Penida dan Kegilaan Dewasa Tanggung #BagianTengah

Setelah kurang lebih 45 menit bergoyang bersama si speedboat di tengah ombak, akhirnya kami mencapai Penida, uyeee! Di dermaga Toya Pakeh kami berlabuh. Saya menghirup udara Penida untuk pertama kalinya. Asin, logis karena kami masih di pesisir.

Pemandangan di dermaga tak jauh-jauh dari kegiatan laut. Ada yang masih memarkir kapalnya, ada yang sedang turun dari kapal, beberapa ibu memilah rumput laut hasil panen untuk dijemur dan ada juga yang tersenyum manis ke arah kami – supir supir angkot yang sedia mengantar orang-orang yang baru datang dari seberang. Karena dikatakan penginapan kami dekat, tinggal berjalan 15 menit dari dermaga, jadilah kami acuh tak acuh ke para supir angkot itu. Setelah berjalan ke luar arah jalanan, kamipun menemui keganjilan. Sepi sekali di jalanan, tak banyak rumah penduduk di sekitar dermaga. Entah feeling siapa, akhirnya kami menghentikan sebuah angkot, bertanya harga dan naik langsung menuju penginapan.

Dengan 10 rebu rupiah kamipun menuju penginapan yang dijanjikan, yang ternyata jaraknya 20 menit naek angkot dengan kecepatan cukup bikin gempor kalo disandingkan dengan jalan kaki (whooops). Penginapan kami sebenarnya sudah cukup bagus, namun si ibu tidak terlalu banyak omong dan tampaknya tempat ini jauh dari mana mana sehingga kami menunggu bapak yang akan mengantar kami berkeliling dengan hanya 550 ribu untuk 2 hari demi mencari tempat lain yang dekat dengan tujuan kami. Saya mengatakan hanya karena si supir angkot tadi setelah kami tanyai tarif untuk berkeliling memasang 750 ribu dengan tujuan yang kurang lebih sama dengan si bapak.

Si bapak pun datang, pak Panca panggilannya. Kabar buruk karena penginapan di sekitar Crystal Bay – tempat diving populer di Penida sudah penuh. Jadilah kami berpikir di atas mobil yang entah menuju ke mana. Bli Panca – begitu saya memanggilnya supaya tak terkesan terlalu tua (Aespeh), mengatakan ada penginapan di sebuah yayasan, nampaknya beliau sering ke yayasan ini. Jadilah kami mampir sekejap ke sana. FNPF – Friends of National Parks Foundation nama yayasan itu, bergerak di bidang pertanaman, dulu bekerja sama dengan yayasan lain yang bergerak di bidang persatwaan seperti burung. Yayasan ini tempatnya luas sekali, hijau dan asri pula, kami melihat beberapa burung Jalak Bali terbang bebas di pekarangannya. Dipelopori oleh pak Bayu yang merasa miris terhadap lingkungan sekitar Penida. Dan syukurnya, di yayasan ini kami bisa menyewa dormnya untuk semalam dengan harga yang cukup murah – 50 ribu perorang.

Di yayasan ini kami tak hanya tidur dan menikmati kerindangan pekarangannya, tapi juga belajar sedikit banyak dari cerita Mike – Volunteernya tentang tanaman, kehidupan di Penida dan Jalak Bali. Mari sebut bagian ini Melajah sambil menikmati alam.

*tetep bersambung – biar gak capek baca perjalanan yang menuai banyak cerita ini J

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *