• About Me
  • Contact Me
23 Feb 2013

Skripsi, Benarkah Menyeramkan?

Author: linapw / Category: Bali, Opinion, Social

Keringat dingin menetes sebutir demi sebutir, telapak tangan mulai basah dan lengket, satu periode wisuda sudah terlewati, sedang periode depan jaraknya cuma tinggal sejengkal, aku menelan ludah tanda pasrah….

Itu cuma secuplik kisah kasih di kampus kuning tempatku menuntut bangku, eh ilmu. Lebih lanjutnya sih di postingan semi curhat tentang perjalanan menuntaskan skripsiku ini.

Bosen yah mosting cerita-cerita berat, kali ini aku mau cerita hal temeh remeh yang sebenarnya ga penting-penting banget untuk diceritain. Awalnya sih kupikir ngga penting, tapi begitu merasakannya, mitos ini menjadi penting, terutama untuk mahasiswa semester akhir (bahasa halus untuk dua digit) yang udah musti nyelesein skripsi.

Ga usah dijelasin lagi kan skripsi itu apa? Kita udah pada tahu kalo mau lulus dengan bergelar sarjana, yah skripsi atau tugas akhir menjadi penting (sangat penting)! – akhirnya dijelasin juga deh. Banyak orang yang menakut-nakuti mahasiswa tentang skripsi. Terutama kakak kelas yang ga lulus-lulus (biar ada temen kali yah :p). Katanya mengerjakan skripsi itu lebih susah daripada bikin candi Prambanan yang nyaris selese dalam waktu semalem (ini apaan sih). Aku sebagai orang yang optimis tentu ga percaya, come on, bikin skripsi aja loh, anggap aja bikin paper panjang, cuma minimal 50 halaman doang. Tapi kayaknya aku kualat.

Dua periode wisuda akhirnya lewat dengan gemilang lantaran terlalu menggampangkan skripsi. Kirain cuma kayak bikin kerjaan biasa yang dikebut semalem beres. Weleh, jangan harap deh, minimal 3 malem baru beres, itu belum kalo pembimbing sok sibuk alias susah ditemui (kok jadi ikut nakut-nakutin). Tapi tenaaang! tulisan ini ga berniat sama sekali untuk bikin nyali mahasiswa yang sedang nyari-nyari bahan skripsi ciut, tulisan ini bertujuan untuk membesarkan hati dan mengobarkan semangat, cuma yah latar belakangnya isi curhat dulu. hehe.

Ternyata bikin skripsi itu emang harus dimulai dari niat. Niat lulus ngga? Kalo udah niat lulus, niat nyelesein skripsi ga? Kalo niat lulus doang tapi nyelesein skripsinya setengah-setengah, ya wassalam aja, mending ngemil kacang di pojokan. Hal ini, aku alami sendiri. Lulus sih niat, segede arca lagi, cuma bikin skripsinya itu enjot-enjotan. Sekarang liat temen yudisium, kebakar pengen lulus, semangat bikin skripsi, udah kelar dua halaman, eh ditinggal maen lagi, ya kapan selesainya.

Banyak godaan yang akan datang pada saat kita bikin skripsi. WAJAR! Kayak kalo kita nahan ketawa, eh semua hal malah jadi lucu. Saat aku bikin skripsi kemarin, tiba-tiba banyak kerjaan datang, honornya pun sangat menggiurkan, karena diambil jadinya wisuda mundur dulu (meski dapet jalan-jalan sih, he). Sampe ada seorang kawan yang rada males (sama) marah-marahin aku, katanya biar wisuda bareng, dan bener deh dia wisuda duluan, beta sampai tercengang!

Padahal, waktu skripsi mulai dikerjain, ga lebih dari seminggu tuh kelar sampe bab IV,  cuma emang dasar males, pembimbing ga dikejar-kejar, ya lama lagi terdiam di kampus. Akhirnya dengan niat membara, skripsi kelar, kejar pembimbing. Kejar sampe dapet, terorin mereka satu-satu, sampe bosen liat muka kita. Hitunganku, setelah skripsi kelar dan bimbingan rajin, ga sampe sebulan, aku ulangi, GA SAMPE SEBULAN, itu skripsi diACC!

Setelah ACC semua lancar, ujian pun tidak sengeri yang dibayangkan, malah terkesan santai. Para penguji cuma ingin tahu apa kita emang ngerjain itu skripsi sendiri dan siapkanlah snack yang mumpuni dan cukup manusiawi karena itu mengalihkan sejenak pikiran para penguji dari melibas kita saat ujian.

Jadi niatkanlah dirimu wahai anak-anak muda harapan bangsa (ini apaaaa lagi). Kalo kita lulus cepet, ga cuma umur yang kita hemat, tapi juga duit dan kesenangan. Kobarkan niat dan tekad! Uhuuuy *lagi nunggu wisuda doang* :D

 

Comments (9)  :  Add Comment
18 Nov 2012

Para Pelopor Perubahan Dari Gunungkidul

Author: linapw / Category: ArtWork, General, jalan-jalan, Jelajah Gizi, Nutrisi Bangsa, Opinion, Reviews, Social, Travelling

Perubahan bisa dilakukan dimanapun, dan kapanpun.

Demikian juga yang terjadi di Gunungkidul. Setelah berOoooh dan Aaaaaah dengan kuliner dan alamnya dalam Jelajah Gizi, kami masih juga diberi kejutan tentang sosok-sosok pemberi inspirasi di Gunungkidul.

Udara siang itu cukup panas, membuat gerah, beberapa peserta mengipasi lehernya dengan kertas seadanya. Kami berada di desa Sambirejo.

Desa ini terkenal sulit air. Seperti yang dituturkan sebagian masyarakatnya, untuk mencari air bersih mereka harus menempuh jarak sejauh 2km dengan medan yang berat pula. Sebenarnya masyarakat desa cukup terbiasa jalan jauh, namun sangat merepotkan untuk mengambil air dengan jarak sejauh itu dan kebutuhannya cukup banyak. Dulu ada sumber mata air dekat desa, namun semenjak gempa sumber mata air jadi kering dan tak bersahabat. Desa dilanda kekeringan tanpa air yang dapat dimanfaatkan dengan segera. Namun segalanya berubah saat bidan Liestyani Ritawati memulai programnya untuk membuat sumur bor demi ketersediaan air bersih di desa ini.

pompa air di rumah bidan Lies

“Untuk ibu hamil, air bersih sangat penting, tidak bisa bergantung pada sumber air yang jauh, telat sedikit ibu anak bisa jadi korban,” ujar bidan Lies, sapaan akrabnya, dengan prihatin. Iapun menuturkan kekurangan air bersih di desa Sambirejo bisa menyebabkan terjadinya gizi buruk, diare, semua serba kotor, kebersihan dan kesehatan tidak terjaga.

Berangkat dari itulah bidan Lies didukung suaminya berusaha membuat sumur bor di daerah Sambirejo ini, membuatnya juga tidak mudah. Untuk sebuah sumur bor saja bidan Lies harus mengebor hingga kedalaman 80m baru keluar air. Kini warga Sambirejo mencontohnya untuk membuat juga sumur bor demi air bersih yang sangat penting untuk hidup. Berkat itu pula bidan Lies mendapatkan penghargaan sebagai bidan dengan program terbaik Srikandi award 2009, sebuah apresiasi bagi bidan-bidan pemberi inspirasi.

Di desa Bobung, ada pula pemberi inspirasinya, seorang pembuat topeng bernama Sujiman. Membuat topeng dari tahun ’73, bermula dari belajar-belajar sendiri, lalu mendapat kesempatan ikut pelatihan. Kini Sujiman menjadi pemasok topeng batik dan kerajinan di beberapa toko kesenian termasuk toko yang ia jalankan dirumahnya. Ia juga kerap mengirim karyanya keluar negri. Semangat Sujiman untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal berangkat dari pengalamannya menjadi perantau.

“Saya tau susahnya jadi perantau. Makanya saya mau buka lapangan kerja, supaya masyarakat tak usah pergi jauh-jauh, biar membangun desa saja,” ujar Sujiman sambil tersenyum. Awalnya usaha yang ia jalankan kecil-kecilan saja, hingga kini ia memiliki 70 karyawan dengan produksi sekitar 3000 pieces dan omset puluhan juta perbulan.

membatik. salah satu proses pembuatan topeng

Sujiman dan dua topeng klasik kesayangannya

Sujiman dapat dikatakan pelopor pembuatan topeng batik di sini. Ia masih mengerjakan topeng-topeng pesanan pembeli hingga kini, terutama topeng klasik, karena memang nilai jualnya beda. Pemilik koperasi Karya Manunggal ini menyatakan pernah ada topengnya yang ditawar hingga 15 juta rupiah.

“Topeng klasik, saya suka jadi saya gak lepas, paling kasi pinjam anak ISI saja untuk pentas,” jelasnya sambil tersenyum. Di desa Bobung kini hampir semua keluarga memiliki pengrajin topeng, jelas sebagian merupakan andil Sujiman sebagai pelopornya.

Tentu masih banyak lagi pelopor perubahan di tempat-tempat lain. Namun bidan Lies dan Sujiman merupakan pelopor yang berjasa besar dalam pembangunan di Gunungkidul. Semoga nantinya muncul lagi pelopor-pelopor perubahan di masa depan. Mungkin kamu salah satunya?

foto dan teks: linapw

 

 

 

 

 

 

Comment (1)  :  Add Comment
« Prev
  • Archives

    • March 2013
    • February 2013
    • November 2012
    • October 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • October 2011
    • September 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • November 2010
    • October 2010
    • August 2010
    • April 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • August 2009
    • August 2008
  • Categories

    • ArtWork
    • Bali
    • BBC
    • Clinton Lake
    • CSIFestive2012
    • Environment
    • General
    • jalan-jalan
    • Jelajah Gizi
    • Kansas
    • kuliner
    • Lawrence
    • Nutrisi Bangsa
    • Opinion
    • parodi
    • Reviews
    • scholarship
    • Social
    • Travelling

©linapw.com 2011 | hand-sketch by: linapw | Design by: rahaji.com

Follow My Twitter Be My Friend Be My Friend