyang Technological University Singapura ini menyeruakkan persoalan-persoalan yang mungkin tak pernah hinggap dalam pikiran sebagian masyarakat.

Kisah-kisah di dalam buku ini berawal dari kebingungannya menjadi ras yang ‘berbeda’ sehingga mendapatkan berbagai perlakuan diskriminatif di beberapa tempat. Dapat kita simak misalnya dalam judul ‘Mereka Bilang Saya Cina (Emang!)’, Margie bertutur tentang kisah tragis yang hanya terjadi pada keluarga Cina saat tragedy ’98 pecah. Bingung adalah hal paling awal yang dialami Margie karena jelas-jelas ia Indonesia namun terpinggirkan. Diskriminasi ini selain menimbulkan kebingungan juga mencuatkan sifat kritisnya. Ia mulai mempertanyakan segala sesuatunya, mulai dari stereotype berakar tentang ras, yang kini sudah menjadi fenomena gunung es – tidak tampak namun kapan saja bisa pecah membawa bergulung-gulung arus deras di dalamnya.

Continue reading Dari ‘Bingung Kritis’ Hingga Nikah Multirasial