• About Me
  • Contact Me
18 Nov 2012

Para Pelopor Perubahan Dari Gunungkidul

Author: linapw / Category: ArtWork, General, jalan-jalan, Jelajah Gizi, Nutrisi Bangsa, Opinion, Reviews, Social, Travelling

Perubahan bisa dilakukan dimanapun, dan kapanpun.

Demikian juga yang terjadi di Gunungkidul. Setelah berOoooh dan Aaaaaah dengan kuliner dan alamnya dalam Jelajah Gizi, kami masih juga diberi kejutan tentang sosok-sosok pemberi inspirasi di Gunungkidul.

Udara siang itu cukup panas, membuat gerah, beberapa peserta mengipasi lehernya dengan kertas seadanya. Kami berada di desa Sambirejo.

Desa ini terkenal sulit air. Seperti yang dituturkan sebagian masyarakatnya, untuk mencari air bersih mereka harus menempuh jarak sejauh 2km dengan medan yang berat pula. Sebenarnya masyarakat desa cukup terbiasa jalan jauh, namun sangat merepotkan untuk mengambil air dengan jarak sejauh itu dan kebutuhannya cukup banyak. Dulu ada sumber mata air dekat desa, namun semenjak gempa sumber mata air jadi kering dan tak bersahabat. Desa dilanda kekeringan tanpa air yang dapat dimanfaatkan dengan segera. Namun segalanya berubah saat bidan Liestyani Ritawati memulai programnya untuk membuat sumur bor demi ketersediaan air bersih di desa ini.

pompa air di rumah bidan Lies

“Untuk ibu hamil, air bersih sangat penting, tidak bisa bergantung pada sumber air yang jauh, telat sedikit ibu anak bisa jadi korban,” ujar bidan Lies, sapaan akrabnya, dengan prihatin. Iapun menuturkan kekurangan air bersih di desa Sambirejo bisa menyebabkan terjadinya gizi buruk, diare, semua serba kotor, kebersihan dan kesehatan tidak terjaga.

Berangkat dari itulah bidan Lies didukung suaminya berusaha membuat sumur bor di daerah Sambirejo ini, membuatnya juga tidak mudah. Untuk sebuah sumur bor saja bidan Lies harus mengebor hingga kedalaman 80m baru keluar air. Kini warga Sambirejo mencontohnya untuk membuat juga sumur bor demi air bersih yang sangat penting untuk hidup. Berkat itu pula bidan Lies mendapatkan penghargaan sebagai bidan dengan program terbaik Srikandi award 2009, sebuah apresiasi bagi bidan-bidan pemberi inspirasi.

Di desa Bobung, ada pula pemberi inspirasinya, seorang pembuat topeng bernama Sujiman. Membuat topeng dari tahun ’73, bermula dari belajar-belajar sendiri, lalu mendapat kesempatan ikut pelatihan. Kini Sujiman menjadi pemasok topeng batik dan kerajinan di beberapa toko kesenian termasuk toko yang ia jalankan dirumahnya. Ia juga kerap mengirim karyanya keluar negri. Semangat Sujiman untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal berangkat dari pengalamannya menjadi perantau.

“Saya tau susahnya jadi perantau. Makanya saya mau buka lapangan kerja, supaya masyarakat tak usah pergi jauh-jauh, biar membangun desa saja,” ujar Sujiman sambil tersenyum. Awalnya usaha yang ia jalankan kecil-kecilan saja, hingga kini ia memiliki 70 karyawan dengan produksi sekitar 3000 pieces dan omset puluhan juta perbulan.

membatik. salah satu proses pembuatan topeng

Sujiman dan dua topeng klasik kesayangannya

Sujiman dapat dikatakan pelopor pembuatan topeng batik di sini. Ia masih mengerjakan topeng-topeng pesanan pembeli hingga kini, terutama topeng klasik, karena memang nilai jualnya beda. Pemilik koperasi Karya Manunggal ini menyatakan pernah ada topengnya yang ditawar hingga 15 juta rupiah.

“Topeng klasik, saya suka jadi saya gak lepas, paling kasi pinjam anak ISI saja untuk pentas,” jelasnya sambil tersenyum. Di desa Bobung kini hampir semua keluarga memiliki pengrajin topeng, jelas sebagian merupakan andil Sujiman sebagai pelopornya.

Tentu masih banyak lagi pelopor perubahan di tempat-tempat lain. Namun bidan Lies dan Sujiman merupakan pelopor yang berjasa besar dalam pembangunan di Gunungkidul. Semoga nantinya muncul lagi pelopor-pelopor perubahan di masa depan. Mungkin kamu salah satunya?

foto dan teks: linapw

 

 

 

 

 

 

Comment (1)  :  Add Comment
18 Nov 2012

Catatan Kuliner : Mengenali Kearifan Lokal Gunungkidul

Author: linapw / Category: General, jalan-jalan, Jelajah Gizi, kuliner, Nutrisi Bangsa, Opinion, Reviews, Social, Travelling

Kearifan lokal bisa diresapi darimana saja. Termasuk kulinernya.

Bus yang kami tumpangin berbelok belok sigap di jalan raya yang kondisinya cukup menantang. Sesekali berdebum ringan saat melewati jalanan yang tidak datar. Hempasan-hempasan kecil saat berkelok beberapa kali kami lalui. Semua itu tak menyurutkan ketertarikan kami untuk mencoba berbagai kuliner khas Gunungkidul dalam Jelajah Gizi lalu.

“Kuliner-kuliner ini merupakan kearifan lokal Gunungkidul,” tutur Prof. Sulaeman sambil menunjukkan Belalang goreng pada peserta Jelajah Gizi. Kontan beberapa peserta mengerang dengan paras tak bisa digambarkan, campuran antara jijik dan geli. Tapi itu hanya awalnya. Begitu Prof. Sulaeman menjelaskan kandungan gizi yang dimiliki Belalang goreng, semua peserta sontak mencoba hidangan pengganti protein khas Gunungkidul ini.

Belalang Gunungkidul. foto : linapw

Belalang tercatat memiliki protein yang ternyata tidak kalah dengan protein daging Sapi. Kulitnya yang setelah diolah menjadi sangat renyah mirip dengan kulit udang yang memiliki laktosan dan baik untuk pencernaan. Memakannya juga tidak terlalu mengerikan bahkan rasanya enak. Olahan Belalang di Gunungkidul cukup sederhana, hanya diberi bumbu bawang putih dan digoreng, ada juga yang dibacem kalau mau lebih manis.

Selain Belalang, di desa Sambirejo dimana air cukup sulit didapat, kita bisa mencoba kuliner unik olahan Ubi Ungu. Mengapa unik? Ibu-ibu PKK desa ini dengan alasan menjaga kesehatan anak mereka membuat es krim dari Ubi Ungu. Es krim dengan warna menarik ini selain penuh serat, juga mengandung anti oksidan, protein dan prebiotik penting yang baik untuk pencernaan. Campuran santannya sendiri sangat berguna untuk mengubah beta karoten menjadi vitamin A tinggi yang nantinya dimanfaatkan tubuh sebagai energi. Bila kita berniat membuatnya sendiri di rumah, pastikan ubi benar-benar matang agar tidak timbul gas-gas tidak diinginkan.

Thiwul dan Ghatot. foto : linapw

Dua makanan itu saja sudah membuat kami, para peserta berdecak kagum dengan beragamnya makanan di Gunungkidul. Namun ternyata selain dua makanan itu, ada lagi makanan yang tak kalah lokal bila bicara kearifan di Gunungkidul : Thiwul dan Ghatot. Kedua makanan dari Singkong ini sangat populer di Gunungkidul. Tak perlu heran, karena memang keduanya merupakan makanan penyambung hidup masyarakat Gunungkidul saat kekurangan bahan makanan melanda.

dapur tradisional Yu Tum. foto : linapw

Karena bahannya dari Singkong yang telah difermentasi, kandungan karbohidrat dalam makanan ini selain membantu mengenyangkan, juga memenuhi kebutuhan karbohidrat tubuh. Tentu energi menjadi hasil akhir yang menyehatkan. Uniknya di dapur Yu Tum, tempat kami mencoba Thiwul dan Ghatot, penggunaan tungku diakui pemiliknya sangat berpengaruh dalam rasa makanan dan sudah dipraktekkan sejak tahun 1985. Karena itulah hasilnya tetap sama dan selalu enak. Penyajiannya di taburi kelapa parut saja. Thiwul memiliki rasa serupa kue Putu namun dengan adonan lebih kasar, sedangkan Ghatot terasa lebih manis karena gula yang digunakan lebih banyak. Kini Thiwul dan Ghatot menjadi oleh-oleh khas Gunungkidul.

Kearifan-kearifan lokal Gunungkidul dari segi kuliner ternyata sangatlah beragam. Semuanya dimulai dari mencari alternatif pengganjal perut lapar yang ternyata malah menarik dan bertahan hingga kini. nyam nyam….

Comments (0)  :  Add Comment
« Prev
  • Archives

    • March 2013
    • February 2013
    • November 2012
    • October 2012
    • June 2012
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • October 2011
    • September 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • November 2010
    • October 2010
    • August 2010
    • April 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • August 2009
    • August 2008
  • Categories

    • ArtWork
    • Bali
    • BBC
    • Clinton Lake
    • CSIFestive2012
    • Environment
    • General
    • jalan-jalan
    • Jelajah Gizi
    • Kansas
    • kuliner
    • Lawrence
    • Nutrisi Bangsa
    • Opinion
    • parodi
    • Reviews
    • scholarship
    • Social
    • Travelling

©linapw.com 2011 | hand-sketch by: linapw | Design by: rahaji.com

Follow My Twitter Be My Friend Be My Friend