Dari Pecandu Jadi Pemandu

Hasil Studi Lapangan di Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA)

Data survei menyatakan 8 dari 12 orang pengguna narkotika, alcohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya sudah pasti terjangkit HIV/AIDS.

Dengan fakta di atas serta tingginya jumlah pengguna Narkotika, alcohol, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) khususnya di Bali tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Terutama karena kenyataan bahwa pengguna NAPZA sangat rentan terjangkit berbagai penyakit menular, salah satunya HIV/AIDS. Bayangkan saja, dalam survei yang dilaksanakan di lapas Krobokan, 60% pengguna NAPZA positif HIV. Diperlukan informasi yang tepat untuk mensosialisasikan hal- hal seperti ini pada generasi muda. Salah satu cara yang paling ampuh ialah dengan kunjungan ke panti- panti rehab ataupun pusat informasi mengenai NAPZA, seperti yang dilakukan mahasiswa fakultas sastra Universitas Udayana, Selasa (8/6) lalu dengan dipimpin oleh Dosen mata kuliah Metode Penelitian Ilmu Budaya (MPIB).

Menimbang pengetahuan tentang NAPZA dipandang sangat perlu diketahui oleh generasi muda, kunjungan kali ini malah sangat dekat dengan dunia NAPZA. Tempat tujuan penelitian lapangan ialah Yayasan Kesehatan Bali (YAKEBA) yang bertempat di daerah Sidakarya, Denpasar, Bali.  Didirikan tahun 1996 oleh seorang warga Negara Australia, YAKEBA bertujuan untuk memberikan bantuan kepada korban- korban NAPZA. Hal ini karena pada tahun itu, bantuan untuk para pecandu sangat minim terutama dalam hal informasi. Diperparah dengan adanya stigma dari masyarakat yang dalam pikirannya seolah- olah telah ditanamkan paradigma buruk mengenai para pecandu, bahwa mereka itu tidak berguna, selalu berperangai buruk dan merupakan sampah masyarakat.

YAKEBA memiliki beberapa program demi menebarkan kebenaran informasi pada masyarakat dan pertolongan serta motivasi pada para pecandu. Diantaranya penjangkauan, rehab, konseling, pembentukan kelompok pendidik sebaya sebagai upaya pemberian informasi pada generasi muda, dan sebagainya. Program- program di YAKEBA terbukti telah banyak membantu kalangan pecandu. Hingga tahun 2010, lebih dari 700 pecandu di daerah Denpasar dan Badung telah dijangkau untuk mengikuti rehab bahkan beberapa diantaranya ikut mengabdikan diri di YAKEBA sebagai pemandu kawan kawan pecandu lainnya agar bisa termotivasi untuk kembali ke jalan yang benar dengan lebih cepat.

Kadek Adi, direktur YAKEBA saat ini salah satunya. Mantan pecandu yang sudah lama bergabung di program penjangkauan dan rehab ini mengaku sangat menyesal saat akhirnya terjerumus ke dunia NAPZA. Berasal dari keluarga baik- baik yang cukup berada, sama sekali ia tidak terpikir untuk mencoba obat-obatan terlarang. Adi ngoyong-sapaan akrabnya, merupakan siswa sibuk saat SD,SMP, maupun SMA. Ia tergabung dalam klub bulu tangkis dan basket saat SMA. Ketika mengikuti salah satu kejuaraan, gugup karena akan bertanding ia bercerita pada temannya yang juga sesama atlit basket. Oleh si teman, ia diberikan dua buah pil, yang saat itu disuruh minum dengan salah satu minuman bersoda. Demi mengatasi gugup pra pertandingan, iapun mau meminumnya. Keesokan harinya badan menjadi segar dan bisa bermain dengan kondisi prima. Setelah itu ia terus melanjutkan konsumsi obat tersebut. Penasaran dengan obat apa yang diminumnya, ia bertanya ke apotek terdekat dan mendapati bahwa obat yang selama ini dikonsumsi ialah obat tulang untuk usia 40 tahun ke atas. Pemakaiannya tetap berlanjut bahkan dengan dosis yang semakin meningkat. Hingga di kelas 3 SMA ia ditawari Heroin oleh salah seorang temannya yang tidak bisa membayar sepatunya (saat itu Adi sambilan menjual sepatu-sepatu bekasnya). Dengan kecanduan yang semakin besar, tentu pengeluaranpun semakin membengkak, bahkan ia pernah menggotong 2 tabung gas dengan sepeda gayung demi mendapatkan uang untuk membeli obat, keluarga yang sudah pasrah hanya bisa mendoakan supaya ia kembali sadar. Rehab beberapa kali namun tidak didasari kemauan sendiri membuat pria berkulit hitam ini sering kabur dari tempat rehab. Pernah juga dibawa ke RSJ dan psikiater. Akhirnya benar- benar berkeinginan rehab sejak tahun 2000 dan sukses hingga sekarang. Mulai aktif di YAKEBA sejak tahun 2003.

Lain lagi kisah Chandra yang juga staff di YAKEBA. Pemuda yang menjadi pecandu sejak 1996 ini mengaku berawal dari coba- coba.  Awalnya mencoba extacy dan akhirnya candu pada heroin. Akhirnya ia sadar dan memulai terapi methadone. Meski awalnya agak susah putus zat dan menyebabkan sakaw, ia tetap menguatkan tekadnya sehingga iapun berhasil lepas dari jeratan narkoba.

Demikian pula dengan Lorenzo, mengkonsumsi alcohol sejak SD, ia tumbuh dengan obat- obatan, doping, rokok juga bergelimang alcohol hingga dewasa. Ia bahkan sering keluar masuk penjara dan divonis positif HIV. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya memberikan informasi yang benar bagi generasi muda.

Kisah lainnya dari Reza Yudha, juga mencoba obat- obatan sejak kelas 6 SD. Obat pertama yang dicobanya benar- benar membuat teler. Mual dan merasa aneh dengan obat tersebut, iapun memeriksakan dirinya ke puskesmas terdekat dan mendapati dirinya mengkonsumsi obat untuk anjing gila. Tidak kapok dengan pengalaman tersebut, ia lanjut mengkonsumsi obat-obatan hingga kecanduan heroin dan diusir dari rumahnya.

Mengkonsumsi obat-obatan terlarang memang sangat berbahaya serta berdampak besar yang buruk bagi kehidupan. Bahkan menurut cerita para staff YAKEBA, pemakai shabu-shabulah yang paling ‘gawat’. Pernah suatu ketika sedang ada kelas rehab untuk para pecandu termasuk pecandu shabu. Saat sedang asyik menerima materi tentang kepemimpinan, tiba- tiba si pecandu shabu lari dan bersembunyi di bawah karpet. Ditanya lebih lanjut ia mengaku merasakan gempa bumi ilusi dan hanya dia yang merasakannya. Atau saat menonton malam hari tiba- tiba ia membakar televisi karena berilusi televisi itu melawan bahkan menantangnya.

Menurut Kadek Adi, hal- hal seperti ilusi itu memang sering terjadi di dalam rehab. Hal itu juga bermuara pada perbedaan pola pikir orang normal, pecandu dan mantan pecandu. Kalau orang normal biasanya pola pikirnya berawal dari Thinking, diikuti Action dan diakhiri Feeling. Para pecandu memiliki pola pikir yang berawal dari Feeling, diikuti Action, baru diakhiri Thinking. Sedangkan mantan pecandu pola pikirnya diawali Thinking, diikuti Feeling dan diakhiri Action. Hingga sampai kapanpun pola pikir mantan pecandu akan selalu berbeda dengan orang normal.

Karena itu, kesadaran para pecandu disebut kesadarn normal +. Sampai saat ini, YAKEBA tetap berusaha menjangkau sebanyak mungkin pecandu demi memotivasi mereka bahwa ada ha lain yang lebih berguna untuk dilakukan serta menghilangkan stigma buruk tentang pecandu dari masyarakat.

One Comment

Leave a Reply to areef Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *