Pendidikan Seksual, REMAJA (TIDAK) HARUS TAHU!!!

“Plaaakk”, mungkin tamparan telak yang akan diterima oleh si Ucup begitu mengajak Wati-siswi kelas 3 SMA melakukan seks pranikah. Tapi Wati malah mengiyakan ajakan ngeseks oleh Ucup. Mengapa?? Karena ia tak tahu betapa bahaya dan tidak mulianya perbuatan tersebut.

sex education, ini nih yang perlu kita tahuu....

Memang kasus-kasus seperti itulah yang sering ditemui oleh masyarakat kita. Ketidaktahuan mereka tentang bahaya seks pranikah dan dampak-dampak negatifnya membuat mereka buta dalam menjalani hidup yang makin lama makin mendekatkan diri pada seks pranikah (dalam konteks ini khususnya para remaja).

“Saya baru tahu bahwa ada dampak negatif melakukan seks pranikah pada saat ada seminar tentang seks education di sekolah. Itupun tidak terlalu mendetail karena memang cakupannya luas sekali,” ujar Kartika-seorang siswi kelas 3 SMAN 7 Denpasar ketika ditanyai pendapatnya tentang dampak seks pranikah. Jawaban-jawaban dari beberapa siswa maupun siswi lainnyapun nyaris tak berbeda dengan yang diungkapkan Kartika tentang penegtahuan mereka seputar seks yang memang sangat dangkal sekali. Beberapa bahkan mengakui sulitnya informasi yang mereka dapatkan tentang seks education adalah karena pandangan tabu masyarakat kita. “Mau nanya ma Orangtua takut, di sekolah gak diajarin, nyari dari Internet ditakut-takutin tentang yang jelek-jelek…Takut salah bukalah, salah nangkeplah, apalah.. Kita kan bingung juga jadinya,” papar Dimas, siswa kelas 1 SMAN 3 Denpasar perihal sulitnya mendapatkan informasi yang layak tentang seks education.

Sehubungan dengan berbagai masalah yang dihadapi para remaja seputar keterbatasan informasi tentang masalah pelik belakangan ini yaitu seks pranikah serta berbagai dampak negatifnya, maka baru-baru ini diresmikanlah sebuah kurikulum baru yangmana di dalamnya terselip beberapa materi tentang seksual education. Hal ini merupakan kerjasama daripada Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali, Komisi Penanggulangan AIDS Kota Denpasar dan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Denpasar. Beberapa materi yang tersirat maupun tersurat dalam pelajaran “selipan”di Biologi untuk IPA dan Sosiologi untuk IPS itu antara lain: NAPZA, cara kerja Virus HIV, hal-hal negatif yang silakukan remaja pada masa pubertas dan terkena NAPZA karenanya, cara-cara reproduksi, perilaku menyimpang seksual, mekanisme virus HIV, jenis-jenis NAPZA dan hal-hal lainnya yang juga berhubungan dengan NAPZA dan masalah seksual.

Pelajaran mengenai NAPZA dan masalah seksual ini dikatakan akan dimulai tahun 2006. Pembelajaran murid-muridpun didukung oleh ekstrakurikuler yang berhubungan dengan hal tersebut. Namun demikian, tentu masih banyak kendala yang akan dihadapi oleh guru maupun siswa perihal pelajaran “selipan” baru ini.

“Sebenarnya pelajaran ini tidak baru. Dari dulu dalam pelajaran-pelajaran yang diselipkan itu sudah ada materinya, hanya saja kali ini lebih diperdetail lagi,” ungkap Dr. Oka Negara perihal mengapa hanya dalam pelajaran itu saja terdapat materi-materi seksual dan NAPZA. Menindaklanjuti kebutuhan remaja dalam hal pembelajaran seksual education dan NAPZA, hal-hal seperti ini yaitu menyelipkan materi pada pelajaran yang sudah ada dinilai sangat bermanfaat, setidaknya agar para siswa mengetahui garis besar daripada masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.

“Pelajaran seksual dan NAPZA di sekolah sangat dibutuhkan karena pada dasarnya memang hal itulah yang menjadi masalah besar bagi kami remaja yang masih gak ngerti apa-apa, tapi kalo bisa sih mendingan dijadiin pelajaran sendiri aja daripada diselipin. Kan jadi kaku pelajarannya kalo nyelip, gurunya juga belum tentu siap kalo ada pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan murid karena itu memnag bukan bidangnya,” ujar Dimas lagi dengan penuh semangat menanggapi adanya pelajaran “selipan” ini.

“Kita memang layak mendapatkan pelajaran seperti ini. Banyak orang dewasa yang beranggapan bahwa remaja belum saatnya tahu tentang hal-hal ini. Namun para remaja sebaliknya, sangat ingin mengetahui sebanyak mungkin tentang hal yang di”tabu”kan baik untuk proteksi diri ataupun hanya sekedar tahu saja. Oleh karena itulah saya sebagai remaja merasa hal ini sebagai pemenuh kebutuhan kami meskipun ada hal-hal yang masih harus diperbaiki… Karena kami memang harus tahu apa yang kami hadapi!!!” jelas Kartika berapi-api saat ditanyai pendapatnya tentang pelajaran selipan ini. Yup..para remaja memang berhak untuk tahu. Tul gak? Benaaaarrr (Lina P.W.)

* dimuat dalam Kulkul media HIV/AIDS dan Narkoba pada rubrik Aksi (khusus remaja) edisi 21 Oktober 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *