<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>linapw</title>
	<atom:link href="http://linapw.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://linapw.com</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Apr 2012 06:22:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Penida dan Kegilaan Dewasa Tanggung #BagianMelali</title>
		<link>http://linapw.com/?p=478</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=478#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 05:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Setelah leyeh-leyeh sekejap, benar-benar sekejap karena kami langsung terbakar hasrat melali, om Viar langsung menodong Bli Wayan untuk menyewa alat Snorkeling. Jadi agenda kami siang kebus ini adalah Snorkeling! Yeaah! Yang cukup unik dari snorkeling di kawasan Nusa Penida adalah tak perlu mencari spot khusus karena semua daerah sangat indah bawah lautnya. Well, memang sih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah leyeh-leyeh sekejap, benar-benar sekejap karena kami langsung terbakar hasrat melali, om Viar langsung menodong Bli Wayan untuk menyewa alat Snorkeling. Jadi agenda kami siang kebus ini adalah Snorkeling! Yeaah!</p>
<p class="MsoNormal">Yang cukup unik dari snorkeling di kawasan Nusa Penida adalah tak perlu mencari spot khusus karena semua daerah sangat indah bawah lautnya. Well, memang sih Crystal Bay dan Manta Point wajib jadi tujuan yang harus didatengin juga kalau waktu kita panjang. Tapi kalau tidak, snorkeling di lepas pantai di depan tempat menginap pun sudah bikin orgasme!</p>
<div id="attachment_479" class="wp-caption aligncenter" style="width: 570px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=479" rel="attachment wp-att-479"><img class="size-large wp-image-479" title="snorkeling" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/04/snorkeling-560x420.jpg" alt="" width="560" height="420" /></a><p class="wp-caption-text">snorkeling at Penida. pic by Viar</p></div>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Begitu bli Wayan membawa alat-alat snorkeling, kamipun dengan hasrat menggebu memilih alat dan langsung bergegas nyebrang ke pantai. Untuk alat snorkeling lengkap kami cukup merogoh kocek 25 ribu perhari dan karena kami menyewanya 2 hari kami menghabiskan 50 ribu yang sangat wajar saking indahnya kehidupan di bawah pantai Nusa Penida.</p>
<p class="MsoNormal">Nyebur di pantai Nusa Penida kita akan disambut ladang rumput laut sepanjang 5-7 meter dari sisi pantai hingga tengahnya. Setelah ladang rumput laut, berbagai terumbu karang dan ikan dapat kita lihat di lautnya. Sepanjang mata memandang terumbu karang berdempet-dempetan, ikan-ikan berenang kesana-kemari. Banyak juga kami temui bintang laut dan ikan-ikan besar berhamburan. Lau di Nusa Penida ada bagian-bagian yang sangat dangkal meski di tengah, hati-hatilah agar tidak menginjak terumbu karangnya. Ada juga daerah-daerah yang cukup dalam dimana kami bertemu beberapa penyelam. Sayangnya terumbu karang di Nusa Penida banyak yang patah dan tidak terlalu berwarna.</p>
<div id="attachment_480" class="wp-caption aligncenter" style="width: 570px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=480" rel="attachment wp-att-480"><img class="size-large wp-image-480" title="nusapenida1" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/04/nusapenida1-560x420.jpg" alt="" width="560" height="420" /></a><p class="wp-caption-text">Penida after snorkeling. pic by Viar</p></div>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Air laut agak berombak siang itu, anginpun cukup kencang, kami terbawa ombak hingga banjar sebelah<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>saat akhirnya ke tepian lagi. Karena air sudah mulai surut, ladang rumput lautnya terlihat cukup jelas, namun kami tetap pede snorkeling. Kelucuan mulai terjadi saat saya akan mencapai tepian, karena sudah tidak mungkin berenang, sayapun menginjakkan kaki ke pasir dan berjalan menerobos lading rumput laut. Saya menoleh ke belakang untuk melihat dimana kawan-kawan yang lain saat tertangkap oleh mata saya Maha dan kak Intan dengan ban hitam besar dan pelampung warna terang terperangkap jaring pembatas ladang rumput laut. Dan lebih lucu lagi karena di sebelah mereka berjalan santai seorang bapak dengan dahi berkerut dan pandangan nanar ke arah kak Intan dan Maha.</p>
<p class="MsoNormal">Ups, ternyata saya juga terjebak jaring pembatas di depan, sebelum mencapai tepi, harus mencari jalan lain agar bisa lewat. Saya yakin si bapak mengurut dada melihat kelakuan konyol kami tetap snorkeling dengan ban hitam besar, pelampung warna terang, di daerah yang tingginya tidak sampe sebetis!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=478</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penida dan Kegilaan Dewasa Tanggung #BagianTengah</title>
		<link>http://linapw.com/?p=470</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=470#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 05:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=470</guid>
		<description><![CDATA[Setelah kurang lebih 45 menit bergoyang bersama si speedboat di tengah ombak, akhirnya kami mencapai Penida, uyeee! Di dermaga Toya Pakeh kami berlabuh. Saya menghirup udara Penida untuk pertama kalinya. Asin, logis karena kami masih di pesisir. Pemandangan di dermaga tak jauh-jauh dari kegiatan laut. Ada yang masih memarkir kapalnya, ada yang sedang turun dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah kurang lebih 45 menit bergoyang bersama si speedboat di tengah ombak, akhirnya kami mencapai Penida, uyeee! Di dermaga Toya Pakeh kami berlabuh. Saya menghirup udara Penida untuk pertama kalinya. Asin, logis karena kami masih di pesisir.</p>
<p class="MsoNormal">Pemandangan di dermaga tak jauh-jauh dari kegiatan laut. Ada yang masih memarkir kapalnya, ada yang sedang turun dari kapal, beberapa ibu memilah rumput laut hasil panen untuk dijemur dan ada juga yang tersenyum manis ke arah kami – supir supir angkot yang sedia mengantar orang-orang yang baru datang dari seberang. Karena dikatakan penginapan kami dekat, tinggal berjalan 15 menit dari dermaga, jadilah kami acuh tak acuh ke para supir angkot itu. Setelah berjalan ke luar arah jalanan, kamipun menemui keganjilan. Sepi sekali di jalanan, tak banyak rumah penduduk di sekitar dermaga. Entah feeling siapa, akhirnya kami menghentikan sebuah angkot, bertanya harga dan naik langsung menuju penginapan.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan 10 rebu rupiah kamipun menuju penginapan yang dijanjikan, yang ternyata jaraknya 20 menit naek angkot dengan kecepatan cukup bikin gempor kalo disandingkan dengan jalan kaki (whooops). Penginapan kami sebenarnya sudah cukup bagus, namun si ibu tidak terlalu banyak omong dan tampaknya tempat ini jauh dari mana mana sehingga kami menunggu bapak yang akan mengantar kami berkeliling dengan hanya 550 ribu untuk 2 hari demi mencari tempat lain yang dekat dengan tujuan kami. Saya mengatakan hanya karena si supir angkot tadi setelah kami tanyai tarif untuk berkeliling memasang 750 ribu dengan tujuan yang kurang lebih sama dengan si bapak.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=471" rel="attachment wp-att-471"><img class="aligncenter size-full wp-image-471" title="FNPF" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/04/1.jpg" alt="" width="400" height="265" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Si bapak pun datang, pak Panca panggilannya. Kabar buruk karena penginapan di sekitar Crystal Bay – tempat diving populer di Penida sudah penuh. Jadilah kami berpikir di atas mobil yang entah menuju ke mana. Bli Panca &#8211; begitu saya memanggilnya supaya tak terkesan terlalu tua (Aespeh), mengatakan ada penginapan di sebuah yayasan, nampaknya beliau sering ke yayasan ini. Jadilah kami mampir sekejap ke sana. FNPF &#8211; Friends of National Parks Foundation nama yayasan itu, bergerak di bidang pertanaman, dulu bekerja sama dengan yayasan lain yang bergerak di bidang persatwaan seperti burung. Yayasan ini tempatnya luas sekali, hijau dan asri pula, kami melihat beberapa burung Jalak Bali terbang bebas di pekarangannya. Dipelopori oleh pak Bayu yang merasa miris terhadap lingkungan sekitar Penida. Dan syukurnya, di yayasan ini kami bisa menyewa dormnya untuk semalam dengan harga yang cukup murah – 50 ribu perorang.</p>
<p class="MsoNormal">Di yayasan ini kami tak hanya tidur dan menikmati kerindangan pekarangannya, tapi juga belajar sedikit banyak dari cerita Mike – Volunteernya tentang tanaman, kehidupan di Penida dan Jalak Bali. Mari sebut bagian ini Melajah sambil menikmati alam.</p>
<p class="MsoNormal">*tetep bersambung – biar gak capek baca perjalanan yang menuai banyak cerita ini <span style="font-family: Wingdings; mso-ascii-font-family: Cambria; mso-hansi-font-family: Cambria; mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"><span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;">J</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=470</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penida dan Kegilaan Dewasa Tanggung #BagianAwal</title>
		<link>http://linapw.com/?p=466</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=466#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 04:28:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[PING! Sejak menggunakan smartphone (meski kerap kali heng) beberapa informasi sampai di tangan secepat kilat. Namun tenang, yang saya akan bagi di sini bukanlah tentang smartphone yang suka bermasalah namun kisah yang berawal dari sebuah thread di milis dalam email yang hari itu saya terima. Thread itu dengan jumawa mengajak anggota milis Bali Blogger community [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em>PING!</em></p>
<p class="MsoNormal">Sejak menggunakan smartphone (meski kerap kali heng) beberapa informasi sampai di tangan secepat kilat. Namun tenang, yang saya akan bagi di sini bukanlah tentang smartphone yang suka bermasalah namun kisah yang berawal dari sebuah thread di milis dalam email yang hari itu saya terima.</p>
<p class="MsoNormal">Thread itu dengan jumawa mengajak anggota milis <em>Bali Blogger community</em> untuk jalan-jalan dan senang-senang bersama. Tujuannya adalah Nusa Penida – sebuah pulau kecil bagian dari Bali. Penggagasnya siapa lagi kalo bukan om <a href="http://www.twitter.com/viar">Viar</a>. Judulnya saja sudah menggelitik, budget juga cukup masuk akal jadi saya beranikan komen bahwa saya berniat ikut. Thread yang cukup panjang sampai membuat beberapa orang mengancam membuat kategori spam untuk thread inipun berakhir pada kesimpulan (di milis) 12 orang akan ikut dan sisanya gigit jari #eh.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=467" rel="attachment wp-att-467"><img class="aligncenter size-full wp-image-467" title="nusapenida" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/04/nusapenida.jpg" alt="" width="400" height="305" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Hari yang ditentukanpun tiba, tepatnya 7 April, kami berkumpul di tempat yang juga sudah ditentukan – Sanur. Saya menatap wajah-wajah penuh hasrat jalan-jalan di hadapan saya (saya yakin wajah saya pun menunjukkan ekspresi yang tak jauh berbeda). 7 orang yang akan berangkat yaitu saya sendiri, om Viar, mbak <a href="http://www.twitter.com/yunaelis">Yuna</a> dan kekasihnya – <a href="http://www.twitter.com/bayuwiguna">Bayu Wiguna</a>, seorang kawan dari mbak Yuna – Kusuma, <a href="http://www.twitter.com/mahayanthi">Maha</a> dan kak <a href="http://www.twitter.com/intanparamitha">Intan</a>. Karena berkumpul cukup pagi sekitar jam 7 (ada 3 angka 7 dalam alinea ini, fyi <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ), dan speedboat yang kami bayar seharga 65 ribu one way itu akan berangkat jam 8, kami menyempatkan diri makan di warung sekitar speedboat. Nasi dan kopi pun tak selamat dari perut kami.</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa kali curi-curi pandang ke speedboat yang akan kami tumpangi ternyata masih sepi, setelah kami berniat naik ternyata sudah ramai, dan beberapa dari kami tidak mendapatkan tempat duduk. Ada apa gerangan? Ternyata beberapa orang naik duluan tapi belum beli tiket, mereka membayar di atas boat dan hanya 50 rebu pula (apa-apaan inih?). Beberapa kawan akhirnya harus duduk di belakang dan bergoyang kencang saat ombak datang. Sempat garuk-garuk kepala juga melihat realita seperti itu. Tapi karena kami dewasa tanggung yang baik hati dan rajin menabung serta tidak sombong, kami tetap menghadapi perjalanan dengan hasrat masih membara.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">*bersambung – biar gak capek baca perjalanan yang menuai banyak cerita ini <span style="font-family: Wingdings; mso-ascii-font-family: Cambria; mso-hansi-font-family: Cambria; mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"><span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;">J</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=466</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musim Semi Penyair Alliance Français ke 14, Dari Baca Puisi Hingga Pameran Foto dan Lukisan</title>
		<link>http://linapw.com/?p=455</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=455#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 17:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Alliance Français (AF) Denpasar, secara berkala mengadakan musim semi penyair. Kali ini dengan tema “Masa Kanak-kanak”, AF menggandeng Sanggar Anak Tangguh dan komunitas foto lubang jarum – Semut Ireng. “Musim semi penyair memang diadakan AF untuk memberi apresiasi kepada seniman-seniman Bali khususnya,” ujar Ivy salah satu staff AF. Menurutnya lagi konsep ini sudah dimodifikasi sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Alliance Français (AF) Denpasar, secara berkala mengadakan musim semi penyair. Kali ini dengan tema “Masa Kanak-kanak”, AF menggandeng Sanggar Anak Tangguh dan komunitas foto lubang jarum – Semut Ireng.</p>
<div id="attachment_456" class="wp-caption aligncenter" style="width: 570px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=456" rel="attachment wp-att-456"><img class="size-large wp-image-456" title="musim semi penyair" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/musim-semi-penyair-560x376.png" alt="" width="560" height="376" /></a><p class="wp-caption-text">seorang anak sedang menikmati lukisan yang dipamerkan</p></div>
<p class="MsoNormal">“Musim semi penyair memang diadakan AF untuk memberi apresiasi kepada seniman-seniman Bali khususnya,” ujar Ivy salah satu staff AF. Menurutnya lagi konsep ini sudah dimodifikasi sehingga bisa berkolaborasi dengan Sanggar Anak Tangguh untuk memamerkan lukisan buatan anak-anaknya serta komunitas Semut Ireng yang memamerkan hasil karya anggotanya.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Konsepnya adalah menuangkan karya sastra dan seni dalam media dan bentuk lain seperti lukisan serta foto, karena akan sulit bila hanya berupa karya sastra yang melulu Prancis, dimana belum banyak yang mengerti. Pembukaan pameran dilakukan dengan kolaborasi apik dari Cok Sawitri yang membacakan puisi tentang masa kanak-kanak diiringi alunan merdu gitar dari Dadang – Vokalis, Gitaris Dialog Dini Hari. Juga tak kalah dimeriahkan oleh pembacaan puisi dari siswa-siswi sekolah internasional Prancis &#8211; École Internationale Française de Bali (EIFB).</p>
<div id="attachment_457" class="wp-caption aligncenter" style="width: 570px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=457" rel="attachment wp-att-457"><img class="size-large wp-image-457" title="musim semi penyair2" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/musim-semi-penyair2-560x366.png" alt="" width="560" height="366" /></a><p class="wp-caption-text">pameran foto lubang jarum</p></div>
<p class="MsoNormal">Pameran akan berlangsung hingga akhir Maret 2012 bertempat di AF Denpasar, Jl Puputan 1 no 13 A, Renon. Jadi kalau berniat kembali ke masa kanak-kanak atau ingin menikmati serta mengapreasiasi hasil karya anak-anak Sanggar Anak Tangguh dan komunitas Semut Ireng, sila langsung menuju ke AF Denpasar.</p>
<p class="MsoNormal">Uniknya, para pengunjung tak hanya sekedar menikmati hasil karya, namun juga dapat berpartisipasi dalam mural foto. Pengunjung diharapkan membawa foto masa kecilnya untuk dijadikan mural dan juga secara langsung menjadi bagian dari pameran tersebut.</p>
<div id="attachment_458" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=458" rel="attachment wp-att-458"><img class="size-full wp-image-458" title="aff" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/aff.jpg" alt="" width="500" height="689" /></a><p class="wp-caption-text">mural foto-foto masa kecil pengunjung</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=455</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Silent Day, Medokaran Keliling Kota &#8211; Cara Mudah Sejukkan Bumi</title>
		<link>http://linapw.com/?p=432</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=432#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 04:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum lanjut tentang perjalanan di Toraja, pengen share sedikit tentang World Silent Day yak Kalau Bali punya hari raya Nyepi, yang berlangsung pada 23 Maret 2012, kolaborasi Bali untuk perubahan iklim juga memiliki konsep Nyepi mini yang sudah berlangsung kemarin, 21 Maret 2012. Sudah tau kelengkapan ikut WSD kan? Wah belum? hemm&#8230; (sok prihatin, eh). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum lanjut tentang perjalanan di Toraja, pengen share sedikit tentang World Silent Day yak <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal">Kalau Bali punya hari raya Nyepi, yang berlangsung pada 23 Maret 2012, kolaborasi Bali untuk perubahan iklim juga memiliki konsep Nyepi mini yang sudah berlangsung kemarin, 21 Maret 2012.</p>
<div id="attachment_444" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=444" rel="attachment wp-att-444"><img class="size-full wp-image-444" title="wsdakhr" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/wsdakhr1.jpg" alt="" width="500" height="331" /></a><p class="wp-caption-text">World Silent Day</p></div>
<p class="MsoNormal">Sudah tau kelengkapan ikut WSD kan? Wah belum? hemm&#8230; (sok prihatin, eh). Aturannya cukup mudah, hanya mematikan semua alat elektronik, tidak berkendara dan tidak melakukan kegiatan lain yang merusak lingkungan. Dan semua itu dilakukan 4 jam saja, dari pukul 10 pagi hingga 2 siang. Bila jam itu tidak pas dengan jadwal, maka bisa atur jadwal sendiri, yang penting dilakukan selama 4 jam.  Namun tak seperti Nyepi, WSD bisa diisi dengan kreasi masing-masing untuk menjaga lingkungan.</p>
<p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, WSD kali ini juga &#8216;dirayakan&#8217; dengan kegiatan yang cukup unik yaitu medokaran (dokar : kendaraan khas Bali ditarik kuda) berkeliling kota.</p>
<div id="attachment_437" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=437" rel="attachment wp-att-437"><img class="size-full wp-image-437" title="wsd" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/wsd1.jpg" alt="" width="500" height="324" /></a><p class="wp-caption-text">WSD medokaran, pic by linapw </p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Medokaran ini dimulai pukul 10 bertempat di pasar Badung, start langsung ke jalan Melati, melewati Puputan hingga akhirnya kembali lagi ke tempat awal. uniknya di setiap tempat yang kami datangi, kami mencatat beberapa hal atau tempat yang unik untuk dicantumkan dalam peta hijau. Karena cukup pelan dan sangat menyenangkan untuk melayangkan pandang ke sekeliling jalan raya, saya yang sedokar dengan mbak Siska dan mbak Lisa bisa leluasa berkomentar dan bercanda tentang tempat yang kami lewati selama perjalanan.</p>
<div id="attachment_439" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=439" rel="attachment wp-att-439"><img class="size-full wp-image-439" title="wsd3" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/wsd3.jpg" alt="" width="400" height="254" /></a><p class="wp-caption-text">obrolan awal dulu dong yah, biasa <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak heran dalam perjalanan kami menemukan penginapan yang menurut mbak Lisa dari FFTI, disinggahi kawan bule kami untuk menginap meskipun tempatnya jauh dan nyempil di sebuah pasar (Depan pasar Satriya, di pasar yang nyempil di gang itu), penginapan itu cukup laris, ternyata ianya masuk dalam Lonely Planet, kitab perjalanan backpaker dunia. Timbul banyak pertanyaan sih seperti mengapa bisa ada di sana, mengapa beken, dll, namun karena kami berdokar, dan tempat tak memungkinkan berhenti maka kami simpan dulu pertanyaannya <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  .</p>
<div id="attachment_438" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=438" rel="attachment wp-att-438"><img class="size-full wp-image-438" title="wsd4" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/wsd4.jpg" alt="" width="500" height="331" /></a><p class="wp-caption-text">medokaran di tengah kota <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di jalan Melati saat berkeliling dengan kaki, kami melihat beberapa rumah tak berpenghuni dan yang mengejutkan adanya suara ngengat mau nikah (eh ngga ding), suara ngengat yang sangat ramai dari salah satu rumah tak berpenghuni itu. Wajar ya, rumahnya sudah ditutupi semak belukar juga. Di puputan pun tak kalah uniknya, kami masuk ke dalam Museum Bali (cukup lengkap sayang sepi) dan di sana sang ibu penjaga malah curhat mengenai sepinya pengunjung dan bagaimana mahasiswa seharusnya nongkrong di museum (eng ing eng&#8230;). Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata si ibu adalah kakak kelas jauh saya di kampus (abaikan). Selain itu di sana juga kami bertemu dagang lumpia, internet keliling, orang preweding hingga orang pacaran (eh udah lumrah yah? maaf <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=436" rel="attachment wp-att-436"><img class="alignleft size-medium wp-image-436" title="wr pojok kartini" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/wr-pojok1-300x195.jpg" alt="" width="300" height="195" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akhirnya kami lanjut ke pasar Badung mengakhiri perjalanan dengan dokar hari itu. Dilanjut dengan makan nasi campur bersambal dahsyat di warung pojok Kartini (yumm). Dan bersiap menyumbangkan pohon pada adek-adek yang lahir di tanggal 21 Maret dalam tajuk One Tree, One Child.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_440" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://linapw.com/?attachment_id=440" rel="attachment wp-att-440"><img class="size-full wp-image-440" title="wsd6" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/03/wsd6.jpg" alt="" width="500" height="331" /></a><p class="wp-caption-text">mbak Lisa menunggui seorang bapak mengisi biodata untuk kelengkapan peta hijau</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini aksi kami, mana aksimu? *kompor* <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=432</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Sebelum Toraja #2</title>
		<link>http://linapw.com/?p=412</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=412#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 19:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Trans Studio Makassar, Dari Rumah Hantu Sampai Rumah Bolang &#160; Sudah baca perjalanan ke Toraja #1? Yah ini lanjutannya saat kami mendarat dan menjejak Makassar (dalam hal ini saya) untuk pertama kalinya. Pendaratannya juga berjalan cukup lancar dan cepat. Akhirnya kami sampai di Makassar, yeay! Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tampak besar dibandingkan bandara di Bali. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Trans Studio Makassar, Dari Rumah Hantu Sampai Rumah Bolang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah baca perjalanan ke Toraja #1? Yah ini lanjutannya saat kami mendarat dan menjejak Makassar (dalam hal ini saya) untuk pertama kalinya. Pendaratannya juga berjalan cukup lancar dan cepat. Akhirnya kami sampai di Makassar, yeay!</p>
<p>Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tampak besar dibandingkan bandara di Bali. Dengan karpet di tiap lantainya dan kemegahan ruang yang besar bolehlah disandingkan dengan Changi di Singapura (lantainya doang ya tolong dicatet). Tapi memang dari segi tempat dan kenyamanan berbeda cukup jauhlah. Di bandara ternyata kami sudah ditunggu oleh tantenya Beatrice, dan hap, bermobillah kami menuju Makassar.</p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=424" rel="attachment wp-att-424"><img class="alignright size-full wp-image-424" title="trans studio makassar" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/01/transtudiomakas2.jpg" alt="" width="391" height="463" /></a></p>
<p>“Eh, mumpung disini, ke Trans Studio yuk,” celetuk Beatrice di perjalanan. Mengingat bus kami ke Toraja akan berangkat pukul 8 malam nanti, ide untuk menghabiskan siang di Trans Studio cukup membuat kaki bergelinjang saking semangatnya. Maka jadilah kami diantar ke Trans Studio. Perjalanan cukup panjang dan ternyata kami melewati pantai yang lumayan terkenal di Makassar, pantai Losari. Sayang pantainya sudah tidak indah lagi, airnya sudah coklat dan bangunan-bangunan malang melintang di pinggirnya. Malah pantai yang dekat dengan Trans Studio sudah tidak berbentuk lagi.</p>
<p>Kalau menyimak twitt saya dalam perjalanan ke Trans Studio lalu, pantai ini sudah dipermak habis hingga bangunan dapat berdiri di atasnya, tentu dengan biaya yang tak sedikit dan adanya ekosistem yang akhirnya harus dikorbankan. Meski miris, kami pun tetap menuju Trans studio dan siap menjelajahinya.</p>
<p>Ternyata yang turun di Trans hanya kami, sang bibi sudah pulang ke rumahnya begitu saja. Tak masalah, kami muda dan sedang panas untuk bersenang-senang, maka tancap sajalah. Dengan merogoh kocek 100 rebu rupiah perorang kami sudah bisa menikmati berbagai wahana dalam Trans Studio ini. Masuknya menggunakan kartu prabayar yang bisa diisi ulang kalau-kalau dibutuhkan. Total ada 21 permainan yang bisa dinikmati.</p>
<p>Yang terlihat cukup menantang adalah rumah hantu, bagaimana tidak? Dari awal mengantre di luar, kami sudah disuguhi teriakan-teriakan (yang katanya si Kunti lagi beranak #eh), cukup membuat Beatrice merinding dangdut. Begitu masuk rumah hantu, suasana kelam dan keegelapan menyelimuti, kami diberi sepatah dua patah kata untuk membangun ‘kekelaman’ rumah hantu dan dikagetkan dengan beberapa sosok berkerudung hitam yang berlagak menjadi dementor. Beatrice cukup takut hingga melompati pagar karena kaget dan akhirnya batal ikutan kereta untuk berkeliling rumah hantu. Sepertinya akan menarik kan? Saya tetap menaiki kereta itu dan bersiap dikagetkan dengan kejutan-kejutan lain. Namun kekecewaan meliputi wajah saya (sepertinya) karena dalam rumah hantu yang ada ya hanya display hantu-hantu Indonesia, tidak ada pocong yang tiba-tiba ngasi lollipop, atau kunti yang lagi nyabutin pakunya, atau suster ngesot deh yang lagi ngesot. Jadi yah, begitu saja ternyata.</p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=418" rel="attachment wp-att-418"><img class="alignleft size-large wp-image-418" title="skeleton dance in trans studio makassar" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/01/tengkorak1-560x371.jpg" alt="" width="560" height="371" /></a></p>
<p>Wahana lain cukup menarik seperti putar beliung, dimana kita akan diputar-putar, putaaarrr sampai tinggi dan turun lagi, tinggi dan turun lagi, juga ada roller coaster mini yang berakhir di air. Salah satu yang cukup asyik adalah Dragon Tower dimana kita diayun-ayunkan naik turun. Naiknya hingga kita bisa melihat penampakan Trans Studio dari atas dan hati dijamin mencelos saat kita turun dan kaki tak menapak tanah. Lalu ada juga rumah bolang, dimana kita bisa trekking dengan jeep dan main kereta api. Di luar wahana-wahana itu kita juga bisa melihat live music, tarian zombie lengkap dengan Michael Jackson sebagai pimpinan dan bioskop yang menayangkan film-film lokal<a href="http://linapw.com/?attachment_id=421" rel="attachment wp-att-421"><img class="aligncenter size-large wp-image-421" title="trans studio makassar" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_00961-560x560.jpg" alt="" width="560" height="560" /></a></p>
<p>*bersambung <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=412</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Serba Kebetulan ke Tana Toraja #1</title>
		<link>http://linapw.com/?p=403</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=403#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:53:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Tak banyak yang percaya kebetulan yah, saya sendiri sih masih setengah-setengah juga. Tapi perjalanan saya kali ini memang benar-benar bisa dikategorikan kebetulan. Dari awal mula hingga kondisi-kondisi di sekitarnya bisa dibilang serba kebetulan hingga akhirnya menginjakkan kaki di Tana Toraja. Awalnya rencana perjalanan kali ini bukan ke Toraja, tapi ke Menado. Salah seorang kawan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak banyak yang percaya kebetulan yah, saya sendiri sih masih setengah-setengah juga. Tapi perjalanan saya kali ini memang benar-benar bisa dikategorikan kebetulan. Dari awal mula hingga kondisi-kondisi di sekitarnya bisa dibilang serba kebetulan hingga akhirnya menginjakkan kaki di Tana Toraja.</p>
<p>Awalnya rencana perjalanan kali ini bukan ke Toraja, tapi ke Menado. Salah seorang kawan saya yang berasal dari Menado, sebut saja Nike (nama sebenarnya) akan pulang ke Menado demi menghadiri nikahan saudara. Pikir saya daripada tidak kemana-mana apa saya ikut saja, kan lumayan tuh mencoba coba makanan Menado yang katanya memasak apapun. Ide itu disambut baik. Singkat cerita kamipun sudah memegang tiket ke Menado dan dengan sumringah menunggu jadwal keberangkatan (agak lebay sih). Dengan tiket sudah di tangan dan jumlah hari yang cukup lama, rencana berkembang untuk pergi ke Toraja, masih sepulau sih tapi dengan bus bisa dua hari baru nyampe, he. Jadilah keinginan ke Toraja ditangguhkan dulu.</p>
<p>Saya ingin ke Toraja sejak saya tahu ada daerah bernama Toraja dengan sejuta isinya. Memang mulanya hanya penasaran, tapi lama-lama keinginannya memuncak, tapi yah pasrah juga karena jaraknya jauh dari Menado. Beberapa hari sebelum waktu keberangkatan tiba, berita tak enak muncul, keberangkatan kami ke Menado terpaksa batal namun duit tiket dibalikin, entahlah.</p>
<p>Perasaan gamang menggelora, keinginan jalan sudah memuncak. Tiba-tiba teringat seorang kawan yang berasal dari Toraja dan berencana pulang kampung juga. Beatrice (juga nama sebenarnya) yang saya kenal belum lama di sebuah gawean mengabarkan bahwa benar ia akan pulang ke Toraja, dan ia dengan senang hati menampung saya di rumahnya bila saya berencana pergi, ia juga mengiming-imingi saya pergi ke beberapa tempat di Toraja, liurpun menetes, tiket terbeli dan kami berangkat, uyeeeeeeaaahhh <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kurang lebih ada empat kebetulan dalam seperiode ini : keinginan jalan dan kesempatan yg udah ada tp ternyata batal, dapet kawan yang ternyata asalnya dari Toraja, benar-benar niat ke Toraja dan akhirnya kejadian, si kawan ternyata memang ada niat pulang kampung, ini Toraja &#8211; tanah yang dari dulu kuimpikan untuk dijejak, aaah&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"> <a href="http://linapw.com/?attachment_id=404" rel="attachment wp-att-404"><img class="aligncenter size-full wp-image-404" title="di bandara" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2012/01/di-bandara.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>maaf, bukannya narsis tapi inilah penampakan kami saat baru tiba di Makassar <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*bersambung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=403</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa belum menulis?</title>
		<link>http://linapw.com/?p=395</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=395#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 01:33:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[&#8216;Ck, menulis dong,&#8217; ujar Gde Aryantha Soethama pada saya dalam peluncuran kumpulan essainya yang bertajuk &#8216;Jangan Mati di Bali&#8217;. Ujaran dengan nada bercanda tapi serius ini sudah ratusan kali saya dengar sebenarnya. Tiap bertemu, tiap diskusi bahkan tiap bersalaman. Dan tiap kali ujaran itu terucap, deg… hati saya ngilu seperti diiris pisau lalu ditetesi jeruk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=396" rel="attachment wp-att-396"><img class="aligncenter size-full wp-image-396" title="linapw's artwork" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2011/12/lazippybwt-fb.jpg" alt="lazziness = nowhere" width="400" height="390" /></a></p>
<p>&#8216;Ck, menulis dong,&#8217; ujar Gde Aryantha Soethama pada saya dalam peluncuran kumpulan essainya yang bertajuk &#8216;Jangan Mati di Bali&#8217;. Ujaran dengan nada bercanda tapi serius ini sudah ratusan kali saya dengar sebenarnya. Tiap bertemu, tiap diskusi bahkan tiap bersalaman. Dan tiap kali ujaran itu terucap, deg… hati saya ngilu seperti diiris pisau lalu ditetesi jeruk nipis, cesss….</p>
<p>Nah hebohnya tidak hanya pak Aryantha yang suka mengetok kepala saya dengan gada, kak Ananta pun sering melakukannya. Kalau ada kasta dalam jenis-jenis kompor dalam hidup, mereka berdua benar-benar berada di tingkat teratas dengan karakternya masing-masing.</p>
<p>Dengan hantaman-hantaman semacam sindiran dan letupan kompor yang sering saya alami, muncullah pertanyaan dalam kepala, Mengapa belum menulis?</p>
<p>Pertanyaan ini muncul setiap saat setiap waktu. Niat hati ingin menulis, eh kemalasan selalu menghampiri. Memang namanya niat kalo cuma disimpan simpan dalam kantong apalagi dalam hati ya cepet banget menguap. Ini saya alami hampir setiap saat. Masalahnya? Apa lagi kalo bukan menunda. Jadi inget lagunya Nosstress,<em> tunda, tunda tunda hingga kau menuua dan tunggu-tunggu tunggu duluuuu</em>. Sayangnya saya tidak mau menunda, tapi belum juga mulai menulis. Jadi maunya apa siiih???</p>
<p>Mari kita telaah lebih lanjut kawan-kawan yang berbahagia! Biasanya ide itu sudah ada, namun oh namun seperti yang disebutkan di atas, malas itu ada di setiap sela jari dan ujung jempol. Belum lagi yang bercokol dalam pikiran hingga ucapan &#8216;ah sudah sekalimat ini, bolehlah mengaso sebentar&#8217; nah sebentarnya itu bisa seminggu sodara-sodari. Bayangin, jadi cuma sekalimat, eh mengasonya seminggu, apa gak ngesot tuh?</p>
<p>Ketidakproduktifan ini jelas harus dibasmi. Ketokan gada dan sindiran halus hingga bakaran kompor seperti yang saya alami sedikit banyak membakar ingatan akan hobi saya yang sempat terbengkalai, menghantam kemaluan saya, melangkahi kepala saya, menjentikkan kembali semangat saya dan membuat saya bertekad untuk menulis. Menulis lebih banyak lagi, menulis lebih sering lagi, menulis lebih getol lagi. Langkah awal tentu : menulis, langkah kedua dan seterusnya? Menulis lebih banyak lagi.</p>
<p>Karena dalam setiap tulisan seharusnya ada ajakan, maka saya mengajak kawan-kawan untuk mulailah menulis dan lepaskan semua penundaan serta kemalasan di bahu itu. Karena ternyata saya menyadari dengan agak deg-degan bahwa kemalasan itu tak akan membawamu kemanapun. Selamat menulis (#selfmention).</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=395</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Hari Untuk Selamanya</title>
		<link>http://linapw.com/?p=378</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=378#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 07:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Catatan singkat Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (PJMTD) Kanaka Siang itu matahari tampak riang menyinari bumi. Tak ayal keringat mengucur deras di dahi beberapa orang termasuk dahi saya. Selain matahari yang melemparkan sinar nakal dan bara panasnya ke bumi, persiapan yang menumpuk juga membuat hari itu seakan basah keringat. Ya, kami sedang mempersiapkan Pelatihan Jurnalistik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan singkat Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (PJMTD) Kanaka</p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=379" rel="attachment wp-att-379"><img class="aligncenter size-full wp-image-379" title="peserta sedang serius mengikuti pelatihan jurnalistik | photo by Reza Wiradharma" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2011/10/1.jpg" alt="" width="500" height="335" /></a></p>
<p>Siang itu matahari tampak riang menyinari bumi. Tak ayal keringat mengucur deras di dahi beberapa orang termasuk dahi saya. Selain matahari yang melemparkan sinar nakal dan bara panasnya ke bumi, persiapan yang menumpuk juga membuat hari itu seakan basah keringat. Ya, kami sedang mempersiapkan Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (PJMTD) pers Kanaka kedua dalam tahun 2011.</p>
<p>Pelatihan kedua dalam setahun ini diadakan selama tiga hari dua malam mulai tanggal 14 hingga 16 Oktober lalu. Diikuti oleh 13 orang mahasiswa baru dan 3 orang stok lama yang dahulu belum sempat ikut pelatihan <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Seperti biasa, tentu berbagai pemateri disiapkan dalam ajang tahunan yang membukakan gerbang jurnalistik bagi anak-anak ‘baru’ pers Kanaka. Selain bertujuan memberikan pelatihan, kegiatan ini pun murni sebuah ajang mendekatkan diri satu sama lain kepada sesama anggota Kanaka, baik baru ataupun lama.</p>
<p>Jarum jam sudah menunjukkan angka 3 sore hari Jumat, hari keberangkatan. Hidung-hidung sudah mulai berdatangan, ada yang dengan riang dan suka cita, ada juga yang kebingungan, bingung mencari kawan lainnya. Sementara pemangku dan seksi rohani sudah mulai memanjatkan doa-doa kelancaran, anggota belum juga terkumpul lengkap. Akhirnya setelah semua berjalan sesuai separuh rencana, berangkatlah kami ke TKP dan pembukaan dimulai. Sederhana memang, hanya berisi laporan ketua panitia, sambutan panjang dan lebar dari Pembina (saya ingat beliau menangis terharu di pembukaan PJM perdana atas bangkitnya Kanaka Juni lalu) dan harapan-harapan Pembantu Dekan 3.</p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=380" rel="attachment wp-att-380"><img class="aligncenter size-full wp-image-380" title="suasana pelatihan jurnalistik Kanaka | photo by linapw" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2011/10/6.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Hari pertama tidaklah terlalu padat, selain pembukaan hanya dua materi yang disampaikan : berita langsung dan sejarah pers mahasiswa. Sedangkan hari kedua terbilang cukup padat. Dari pagi para peserta diberi materi ilustrasi dan layout oleh <a href="http://www.gung.ws/" target="_blank">Gung WS</a>, dilanjutkan dengan materi berita kisah dari ibu rumah tangga yang selalu semangat meski tengah mengandung – <a href="http://luhde.nawalapatra.com/" target="_blank">Luh De Suryani</a>. Foto jurnalistik juga merupakan unsur penting dalam sebuah liputan sehingga kami mengundang <a href="http://www.jpchristo.com/" target="_blank">JP Christo</a> untuk berbagi ilmu. Praktek langsung dilakukan di Pasar Badung. Para peserta dipersilakan mencari tema sendiri sesuai kehendak hati untuk penugasan berita kisah dan foto jurnalistik.</p>
<p>“Saya sih, meliput anak-anak tukang suun ini. Menarik dan penuh warna,” ujar Ryan Dwi, salah satu peserta pelatihan. Ia juga mengatakan banyaknya hal yang bisa diangkat di pasar Badung. Sebagai informasi saja, pasar Badung merupakan pasar terbesar dan paling ‘hidup’ di Denpasar. Hidup dalam artian tak pernah berhenti melakukan aktifitasnya. Dari subuh hingga subuh lagi. Banyak hal yang bisa diliput. Mulai dari pedagang canang (sesajen), hingga pedagang baju bekas (dan duren tentunya).</p>
<p>Kami berpencar dan bertemu lagi di waktu dan tempat yang sudah ditentukan. Meski cukup padat, saat pulang kami sempat membeli Duren sebagai bekal berkegiatan malam nanti <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=381" rel="attachment wp-att-381"><img class="aligncenter size-full wp-image-381" title="pelatihan blog | photo by Reza Wiradharma" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2011/10/4.jpg" alt="" width="400" height="268" /></a></p>
<p>Malampun tiba, kami melanjutkan hari dengan menonton film yang akan diresensi. Sesuai kesepakatan, film horror memenangkan jajak pendapat dan berhak diputar selama kurang lebih dua jam. Sambutannya cukup meriah meski beberapa anak terlihat menutup matanya. Cukup menghibur meski berakhir agak ‘tengal’. Sesi pertama selesai, sesi kedua dilanjutkan meski tak lebih dari 4 orang peserta yang masih bertahan.</p>
<p>Pagi terakhir diisi dengan materi esai oleh <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1083504250&amp;sk=info" target="_blank">Ananta Wijaya</a>, yang juga mendorong saya dan kawan-kawan membuat sebuah buku kumpulan tulisan (*uhuuuk) dengan semangat menggebu.  Setelah itu resensi yang dibawakan pemred Kanaka dan diakhiri dengan pelatihan blog oleh om <a href="http://www.saylows.com/" target="_blank">Saylow</a>.</p>
<p>Kini seluruh peserta sudah mempunyai ilmu dasar jurnalistik dan juga punya blog, bonusnya ya punya teman-teman baru yang (semoga) bertahan selamanya, yeaaay <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://linapw.com/?attachment_id=382" rel="attachment wp-att-382"><img class="aligncenter size-full wp-image-382" title="anak anak Kanaka | photo by Reza Wiradharma" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2011/10/3.jpg" alt="" width="450" height="269" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=378</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mi Obras de Arte #Couple #02</title>
		<link>http://linapw.com/?p=357</link>
		<comments>http://linapw.com/?p=357#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 15:15:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>linapw</dc:creator>
				<category><![CDATA[ArtWork]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://linapw.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Mbak Ibeth dan Pak Bono]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-358" href="http://linapw.com/?attachment_id=358"><img class="aligncenter size-medium wp-image-358" title="artwork" src="http://linapw.com/wp-content/uploads/2011/09/mbak-ibeth-bono1-231x300.jpg" alt="" width="231" height="300" /></a>Mbak Ibeth dan Pak Bono <img src='http://linapw.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://linapw.com/?feed=rss2&#038;p=357</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

