Rujak Bali, Cita Rasa Baru Olahan Buah

Banyak cara mengolah buah, seperti banyak juga cara ke menuju Roma. Semuanya jelas demi kenikmatan baru dalam menikmati buah. Buah biasa dijadikan jus, salad, ataupun dimakan langsung tanpa diolah lagi. Di Bali, buah biasa diolah menjadi rujak, sebuah makanan berbahan dasar buah dengan bumbu pedas atau manis.

Kalau kita berjalan-jalan di Bali, masih banyak bisa ditemui warung-warung pedagang rujak berjajar di pinggir jalan. Salah satu ciri khasnya adalah adanya ulekan di warung tersebut. Rujak diolah dengan menambahkan bumbu pada buah-buahan tersebut. Buahnya pun beragam, namun yang biasa ditemui Mangga muda, Pepaya muda, Nenas, Timun, Kedondong dan Bengkoang.

Buah-buahan itu akan dipotong kecil-kecil atau diiris sedemikian rupa agar mudah dimakan. Pilihan bumbunya ada beberapa juga, yaitu rujak kuah pindang, gula bali atau cuka. Bumbu dasarnya terasi, garam dan Lombok secukupnya, barulah bila ingin ditambahkan penikmat lain seperti kuah pindang untuk rasa gurih, gula bali untuk rasa manis atau cuka untuk rasa kecut.

Penikmat rujakpun beragam, dari tua hingga muda, anak sekolahan hingga ibu rumah tangga. Tak jarang terlihat wisatawan mencoba rujak karena memperhatikan nikmatnya warga Bali memakan olahan buah yang satu ini. Rasa gurih dari kuah pindang tentu menimbulkan pertanyaan di kepala demikian juga rasa unik yang ditimbulkan cuka.  Sedangkan rasa pedas itu sesuai dengan permintaan sendiri.

Mencari aman, para wisatawan baik lokal dan asing biasa memesan rujak dengan bumbu gula bali yang manis. Dengan bumbu ini mereka dapat mencoba rujak tanpa takut kaget dengan bumbu lain karena tidak biasa dengan rasanya. Bagaimana? Siap mencobai olahan buah khas Bali ini?

Perjalanan

Tanggal 28 pun tiba, setelah makan dengan sarapan yang rasanya kurang jelas, aku beberes dan bersiap check out dari hotel pertama menuju ke hotel transit di bandara. Kawan sekamarku, Laila asal Jember, ternyata pembagian kamar juga adalah pembagian back up buddy dimana kita harus masing-masing tahu apa yg sedang dan akan dilakukan kawan kita itu. Istilahnya pasangan begitu.

Di hotel transit kami mendapatkan briefing gambaran bagaimana kira-kira perjalanan kami akan berlangsung. Lanjut dengan pengecekan bagasi. Aku bersyukur tidak terlalu manja dengan makanan (istilah kerennya pemakan apa saja) karena tidak membawa makanan aneh-aneh yang mempunyai kans besar untuk disita. Kawan-kawan lain ada beberapa yang bekalnya tidak boleh ikut. Nisa misalnya karena kebiasaan meminum susu dengan merek tertentu ia membawa sampai 10 renteng sachet susu tersebut dan disita. Laila juga membawa sosis yg kerap menggaet bintang-bintang fenomel untuk jadi bintang iklannya, disita. Jadi aku dengan mie seadanya dan sambel yang sebenarnya kurang tapi mau apa lagi aman aman saja.

Perjalanan pertama kami adalah Jakarta-Singapura dengan Singapore Airlines, jarak tempuh sekitar dua jam. Di pesawat sebenarnya tidak terlalu terasa karena ada TV kecil tempat kami menonton berbagai hidangan, maksudku hiburan mulai dari tv show, news dan lain-lain.

Di Singapura kami transit hingga subuh. Dari jam 10 kami tiba hingga pukul 3 kami bisa bebas mengeksplor Changi, bandara yang memang keren banget itu menyediakan selain wifi gratis juga beberapa taman untuk disinggahi. Namun karena ada kerjaan yang belum kelar dan firasatku berkata di sana terakhir aku dapat berkoneksi maka aku menghabiskan waktu dengan menyelesaikan pekerjaan dan berinternet sampai puwas pake w!

Perjalanan berlanjut lagi. Kali ini 7 jam di pesawat untuk tiba di Narita, Jepang. Dalam pesawat dingin sekali. Gigi yang baru ditambal mulai sakit, untung sang dokter sangat pengertian membekaliku pain killer yang suskses membuat tidur beberapa saat. Setibanya di Narita kami memiliki waktu tak lama untuk jalan-jalan singkat. Karena kawan-kawan lain pada sholat, aku, Hans dan Zoel memutuskan mencari makan. Masalah pertama adalah uang. Jadilah kami menukarkan rupiah kami ke dalam yen. Seratus ribu mendapatkan 610 yen, lumayan, kami menukar 300 ribu dan menikmati fast food dengan saos tomat karena tak ada sambal di Narita.

Transitnya agak sebentar, setelah mencoba toilet nyanyi yang bersuara seperti orang kumuran saja kamipun harus segera naik pesawat lagi. Kali ini langsung ke Chikago, perjalanannya kurang lebih 11 jam. Huwaah, makanya aku menulis banyak, yah ini dalam pesawat yang cukup membuat tungkai dan bokong pegal.

 

Lina PW, 29 Mei 2012 dalam pesawat yang bergoyang kencang

Saatnya Tiba!

Maklum tulisan agak tersendat karena tugas dan jadwal jalan #eh, tapi ini lanjutan yang kemaren-kemaren kok, enjoy 🙂

Tanggal keberangkatan sudah di depan mata! Wow! Cepat sekali waktu berlalu, packingpun belum. Tapi memang ke excited-an mengalahkan segalanya. Tiba-tiba saja beberapa puluh jam lagi kami akan sampai di Kansas! Wow!

Tanggal 27 Mei aku berangkat ke Jakarta diantar oleh keluarga yang tidak terlalu besar besar dan kawan-kawan, yah kami bikin rusuh di bandaralah intinya. Sesampainya di Jakarta kami dipersilakan untuk mengaso, karena briefing lanjutan, pemeriksaan bagasi dan persiapan lain akan dilakukan keesokan harinya.

Memanfaatkan waktu yang tersisa di tanggal 27 Mei itu, aku berjanji ketemuan dan hang out singkat dengan mbak Eno dan mbak Ayu, kawan yang kutemui dari seorang kawan lain melalui couchsurfing. Mbak Eno dan mbak Ayu memang tinggal di Jakarta, beberapa waktu lalu mereka sempat ke Bali dan kami bertemu, kelanjutannya saat PDO kemarin juga kami bertemu lagi.

Mbak Eno dan mbak Ayu mengantar saya berkeliling mencari tripod, setelah cukup lama menawar, bertanya dan tersenyum penuh arti ke pedagang supaya diberi harga murah, maka kami mendapatkan sebuah tripod yang menurut saya dan mbak Eno cukup ‘ganteng’. Mbak Ayu membantu menawar 🙂

Oh ya, perjalanan ke pusat kota dari hotel dekat bandara relatif mudah. Karena si hotel punya shuttle ke bandara, jadilah aku ke bandara dulu dan melanjutkan perjalanan ke Blok M dengan Damri, jelas lebih murah dan mudah. Awalnya beberapa kawan berencana ikut namun di akhir cerita dengan berbagai alasan mereka batal dan saya berangkat sendiri. seru juga berpusing di ibukota seorang diri sebelum bertemu dua tante faforitku itu.

Setelah membeli tripod kami mencari sambal terasi, saos dan mie instan. Awalnya sih saya pikir itu tidak terlalu penting. Tapi ternyata meski di sana ada saos dan sambal, jangan harap menemukan kepedasan dan kesegaran seperti sambal-sambal di Indonesia. Kata mbak Ayu dan mbak Eno yang sudah kerap keluar negeri, sambal-sambal merekapun rasanya hambar, karena sudah disesuaikan dengan lidah orang sana. Wah, pikir ku kalau begitu bahaya kesana tanpa senjata, jadilah sambal terasi dan saos serta kecap pedas kukantongi. Malam itu kami tutup dengan makan bersama dan berfoto-foto narsis, hehe, namanya juga anak muda 😛

 

Lina PW

29 Mei 2012, setelah 3,5 berada di atas pesawat menuju Chicago

Persiapan Bertualang

Sudah kujinakkan kegiranganku dan menerima kebahagianku apa adanya kini, surat pemberitahuan kelulusan benar-benar sampai di rumahku. Tidak ada alasan untuk meragukan keberangkatan ke Amerika. Negara bagian yang akan kukunjungi adalah Kansas. Middle state. Negara perkebunan dan pertanian. Kudengar ada ladang bunga matahari di sana. Aku bertaruh itu pasti sangat indah. Kucari beberapa keterangan dan foto tentang Kansas di internet. Aku mengontak beberapa orang yang berdomisili di Kansas dan Lawrence via couchsurfing (situs pertemanan orang-orang gila jalan), yah kita lihat saja apakah akan berhasil nanti.

Kami akan belajar bahasa inggris di Kansas University bertempat di kota Lawrence Kansas. Dari hasil browsing aku mengetahui di KU akan sangat keren. Universitas besar itu terlihat sangat klasik bangunannya. Kegiatannya sendiri sepertinya cukup banyak. Dan aku benar-benar siap untuk keseruan kali ini!

Kami akan berangkat sebanyak 20 orang ke Kansas dan belajar selama 2 bulan. Bisa kau bayangkan? Dua bulan di Amerika untuk belajar bahasa Inggris, mengenal budaya mereka dan bertualang, woow, aku sudah tak sabar lagi.

Sebelum keberangkatan bulan Mei, kami harus mengikuti Pre Departure Orientation (PDO) dan pembuatan VISA di Jakarta. Acara berlangsung selama 3 hari dan benar-benar seru karena inilah akhirnya kesempatan untuk bertemu dengan kawan-kawan yang akan bersama-sama 2 bulan nanti.

Memang sudah ada group di fb dan bbm dan beberapa sudah menjadi kawan di jejaring sosial. Namun aku merasa cukup sulit berakrab-akrab dengan orang yang belum pernah kutemui, karena itu aku tidak terlalu update dengan pembicaraan di group fb, memang aku dan Ince (salah satu kawan dari Jakarta ternyata sudah dilabeli sebagai ‘anak hilang’ karena tidak ditemukan jejaknya di fb, karena itu kami cukup lama terlantar sebelum akhirnya bergabung di group.

Oh ya selain browsing dan mengikuti perkembangan di group, aku juga mempersiapkan keKANSASanku dengan bertanya-tanya pada kakak kelas yang sebelumnya lulus IELSP. Kebetulan dua orang kakak kelas yang aku cukup dekat lolos, kak Awan ke IOWA dan kak Rina ke Kansas juga. Jadilah aku mendapatkan fakta lain yang super duper menyenangkan di Kansas, bahwa kita bisa makan di kafetaria sepuasnya, dengan menu yang beragam pula :3

 

Lina PW

29 Mei 2012, menanti pergantian hari di atas pesawat

 

Awal Petualangan

Tanganku bergetar cukup hebat saat melihat nomor telpon di layar hapeku. Itu nomor Jakarta. Tidak mungkin salah. Sembari mengira-ngira siapa gerangan nomor yang meleponku, aku keluar dari Jeep biru butut tapi tetap terlihat tangguh milik ayah kawan Torajaku Beatrice.

Percakapan singkat terjadi dan aku akhirnya tahu si penelepon berasal dari IIEF Jakarta, sebuah lembaga beasiswa yang memang sedang kutunggu-tunggu pengumumannya. Percakapannya kurang lebih begini :

“Lina nanti mau tamat kapan?”

“Agustus mbak, atau November,” jawabku dengan ragu, karena memang belum memikirkan skripsi sama sekali.

“Oh, selamat ya kamu lulus IELSP dan akan berangkat ke Kansas, apakah kamu ada kegiatan Juli nanti?”

“Ah yang benar mbak?”

“Benar kok,” setelah lama baru saya tahu mbak itu bernama mbak ChiChi

“Saya mau pingsan nih mbak,”

“Eeeh, jangan pingsan, bisa kan nanti ke Kansas,”

“Iya mbak, bisa, bisa banget, bagaimana prosedur selanjutnya?”

“Nanti akan dihubungi lagi via email dan lain sebagainya. Selamat yaa, juga kami akan bersurat sebagai pemberitahuan”

“Iya mbak, horeee” ujarku terlambat girang. Dengan hati sangat berdebar aku menutup telpon, tak bisa menyembunyikan senyum.

Lengkap sudah rasanya kebahagiaanku Desember itu. Kebetulan memang aku sedang ada di Toraja, kampung halaman sahabat baruku, Beatrice. Perjalanan yang serba kebetulan dan tak kurencanakan sebelumnya. Kebetulan pula ternyata ada kegiatan Rambu Solo – pesta kematian besar-besaran masyarakat Toraja yang memang kerap dilakukan namun tidak pasti jadwalnya.

Hari itu aku dan keluarga kawanku baru saja pulang dari kegiatan Rambu Solo yang cukup besar dan meriah, cukup bahagia karena aku merasa beruntung mendapat kesempatan menyaksikan Rambu Solo di perjalanan yang tidak kurencanakan dan persiapkan secara matang, aku merasa lebih bahagia lagi karena diberikan informasi yang bisa membuat kakimu menjadi jelly saking senangnya. Setelah itu aku menghubungi ibuku dan beliaupun sepertinya melonjak kegirangan sepertiku saat ditelpon tadi.

Amerika, benua yang cukup kudamba untuk kudatangi, kini benar-benar akan kuinjakkan kakiku di sana. Ah apa yang lebih mengangetkan dan menggirangkan daripada mimpi yang jadi nyata?

 

Lina PW, 29 Mei 2012,

Di atas pesawat menuju pergantian gelap menjadi terang