Gempita di Ujung Penantian

-Rumah mungil itu penting meski letaknya di dunia antah berantah

Tik..tik..tik… jarum jam pelahan namun pasti menujuk ke sebuah hari baru, semalam lagi sudah lewat demikian pula malam-malam lain. Sebuah gambarpun sudah rampung untuk mempercantik sebuah laman tempat tinggal yang baru nanti. Ah, kini dua buah gambar telah terlewati, demikian pula dengan gambar kedua dan ketiga. Meski tak semua gambar dapat dipajang, namun beberapa yang lulus seleksi sudah bisa kawan-kawan nikmati kini. Tulisan-tulisan, baik yang lama maupun yang baru juga mengalir dengan pasti. Gregetanpun tak tertahankan kala semenit, mungkin sedetik lagi, bila jari-jari putih dan lebar itu menekan sepetak tombol, maka rumah itu akan langsung mengudara. Dan ya, kini tiba waktunya untuk memperkenalkan rumah baru itu. Melalui kesederhanaannya, inilah tempat bernaung baru, tempat gundah dan gempita, tempat gelisah serta canda akan tertuang dengan berbagai bentuk. Tiba pula waktunya untuk berhenti mengambinghitamkan kelayakan rumah dalam berkreasi dan berkarya lebih lebar.

Oh, kembali pada jari-jari itu. Jari-jari itulah yang akan membuat rumah ini ada. Rumah mungil dengan berbagai isi yang akan dan semoga mengisi ruang-ruang lain dalam waktu dan tempat lain. Setengah cemas karena koneksi berjalan cukup meringkik. Dan akhirnya, setelah lama berdoa, berucap, berujar, berkoak dan tersedak (eh), akhirnya rumah baru untuk linapw rampung sudah! Rumah yang dinanti-nanti inipun muncul di tengah-tengah kita, Uhuuuuuuuuuuyyyy …. 🙂

Tepatnya akhir Juni lalu, linapw.com rampung setelah dipercantik oleh rahaji (kawan-kawan bisa temui si empunya jari di rahaji.com :P). Pada posting pertama ini juga saya ingin berterima kasih dengan tulus iklas tanpa tersedak pada orang-orang yang memiliki andil baik besar atau kecil, tebal atau tipis, dalam rampungnya web-blog ini. Maka silakan lemparkan bola-bola daging, eh salah, bola bola komentar kawan-kawan. cheers!

 

Multatuli, ‘Guru Rohani’ Sastra Indonesia

De pen is machtiger dan het zwaard

(The pen is mightier than the sword)

Sekilas pribahasa Belanda di atas terdengar tidak asing. Ya, pribahasa itu di Indonesia menjadi ‘pena lebih tajam dari pedang’ yang juga dapat disimpulkan tulisan bahkan bisa membuat perubahan lebih dalam daripada kekerasan. Pribahasa yang sangat pas menggambarkan kehidupan seorang Multatuli atau Eduard Douwes Dekker di masa Hindia-Belanda lalu.

Multatuli, tentu kita sudah sering mendengar namanya. Hanya namanya. Apa sepak terjangnya? Jarang di antara kita yang tahu ataupun mencari tahu. Dalam pendidikan sejarah di berbagai sekolah dasar – yang memang sudah diatur dalam kurikulum kepengajaran, nama Multatuli kerap disinggung. Namun hanya secuil, kadang hanya sepintas dan terkesan numpang lewat saja. Padahal pria berkebangsaan Belanda yang lahir 2 Maret 1820 lalu ini memiliki andil sangat besar terutama dalam perjalanan sejarah sastra di Indonesia.

Penulis Belanda kelahiran Amsterdam ini sempat tinggal di Indonesia dan beberapa kali bekerja pada pemerintahan masa itu. Menemukan kebuntuan dalam kehidupan politik masa penjajahan, Multatuli lalu memutuskan untuk fokus dalam dunia kepenulisan. Novel bergaya satirenya yang berjudul Max Havelaar (1860) menjadi perbincangan di berbagai kalangan baik Belanda maupun Indonesia bahkan dunia. Setelah buku ini terjual di Eropa, maka kehidupan Hindia-Belanda saat itu semakin terbuka dan memuluskan namanya sebagai pengarang yang diakui.

Meski kehidupan pribadinya tidak berjalan semulus karirnya sebagai penulis, ia tetap menuliskan kehidupan rakyat Hindia-Belanda. Nama Multatuli sendiri memiliki arti ‘Aku yang sudah banyak menderita’, mengacu pada kehidupannya.

Continue reading Multatuli, ‘Guru Rohani’ Sastra Indonesia

Dari ‘Bingung Kritis’ Hingga Nikah Multirasial

Seri Margarita’s Chat – EXCUSE-MOI

Judul Buku            : Excuse-Moi

Penulis                    : Margareta Astaman

Penerbit                  : Kompas

Tebal                       : 138 halaman

Harga                      : Rp. 35.000,-

ISBN                        : 978-979-709-545-1

Cetakan                  : pertama, Januari 2011

Bagaimana rasanya menjadi minoritas di tengah mayoritas? Bagaimana pula menghadapi aral melintang dalam kehidupan minoritas yang serba diper’kecil’? Nah Margarita Astaman berbagi pengalamannya dalam buku ini.

Suku-agama-ras dan antar golongan merupakan bahan obrolan tabu dan sensitif. Diperlukan tekad matang untuk bahkan hanya bercerita mengenai hal-hal tersebut. Namun dengan penuh kesadaran dan tak kalah penting-keberanian, Margarita Astaman atau yang kerap disapa Margie bercerita dengan piawai kehidupannya sebagai keturunan Tionghoa di Jakarta dan Singapura tempatnya berkuliah.

Buku ke-4 karangan wanita muda berdarah Cina-Betawi-Jawa dapat disimpulkan sebuah curahan hati seorang minoritas. Ia bercerita tentang asal muasalnya dan bagaimana menjadi keturunan Tionghoa di Indonesia dan dampaknya saat bersekolah di Singapura. Kumpulan tulisan pengarang muda lulusan Jurnalisme Nanyang Technological University Singapura ini menyeruakkan persoalan-persoalan yang mungkin tak pernah hinggap dalam pikiran sebagian masyarakat.

Kisah-kisah di dalam buku ini berawal dari kebingungannya menjadi ras yang ‘berbeda’ sehingga mendapatkan berbagai perlakuan diskriminatif di beberapa tempat. Dapat kita simak misalnya dalam judul ‘Mereka Bilang Saya Cina (Emang!)’, Margie bertutur tentang kisah tragis yang hanya terjadi pada keluarga Cina saat tragedy ’98 pecah. Bingung adalah hal paling awal yang dialami Margie karena jelas-jelas ia Indonesia namun terpinggirkan. Diskriminasi ini selain menimbulkan kebingungan juga mencuatkan sifat kritisnya. Ia mulai mempertanyakan segala sesuatunya, mulai dari stereotype berakar tentang ras, yang kini sudah menjadi fenomena gunung es – tidak tampak namun kapan saja bisa pecah membawa bergulung-gulung arus deras di dalamnya.

Continue reading Dari ‘Bingung Kritis’ Hingga Nikah Multirasial

Review ‘Harry Potter and the Deathly Hallows’ : Pasang Nyawa Demi Dunia Sihir

Sutradara : David Yates, Ben Hibon (animasi) | Penulis novel : J.K. Rowling | Pemain : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Bonnie Wright, Helena Bonham, dll

Kembali serial Harry Potter mengguncang penikmat fiksi dunia dalam seri terakhir dan juga pamungkasnya. Jelas antrian panjang selalu terpampang saat berniat untuk menonton  film yang saat ini sudah menduduki jajaran box office dalam pekan pertama muncul.

Melanjutkan kisah ke-6nya, Harry Potter and the Deathly Hallows menceritakan bagaimana Harry menyelamatkan dunia sihir pasca kebangkitan Voldemort. Setelah berumur 17 tahun, Harry meninggalkan kediaman keluarga Dudley yang memang juga berniat mengunsi karena malapetaka terhadap muggle (non-penyihir) terjadi dimana-mana. Ternyata musuh memang sudah mengintai. Penyergapan terjadi saat misi penyelamatan dan pernikahan saudara Ron di the Burrow.

Akhirnya Harry, Ron dan Hermione meninggalkan the Burrow untuk mencari sisa 5 horcrux setelah buku harian dan cincin yang sudah dihancurkan sebelumnya. Mereka bahkan menyerbu kementerian sihir yang sudah dikuasai Voldemort karena salah satu horcrux ada disana. Penyerbuan yang menegangkan ini membuat mereka nomaden dan disinilah gejolak dimulai. Keretakan dan kecurigaan timbul dalam kelompok mereka dan menyebabkan Ron pergi. Saat putus asa untuk menghancurkan kalung, secara tidak sengaja Harry dituntun untuk menemukan pedang Griffindor dan Ron kembali bergabung. Mereka memutuskan bertarung hingga akhir dan dunia sihir damai kembali

Malang, mereka akhirnya tertangkap setelah mengunjungi rumah Luna dan dibawa ke tempat pelahap maut. Di saat kritis, Dobby menyelamatkan mereka meski akhirnya sang peri meregang nyawa. Mereka sementara aman hingga menyadari Voldemort mengincar tongkat terhebat seperti yang dijabarkan dalam cerita anak-anak tentang 3 saudara Relikui kematian. Mirisnya, Voldemort sendiri ternyata telah menemukan tongkat tersebut dalam kubur Dumbledore.

Film ini bisa disimpulkan sebagai perpaduan yang sangat mematikan dan juga menegangkan antara cerita yang semakin seru dan kualitas film yang semakin apik. Dari film-film sebelumnya, bisa diakui Harry Potter 7a ini merupakan puncak dari kisah bocah penyihir dalam melawan musuhnya-sang pangeran kegelapan. Adegan adegan yang disuguhkan tak henti terus menerus membawa kita ke puncak ketegangan berliku. Belum lagi penghianatan dan ‘skenario dalam skenario’ di kisah ini.

Dapat dirasakan sang sutradara bekerja keras membangun setting dan plot hingga penonton tetap menajamkan mata saat menonton film. Beberapa adegan bahkan akan membuat kita menahan nafas seperti kemunculan Nagini sebagai Bathilda Bagshot di Godric’s Hollow dan penyergapan para pelahap maut. Efek-efek yang digunakan cukup menggambarkan dunia sihir dengan sangat nyata, misal dalam adegan terbang, polijus, apparate dan kemunculan musuh. Apalagi ditambah animasi cerita 3 saudara relikui kematian, membuat film ini layak diacungi jempol.

Di akhir cerita, saat Voldemort mengambil tongkat sakti dari makam Dumbledore dan film bagian satu berakhir yakin membuat efek dramatis. Bagi sebagian besar penonton, jelas ‘gregetan’ merupakan istilah yang tepat. Beberapa bahkan tidak sabar menunggu sambungannya. Dapat dipastikan bagian ke-2 juga tidak akan kalah sukses dari yang pertama.

Namun tentu saja terdapat perbedaan besar antara film dan novel. Dalam film, kisah ini dibuat sedemikian suram sehingga ketegangan benar-benar terbangun. Meski masih ada sedikit humor, dalam novel beberapa adegan malah cukup menghibur dan lucu yang sayangnya dilewatkan dalam film. Beberapa adegan bahkan dipotong dan dibuat berbeda sama sekali dari novelnya.  Tentu penonton yang berharap detil film paling tidak mengacu pada keseluruhan novel akan menghembuskan nafas kecewa.

Meskipun begitu, secara umum jelas bagian pertama dari seri terakhir Harry Potter ini dapat dikatakan memuaskan para pecinta fiksi, efek dan tentu dunia sihir. Semoga cahaya selalu menerangi Harry dalam upayanya menyelamatkan dunia sihir, Lumos!

Pssst! Yang sudah baca novelnya pasti tahu kalau bagian paling seru ialah mendekati akhir cerita. Termasuk: pembobolan Gringgots, pemberontakan Hogwarts, Naga, raksasa dan pertempuran paling seru dalam dunia sihir! (gamau menjabarkan banyak takut dilemparin tongkat ;P. cheers)

Ber’aksi’ di dunia maya, Menabur Kreatifitas-Menuai Dolar

Awalnya tidak terlintas di kepala Karen Ujihashi (17 tahun) dan Bagus Andryan(15 tahun) untuk mendapatkan uang dari hobby mereka menulis atau mengorat- oret gambar. Mereka hanya menjalani kegemaran mereka dipoles dengan sedikit pengetahuan terhadap dunia maya. Siapa sangka ternyata dua remaja SMA ini sekarang bisa berpenghasilan hingga 100 dollar bermodal kreatifitas dan laptop serta koneksi internet.

“Dulu saya hanya iseng, namun sekarang keterusan,” ujar Karen- sapaan akrab siswi kelas 2 SMA Tunas Daud ini malu- malu. Ia mengawali kiprahnya di dunia bisnis online sejak kelas 1 SMP. Kala itu, ia menuturkan ketertarikannya dengan beberapa online community yang membuat diri secara virtual di dunia maya. Mengingat hobi desain yang ia tekuni, tentu Karen merasa sangat senang dengan ‘penemuan’nya seputar dunia tersebut di internet. Di komunitas ini, ia mengaku biasa menjual gambar avatar yang ia buat. Gadis penyuka Rambutan ini bahkan sempat membuat sebuah toko jual beli gambar online. Namun saat itu gambar- gambarnya hanya dibayar dengan uang mainan. Karen yang aktif di klub jurnalistik sekolah ini tidak patah semangat, Ia mulai mencari- cari lagi situs- situs yang bisa membangun bakatnya dalam mendesain dan berwirausaha. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah situs yang bersedia membayar gambarnya dengan uang sungguhan.

Dengan menemukan situs jual beli gambar dengan uang sungguhan, gadis keturunan Jepang ini dapat menyalurkan hobinya dengan lebih menguntungkan. Karen mulai menjual gambar- gambarnya dan mendapatkan klien dari seluruh dunia. Range harga yang ditawarkan Karen cukup murah yaitu 50 ribu untuk gambar ukuran kecil dan 100-150 ribu untuk gambar yang lebih rumit dan ukuran besar. Untuk menentukan harga, biasanya putri tunggal dari Hiroaki dan Kaoru ini kerap bertanya pada teman- temannya di komunitas gambar online. Hal itu dilakukan agar ia bisa memperkirakan berapa harga yang pas untuk sebuah gambar buatannya. Pembayaran sendiri dilakukan melalui paypal atau rekening online. Kita bisa mendaftar asalkan memiliki kartu kredit. Nantinya uang- uang yang sudah didapatkan di paypal setelah dirupiahkan bisa diambil di bank seperti biasa.

Kalau Karen berbisnis online dengan menjual gambar- gambar buatannya, lain halnya dengan Andryan. Siswa kelas 1 SMA Santo Yoseph ini lebih tertarik dengan dunia menulis. Namun sama seperti Karen, Andryanpun memulai bisnis onlinenya dengan iseng belaka. Ia mulai tahu tentang bisnis online sejak kelas 2 SMP sejak memiliki blog pribadi. Berbekal sebuah blog yang awalnya berisi kegiatan harian dengan polesan humor, Andry mulai melanglang dunia maya. Pria yang bercita- cita menjadi novelis ini mendaftar di sebuah situs penyalur review online. Dengan mengikuti situs itu, Ia bisa dibayar asalkan mereview jasa atau barang dari perusahaan orang lain. Setelah ia mendapatkan hasil nyata, Andry mulai serius menekuni lahan dollarnya.

Pria penggemar pokemon ini bercerita bahwa proses mendapatkan uang dari internet itu tidak terlalu sulit. Dulunya ia hanya suka browsing dan memakai situs pertemanan saja. Begitu ia tahu bisa mendapatkan dollar dari internet, ia mulai rajin browsing tentang bisnis online tersebut. Di dunia maya bertebaran semacam ‘penyalur’ blogger yang ingin mencari pendapatan dari dunia maya. Di situs- situs penyalur tersebut, kita bisa mendaftarkan diri kita dan mulai menunggu klien yang datang untuk direview. Begitu klien- klien itu berdatangan, maka dollarpun dengan lancar akan mengalir ke rekening kita. Tentunya si penyalur sendiri mendapatkan persenan dari hasil kerja kita. Persenan itu berbeda- beda jumlahnya tergantung situs penyalur yang kita ikuti. Nanti uang- uang hasil kerja kita akan ditransfer ke paypal kita dan bisa kita nikmati setelah dirupiahkan. Karena gampangnya melakukan bisnis online, di dunia maya sudah banyak kita temui blogger- blogger yang juga berkecimpung dalam bisnis online. Andryan sendiri sudah mendapatkan hasil kerjanya bahkan dari usia yang sangat muda.

“Kelas 2 SMP saya udah dapet hasilnya, tapi belum punya paypal, hangus deh duitnya,” tutur Andyan sambil tersenyum kecil. Karena keterbatasan itulah ia akhirnya di kelas 3 SMP menghentikan aksinya di dunia maya. Namun tentu sekali mengecap keuntungan, akan ingin merasakan lagi, hal itu juga yang dialami oleh Andry. Ia kembali melancarkan aksinya berbisnis online saat kelas 1 SMA. Berbekal paypal barunya, Andry memasuki beberapa penyalur review online. Kini ia bahkan bisa meraup 100 dollar tiap bulan karena ketekunannya ‘beraksi’. Menurut anak pertama dari pasangan I Pt Tresna dan I Gst Ag Md Ayu Widya ini, banyak hal yang harus dijaga dalam berbisnis online. Salah satu yang paling penting ialah kepopuleran blog sendiri. Karena dengan blog yang populer maka job akan mengalir dengan deras.

Andryan sendiri mencari job- job ini bukan tanpa alasan. Ia percaya seharusnya remaja sekarang tidak menyusahkan bahkan membebani orangtua mereka dengan gaya hidup. Maka pria yang juga memiliki hobi menyanyi ini berusaha memenuhi sendiri kebutuhan lainnya seperti membeli barang yang ia perlukan. Hal serupa juga disampaikan Karen. Menurut Gadis yang lahir 17 tahun lalu ini, ia berusaha mandiri dan tidak bergantung pada orangtua sejak dini.

“Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada orangtua kelak, maka saya berusaha mencari uang sendiri dari sekarang. Itupun anjuran ayah saya kok,” ucap Karen sembari tersenyum simpul. Lagipula menurut gadis yang berangan- angan membuat komik yang akan mengubah dunia ini dengan berbisnis online ia sudah berinvestasi dengan baik juga sebagai pembuktian dirinya melalui kreatifitas yang dimiliki.

Hal serupa diutarakan oleh Andyan, ia percaya dengan berjejaring di dunia maya melalui blog, selain menambah kreatifitas, ia juga bisa sharing ilmu dengan penghuni dunia maya lainnya. Selain blog, Andryan dan Karen juga kerap menggunakan Facebook, Twitter dan situs jejaring sosial lainnya untuk mencari teman baru dan mempromosikan jasa- jasa mereka.