Mitos Berputar di Antara Kawat Gigi

Tepatnya awal tahun 2011 saya memutuskan pakai kawat gigi. Awalnya memang tak pernah terpikirkan akan hal itu. Namun dalam perjalanan, perasaan gigi yang semakin bermasalah membuat pilihan tak ada selain pasang kawat gigi.

Gigi saya berotasi. Ya, berotasi seperti Bumi mengelilingi Matahari, seperti Bulan yang selalu mengitari Bumi. Weits, nanti dulu, om, mbak, mas, tenang dulu, gigi saya gak tiba-tiba membentuk bulat seperti alien. Tarik nafas dulu, baru lanjut baca. Istilah keren dari sang dokter gigi, gigi saya yang rata (akibat pengasahan tiap malam) mengalami rotasi gigi atau pergeseran gigi yang cukup signifikan (cieh). Gigi yang awalnya rata membentuk suatu gerakan setengah lingkaran yang kalau didiamkan saja, jelas akan semakin maju. Waspada terhadap kemungkinan yang dapat terjadi di kemudian hari, pemasangan kawat gigi pun dilakukan. Kini kawat gigi dengan berbagai warna karet bertengger di gigi saya dengan harapan meratakan dan memperindahnya, ta-daaaa πŸ™‚

Dalam prosesnya, banyak orang bertanya ini itu seputar mitos berkawat gigi tentunya. Beberapa mitos misalnya sangat menyusahkan. Gimana nggak? Masa ada mitos yang bilang kalo pake kawat gigi jadi ga doyan makan. Buset! Kalo bener kan saya udah kurus nan langsing dong πŸ˜› hihi. Mitos kayak begini gak bener banget euy! Mungkin aja pas ada yang pake kawat gigi pas juga lagi diet penurunan berat badan, jadi yah pas aja gitu langsung langsing. Karena buktinya saya makan sama aja, beberapa temen yang juga pake kawat gigi bahkan tidak bermasalah saat makan, kecuali saat memakai kawat tarik dan efek males makan paling lama cuma 2 hari. Haha, gak ngaruh banget untuk pengurangan berat badan.

Kalo alasan pake kawat gigi cuma percaya mitos dan pengen kurus (yang jelas gak mungkin banget) mending mengurungkan niat yah. Kalo alasannya untuk benerin gigi, langsung aja tancap ke dokter gigi langganan dan konsultasi di sana. Kalo alasan pengen begaya, ya halal aja asal duitnya ada. Semoga menemukan panggilan hati yang tepat πŸ˜€

Dirgahayu, Kawanku

Florestia Saulima Boru Munthe (nama sebenarnya) mengundang saya untuk makan bersama di minggu sempit ia pulang ke Bali.

Sebenarnya sudah dua hari yang lalu ia mengsms saya untuk temu kangen, tapi karena kesibukan masing-masing akhirnya kami pun baru bertemu pagi ini. Teman saya ini, Tia panggilannya. Ia adalah teman SD saya yang hingga kini masih berhubungan dan cukup dekat. Demi mengikuti jejak bundanya tercinta, Ia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Tidak lama ia pulang dan bersua dengan kerabatnya di Bali, hanya seminggu dan esok ia akan kembali ke Surabaya karena hari Senin akan memulai KKN (saya masih dua minggu lagi baru mulai, haleluyaaa!).

Sebelum saya kerumahnya, ada kejadian lucu yang cukup membuat niat menggaruk kepala demikian memikat saking kocaknya. Saya seperti biasa selalu menelepon untuk memastikan keberadaannya, karena sinyal hp tadi pagi bermasalah. Saat saya menelepon, Ibunyalah yang mengangkat. Bagini kurang lebih percakapan yang terjadi di telepon tadi :

“Halo tante, Tianya ada?” saya bersuara dengan semangat
“Ah, Tia (sependengaran saya), sudah berangkat ke Jakarta. Mendadak untuk tes masuk rumah sakit” jawab Ibunya kalem
“Hah, yang bener tante? katanya hari Jumat baru balik?” saya terkaget-kaget karena setahu saya Tia baru akan balik hari Jumat
“Iya mendadak pergi. Ini siapa ya?” tanya sang Tante
“Lina tante. Beneran ya Tianya udah pergi?” masih nggak percaya
“Lho, Lina mau cari Tia atau Dian?” Dian itu nama kakaknya Tia yang sekarang jadi apoteker
“Tia tante…..” bingung beneran
“OOOh Tia ada. Yang ke Jakarta itu Dian.” Lha? Eh, Lho? Jadi yang tante denger adalah Dian (yah huruf idupnya pas dengan nama adiknya), tapi saya dengernya Tia…. Jdeeer, jadilah saya dan tante tertawa sejadi-jadinya dan berakhir dengan saya bicara pada Tia. (pastikan artikulasi anda jelas saat menelepon)

Setelah bertemu beneran dengan Tia di rumahnya, kami langsung capcus makan ke Tipat Tahu Grenceng merayakan hari lahirnya :D. Sebenarnya kami juga berencana ke beberapa toko untuk mencari majalah/buku bekas murah, tapi apa daya, manis Galungan sebagian toko sedang menutup gerainya untuk mengusir pelanggan yang datang saat libur. Bahkan kami sempat berkeliling mencari dagang rujak saking ngebetnya. Kalau mau dianalogikan, mungkin seperti bola pimpong saking dari Gatsu balik ke Gunung Agung terus ke Hayam Wuruk demi sepiring rujak! Dan ternyataaaaa, satu-satunya dagang rujak yang buka tadi adalah yang tepat 3 rumah sebelum rumah Tia, eng ing eng……. πŸ˜›

Menghabiskan waktu bersama Tia hari ini membuat saya mengingat masa SD dulu, saat kami bahkan berjalan kaki menyusuri setiap mall, taman dan jalan dari rumah yang tak bisa dibilang dekat. Akhirnya, hari ini, tanggal 7 Juli 2011, selamat ulang tahun ke-22 kawanku, semoga semua apa yang diharapkan, diimpikan dan dicita-citakan bisa tercapai πŸ™‚

Kawan-kawan saya….

Cuma iseng menggambar kawan-kawan yang hampir selalu bersua di tiap hari kala kesibukan kampus merayap…

dari kiri-
Eunike – yang doyan ngobrol dan bergosip
Saya sendiri – ehm… doyan mendengarkan orang karena saya rajin menabung dan gemar menolong (eh)
Dwi – doyan molor, kadang suka nerawang
Gundi- tiada hari tanpa berpuisi (secara harfiah atau mental dan tindakan)

Pembuatan gambar –
sejam doang, dengan tekad iseng yang membara disertai pensil, spidol, dan prisma color seadanya πŸ˜€