Nasi Goreng Monster Ca’ Edi, Porsi Ngamuk Rasa Ciamik

Tik… tik… tik…. suara jam di hape saya seakan memburu sang waktu untuk mempercepat langkahnya menuju jam pulang kuliah. Pergi dengan perut kosong ternyata sangat berdampak besar dalam kehidupan perkampusan yang sangat kejam. Ocehan beberapa teman dan dosen seakan neraka di kelaparan yang dashyat ini.

“Ada pertanyaan?” ujar dosen yang sebenarnya tidak terlalu membosankan tapi menjadi sangat ingin disingkirkan karena balada gemuruh perut. Jari tengah dan telunjuk saya satukan, tanda keberuntungan katanya. Hati kecil yang biasanya hanya membisikkan intuisi kini berteriak semoga tidak ada yang bertanya. Syukurlah ternyata memang tak ada yang bertanya. Dari tampang teman-teman sih tampak semuanya menyimpan keinginan terpendam. Bisa dilihat Nike disebelah sana, tangannya sudah gatal menggapai komik jepang faforitnya, atau Gung De yang daritadi mengoceh soal Lady Gaga seperti ingin berjoget dangdut mengikuti alunan lagu si ratu dalmantion. Kadang terlihat kumpulan anak belakang yang melempar-lempar tisu kecil yang sudah digulung jadi bola. Intinya, orang yang mengacaukan kekhusyukkan doa teman-teman untuk segera pulang dan makan adalah seorang pembawa bencana.

Syukurnya teman-teman cukup cerdas untuk tidak menjadi korban jagal teman- teman yang lain dengan cara diam dan memandang dosen dengan tatapan (sok) bersalah karena tidak bertanya. Biasanya oknum-oknum seperti itu hanyalah yang suka duduk di depan dan memperhatikan dosen tanpa berkedip. Dosen sepertinya cukup mengerti akan keadaan para mahasiswanya dan dengan setengah hati tersenyum sambil berkata “Oke kalo tidak ada kita ketemu minggu depan.” Sontak semua teman bersorak girang, menyambar tas masing- masing dan meluncur dengan gaya ballerina ke pintu terdekat.

Panas membara siang itu tidak akan menyurutkan tekad saya untuk makan besar. Maka begitu teman-teman selesai berkumpul dan menyuarakan keinginan untuk makan yang sangat besar, kami sepakat makan di warung CA’ EDI yang bertempat di jalan depan bakso dwi rasa malang di seberang Resman. Kelaparan yang sangat membuat rupa kami mendekati zombie dan hanya bisa dipulihkan dengan makan makanan sehat, murah dan banyak. Yangmana semua kriteria itu bisa didapatkan di CA’ EDI.

Singkat cerita, sampailah kami di warung CA’ EDI yang cukup sederhana ini. Kami mulai memesan dengan nafsu terumbar jelas. Saya kira menu yang patut menjadi rajanya adalah nasi gorengnya. Kadang kami iseng memberi sebutan nasi goreng monster. Hal yang tidak aneh mengingat porsinya sangat ngamuk. Kalau di Kreneng nasi gorengnya seharga 8rb rupiah tanpa telor dan bumbu yang jelas, di CA’ EDI nasi gorengnya dengan harga hanya 7rb seukuran 2x porsi kreneng dengan telor yang indah serta bumbu yang sangat dashyat. Kalau suka pedas, kita bisa minta dibuatin yang pedas. Kita memang jarang mendengar kualitas dibarengi kuantitas (biasanya hanya salah satunya yang dominan), namun di sini kita mendapatkan keduanya seimbang! WOW!

Kalau memang lewat sana saat makan siang bisa dicoba nasi goreng buatan pasangan tua ini. Saat menikmati nasi goreng atau chinese foodnya yang lainpun kita disuguhi dengan suasana apik dari masa lalu. Perabotannya seperti perabotan jaman nenek saya. Sesekali alunan lagu-lagu daerah diputar menemani para penikmat makanan cina khas warung ini. Cihuuui…. ;p

17 Comments

  1. Rasa cinta pasti ada

    Pada makhluk yang bernyawa

    Sejak dulu hinggi kini

    Tetap suci dan abadi

    Tak kan hilang selamanya

    Sampai datang akhir masa

    (Lagu Renungkanlah, ciptaan dan dinyanyikan siapa ya,lupa…)

    ——–

    Apakah anda mempunya rasa cinta ? Jika ada tuangkanlah dalam puisi dan daftarkan pada acara PARADE PUISI CINTA di http://abdulcholik.com/acara-unggulan/acara-unggulan-parade-puisi-cinta

    Sahabat yang lain sudah disana semua,tinggal menunggu puisi anda. Hadiahnya menarik lho, maka segera ikuti acara unggulan ini.

    Salam hangat dari Surabaya

  2. Sepertinya saya tau tempatnya. Tapi blum pernah ke sana. Boleh dicoba nih..

    Btw, baca tulisanmu saya jadi ingat masa-masa kuliah dulu. Tapi biasanya kalau sudah lapar berat, saya ndak pakai menunggu teman-teman untuk makan. Langsung ngibrit saja ke warung makan.

Leave a Reply to Winarto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *