Air Bersih, Cuma Sepotong Dongeng?

Brrryoook… brrryoook… Seorang pria tua berkulit hitam nampak menuangkan berember-ember air berwarna abu ke sebuah wadah besar di bawah tanah. Peluh mengucur deras, membasahi setiap senti wajah keriputnya. Namun lengannya tiada henti bergerak. Tak dipedulikannya bau busuk yang menguar dari air itu.

Rasa lelah datang berkali-kali menggodanya. Namun ia tetap menuangkan air itu. Sesekali matanya mengerling sungai penuh sampah di sebelah rumah tempatnya tinggal bersama keluarga. Sungai itu tak kalah bau dari air abu yang dari tadi digarapnya.

Huda nama pria itu. Perantauan asal Banyuwangi itu memang sudah bertekad hidup tanpa jorok. Ia selalu mengolah limbah rumah tangganya sendiri. Entah dijual lagi, entah dipakai sendiri. Apalagi tempat tinggalnya di kawasan Pucuk Sari Ubung memang sangat tak terkendali kesehatannya.

“Dulu, sebanjar sini sakit diare dan muntaber ‘gak tau penyebabnya apa,” ujar Huda berdecak. Ia mengakui ketidaktahuan penduduk lingkungannya tentang lingkungan menjadi penyebab beberapa penyakit. Setelah diusut lebih lanjut, ternyata asal penyakitnya dari sumur resapan air yang sudah terkontaminasi.  Begitu sakit, barulah seluruh warga mulai sadar pentingnya menjaga lingkungan.

kondisi sungai di kawasan pucuk sari

kondisi sungai di kawasan pucuk sari

Asal kontaminasi itu di ketahui merupakan resapan dari septi tank warga yang tak pernah dikuras. Belum lagi warga-warganya yang asal saja membuang limbah-limbah mereka di sungai kecil yang melewati daerah itu. Di wilayah Pucuk Sari, warganya kebanyakan perantau yang memiliki usaha-usaha kecil. Contoh saja pengolahan tahu dan tempe, pembuatan nasi bungkus hingga goreng-gorengan. Banyak diantara mereka yang membuang limbahnya di sungai tersebut.  Terlebih lagi resapan air septic tank warga yang belum pernah dikuras.

“Kotoran dari Septic tank warga yang tak pernah dikuras akhirnya meresap dan mencemari air tanah. Itu sangat berbahaya,” ujar Dewa Alit Setiarsa, Program Manager BaliFokus.  Menurutnya, kandungan bakteri yang terdapat dalam kotoran manusia bisa menimbulkan berbagai penyakit, terutama bakteri E-coli. Lambat laun, bilamana mengendap dalam waktu lama, tentu air resapan seperti sumur dan sungai sekitar akan sangat tercemar.

Hal serupa juga disampaikan oleh A.A. GA Sastrawan, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bali. Ia menuturkan keprihatinannya terkait isu pencemaran air. Dari banyaknya permasalahan air, isu kontaminasi cukup banyak menimbulkan kerugian. Mulai dari kesehatan hingga berkurangnya air bersih. Apalagi menurut laporan Dinas Lingkungan Hidup tahun 2009, rumah tangga di Bali dan NTB mengambil 33% dari jumlah total kebutuhan air, yang kalau dihitung bisa mencapai 5,3 juta meter kubik pertahun. Mirisnya, hasil survei tahun 2007, dinyatakan 23% penduduk tidak memiliki jamban sendiri dan sangat memungkinkan pencemaran air melalui resapan kotoran. Kalau dibiarkan seperti ini, menurutnya dalam waktu 10 tahun lagi, air resapan tak akan bisa dimanfaatkan kembali. Iapun menambahkan pentingnya peran seluruh masyarakat dalam hal ini, apabila kita masih ingin menikmati air bersih di kemudian hari. Diperlukan sosialisasi dengan pendekatan masyarakat untuk menyadarkan bahaya sanitasi air.

Demi menyadarkan bahaya sanitasi, BaliFokus bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup sejak 2002 lalu membuat sistem Sanitasi Masyarakat (SANIMAS) agar masyarakat dapat mengelola sendiri limbah mereka, terutama di perkampungan kumuh. Saat ini sudah 13 titik yang terjangkau di seluruh Bali, dengan 6 titik di kota Denpasar. Wilayah Pucuk Sari, kediaman keluarga Huda adalah salah satunya. Masyarakat diberikan sebuah pembelajaran mengelola sendiri limbah cairnya agar air resapan tetap terjaga kebersihannya.

Sejak saat itu, terlihat Huda dan istri menuangkan air abu- limbah cair mereka kedalam penampungan limbah untuk diolah kembali sebagai biogas atau kompos. Air bersih, tak hanya sepotong dongeng, bukan?

(tulisan & foto : linapw)

2 Comments

Leave a Reply to Andy Putera Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *