ALJABAR KEPEMIMPINAN

Pemilihan pemimpin sudah di depan mata lagi. Seluruh rakyat kembali dibingungkan dengan maraknya pameran foto calon pemimpin dan janji-janji yang diumbar. Senyum manis para calon akankah berubah menjadi sumpah serapah begitu mereka tidak terpilih?

Setiap lima tahun kita mengalami pemilihan umum, baik itu calon legislatif ataupun eksekutif. Tentu berbagai cara ditempuh para calon untuk menggaet pemilih sebanyak mungkin. Ada yang terpilih namun tak sedikit yang menelan kecewa. Tak jarang kita mendapati para calon pemimpin yang hengkang begitu saja saat dirinya tidak terpilih. Entah apakah hal tersebut merupakan pola atau kesepakatan tidak tertulis dari para calon ataukah memang mereka bermental pasir, yang begitu tertiup angin langsung hilang tak berbekas. Dengan berbagai visi misi berbeda dari masing- masing partai, seharusnya Indonesia bisa semakin jaya. Pembangunan In.......donesia seharusnya bukan hanya  tanggung jawab pemimpin bangsa, melainkan pula seluruh kalangan masyarakat terutama mereka yang pernah ingin menjadi pemimpin.
Sehubungan dengan hal tersebut, tentunya para calon yang tidak terpilih juga menyumbangkan jerih payah mereka dalam pembangunan Indonesia. Semua kalangan tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi Indonesia. Visi dan misi mereka akan mubazir bila tidak direalisasikan. Seharusnya para calon yang belum terpilih menunjukkan keseriusan mereka dalam membangun Indonesia. Caranya sendiri bisa bermacam- macam mulai dari mewujudkan visi dan misi mereka sampai membantu sang pemimpin terpilih.
Berangkat dari itulah kita harus menyaring dengan benar siapa-siapa saja yang akan masuk di radar kita sebagai calon pemimpin yang handal.  Seperti yang pernah diungkapkan Putu Supadma Rudana- salah seorang calon legislatif, pemimpin ialah pelopor dalam menggawangi masyarakat yang sejahtera. Iapun meyakini, sosok pemimpin haruslah mampu menjadi inspirator bagi seluruh masyarakat. Pemimpin yang baik juga seharusnya memberikan contoh yang baik bagi masyarakatnya. Apa jadinya indonesia jika calon pemimpinnya saja bermental pasir. Mereka yang sudah pernah berkomitmen ingin memajukan Indonesia seharusnya menuntaskan pekerjaan mereka.

Hal yang sangat disayangkan memang, tapi tidak bisa dihindari. Terkadang memang banyak calon pemimpin karbitan yang hanya unjuk janji tanpa bukti. Hal yang paling nyata terbukti saat mereka begitu saja meninggalkan pekerjaan mereka dan melenggang pergi tanpa beban saat tidak terpilih.
Secara tidak langsung, mereka menunjukkan ketidaksiapan mereka menjadi seorang pemimpin. Pemimpin haruslah tangguh dan tidak goyah karena badai sedashyat apapun. Dengan menunjukkan pada masyarakat kesungguhan mereka dalam memimpin, sebenarnya mereka sudah menyemangati diri mereka sendiri.
Masyarakat bukanlah boneka karet yang dapat dipermainkan seenak hati. Merekapun kini sudah dapat mengidentifikasikan berbagai calon dari tindak tanduknya. Dengan merealisasikan visi dan misi para calon, meskipun tidak terpilih tentu saja masyarakat akan segan terhadap mereka. Seharusnya itulah yang dilakukan para calon yang tidak terpilih. Bukannya malah hengkang begitu saja. Kadang mereka malah terlihat tidak mau tahu terhadap apapun kesulitan rakyat atau malah pura-pura tidak tahu. Tutup mata, tutup telinga, begitu istilahnya. Namun yang sangat menggelikan, mereka akan kembali lagi untuk mengemis simpati masyarakat di pemilihan mendatang. Sungguh terlihat tidak intelek.
Apakah seluruh calon pemimpin kita seperti itu, hanya melakukan tanggung jawab karena disorot sedemikian terang oleh masyarakat.  Melakukan semua kewajiban karena itu adalah kewajiban mereka. Tanpa sedikitpun embel-embel ingin Indonesia yang lebih baik dari yang sekarang.
Saat ditanyai untuk jadi pemimpin, setiap orang berlomba- lomba menjadi yang terdepan. Apakah memang hal itu datang dari lubuk hatinya ataukah hanya sekedar mencari popularitas demi tujuan lain yang tidak kita ketahui.
Jika dipikirkan masak- masak, hal itu sangat menyedihkan. Mengingat negara kita sebenarnya adalah negara yang besar hanya kurang perawatan. Indonesia sama seperti seorang bayi, akan baik jika diasuh oleh orang yang benar namun akan hancur dan rusak jika diasuh orang yang salah.
Untuk itu, dengan segala kesempurnaan yang telah kita miliki marilah kita membangun bangsa sebagaimana yang kita inginkan. Tentu saja dengan komitmen di dalam diri masing- masing. Minimal kita dapat berusaha mewujudkan hal- hal yang sudah pernah kita janjikan pada masyarakat. Bukannya malah hengkang dan tidak ambil pusing terhadap hal lain hanya karena tidak terpilih. Banyak yang beralasan karena sudah menghabiskan banyak uang untuk pemilihan namun malah tidak terpilih, mereka kecewa. Namun yang perlu diingat ialah hal itu merupakan pilihan masing- masing individu. Tidak ada yang salah atau yang benar di dalamnya.
Menciptakan hal- hal yang dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang sangat baik  dilakukan. Dengan melakukan hal yang baik tentu hatipun terasa damai. Hati yang damai berimbas pada pikiran yang baik. Pikiran yang baik berimbas pada kelakuan yang bahkan lebih baik lagi. Maka para calon yang tidak terpilih tadi tentu tidak akan dicap hanya berebut kekuasaan saja. Atau bahkan dicap tidak siap menjadi seorang pemimpin. Melainkan memang ingin melakukan sesuatu untuk Indonesia.
Seperti kata seorang teman, belajar aljabar amatlah sulit bila kita tidak siap. Tentu kita berharap ungkapan  itu tidak akan disamakan dengan ketidaksiapan calon pemimpin yang tidak terpilih nanti.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *